Pengusaha desak pemerintah percepat perbaikan infrastruktur
Kamis, 20 Februari 2014 - 17:07 WIB
Pengusaha desak pemerintah percepat perbaikan infrastruktur
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Jateng) harus memperhatikan kondisi infrastruktur menuju pelabuhan Tanjung Emas Semarang terutama jalan jika ingin mendukung dan memperlancar perdagangan dan industri di Jateng.
Wakil Ketua Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Jateng Rio Rianto mengungkapkan, kondisi jalan rusak yang terjadi saat ini perlu segera dibenahi. Jika kondisi jalan rusak dibiarkan akan sangat mempengaruhi kondisi perekonomian, karena akan menghambat sektor
usaha.
"Banjir sempat melumpuhkan aktivitas pergiriman barang produksi dan bahan baku tekstil ke sejumlah industri. Kemudian, pasca banjir jalan rusak sepanjang pantura ini menghambat," katanya, Kamis (20/2/2014).
Dijelaskan Rio, kondisi jalan rusak tidak hanya membuat distribusi barang mengalami keterlambatan, namun membuat cost pengiriman barang dari lokasi industri menuju terminal peti kemas di pelabuhan Tanjung Emas, meningkat 3 persen dari sebelumnya yang hanya mencapai 7 persen. "Sekarang ini biaya logistrik pengiriman membengkak menjadi 10 persen," tuturnya.
Kondisi ini, kata dia, perlu adanya campur tangan pemerintah. Pemerintah harus segera melakukan percepatan perbaikan infrastruktur.
Dengan keterlambatan pengiriman ke pelabuhan, kondisi ini kemudian mempengaruhi proses bongkar muat di terminal peti kemas.
Ketua DPD Indonesian National Shipowner Assosiation (Insa) Jateng M Ridwan mengatakan, jika YOR (yard occupancy ration) penuh akhirnya
bongkar muat jadi lambat, normalnya 60-65 persen per hari waktu banjir sampai 90 persen dan itu memperlambat bongkar muat.
"Keterlambatan bongkar muat peti kemas terganggu jika barang tidak tepat waktu akibat kemacetan atau ketidaklancaran angkutan," katanya.
General Manager Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS) Iwan Sabatini menambahkan, proses keterlambatan itu berdampak pula pada pengeluaran barang yang juga akan telat. Kendati demikian TPKS tetap menarget pertumbuhan arus bongkar muat 8 persen tahun ini mencapai 520.000 Teus.
"Kita telah menerima keluhan gangguan infrastruktur dari kalangan pengusaha terkait kondisi infrastruktur menuju area penumpukan barang. Banyak truk terlambat akibat truk pengangkut terjebak di jalan macet atau jalan yang rusak," tambahnya.
Wakil Ketua Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Jateng Rio Rianto mengungkapkan, kondisi jalan rusak yang terjadi saat ini perlu segera dibenahi. Jika kondisi jalan rusak dibiarkan akan sangat mempengaruhi kondisi perekonomian, karena akan menghambat sektor
usaha.
"Banjir sempat melumpuhkan aktivitas pergiriman barang produksi dan bahan baku tekstil ke sejumlah industri. Kemudian, pasca banjir jalan rusak sepanjang pantura ini menghambat," katanya, Kamis (20/2/2014).
Dijelaskan Rio, kondisi jalan rusak tidak hanya membuat distribusi barang mengalami keterlambatan, namun membuat cost pengiriman barang dari lokasi industri menuju terminal peti kemas di pelabuhan Tanjung Emas, meningkat 3 persen dari sebelumnya yang hanya mencapai 7 persen. "Sekarang ini biaya logistrik pengiriman membengkak menjadi 10 persen," tuturnya.
Kondisi ini, kata dia, perlu adanya campur tangan pemerintah. Pemerintah harus segera melakukan percepatan perbaikan infrastruktur.
Dengan keterlambatan pengiriman ke pelabuhan, kondisi ini kemudian mempengaruhi proses bongkar muat di terminal peti kemas.
Ketua DPD Indonesian National Shipowner Assosiation (Insa) Jateng M Ridwan mengatakan, jika YOR (yard occupancy ration) penuh akhirnya
bongkar muat jadi lambat, normalnya 60-65 persen per hari waktu banjir sampai 90 persen dan itu memperlambat bongkar muat.
"Keterlambatan bongkar muat peti kemas terganggu jika barang tidak tepat waktu akibat kemacetan atau ketidaklancaran angkutan," katanya.
General Manager Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS) Iwan Sabatini menambahkan, proses keterlambatan itu berdampak pula pada pengeluaran barang yang juga akan telat. Kendati demikian TPKS tetap menarget pertumbuhan arus bongkar muat 8 persen tahun ini mencapai 520.000 Teus.
"Kita telah menerima keluhan gangguan infrastruktur dari kalangan pengusaha terkait kondisi infrastruktur menuju area penumpukan barang. Banyak truk terlambat akibat truk pengangkut terjebak di jalan macet atau jalan yang rusak," tambahnya.
(gpr)
Lihat Juga :