PLTU Pangkalan Susu mendesak dioperasikan
Kamis, 20 Maret 2014 - 10:29 WIB
PLTU Pangkalan Susu mendesak dioperasikan
A
A
A
Sindonews.com - PT PLN (Persero) menyatakan penuntasan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Pangkalan Susu berkapasitas 2x200 megawatt (MW) di Langkat, Sumatera Utara masih terganjal pembebasan lahan. Padahal PLTU Pangkalan Susu ditargetkan beroperasi pada Juni 2013.
Direktur Utama PLN Nur Pamudji menuturkan, masih ada satu tower transmisi yang belum selesai dikerjakan karena masih terkendala lahan, sehingga belum bisa dioperasikan. Proyek PLTU Pangkalan Susu pada dasarnya telah selesai dibangun, namun untuk komisioning atau pengujian karena proyek transmisi 275 kilovolt (kV) dari Pangkalan Susu hingga gardu induk (GI) Binjai masih terkendala lahan.
“Kami berharap kendala lahan ini bisa segera selesai karena listriknya sangat ditunggu masyarakat Sumatera Utara,” kata dia, di Jakarta, Kamis (20/3/2014).
Sekretaris Perusahaan PLN Adi Supriono mengatakan, PLN sudah melakukan berbagai upaya baik melalui pemerintah daerah, kepolisian hingga pengadilan. Namun pada kenyataannya hingga kini belum menuai hasil.
Menurut Adi, masyarakat setempat memintah harga jual tanah yang terlalu tinggi di atas harga yang telah ditetapkan, meskipun perseroan sebenarnya bisa membayar. Namun PLN tidak akan melakukannya karena khawatir disalahkan lantaran melanggar aturan.
“PLN bisa membayar, tapi kita takut nanti disalahkan dan melanggar aturan,” ungkapnya.
Selain PLTU Pangkalan Susu, lanjut Adi, PLTU Nagan Raya di Nangroe Aceh Darussalam hingga kini juga belum dapat dioperasikan. PLTU yang ditargetkan beroperasi Oktober 2012 masih dalam proses perbaikan. Menurut dia, kontraktor yang menangani proyek ini sudah dikenakan sanksi berupa pinalti didasarkan pada aspek bisnis.
“Kalau terlambat dikenakan pinalti maksimum 10 persen. Misalnya satu pembangkit itu nilainya Rp2 triliun, maka pinalti 10 persen dari nilai tersebut,” kata dia.
Tidak hanya itu, PLTU lain di Sumatera yang masih terhambat karena proses perbaikan dan modifikasi adalah PLTU Labuan Angin. Keterlambatan operasional sejumlah PLTU telah menyebabkan defisit listrik di Pulau Sumatera, khsusunya di Sumatera Utara.
Krisis listrik yang sudah terjadi sejak tahun lalu ini masih belum dapat teratasi hingga sekarang. Kandati PLN juga telah berusaha menyewa genset untuk mencegah krisis listrik di Sumatera.
Kepala Divisi Gas dan BBM PLN Suryadi Mardjoeki mengatakan, overhaul dilakukan secara menyeluruh terhadap PLTU Labuhan Angin dan PLTGU Belawan.
“Sedangkan untuk konsumsi listrik di Sumatera Utara naik 14 persen per tahun seiring peningkatan pemasangan baru dan pertumbuhan ekonomi masyarakat,” pungkasnya.
Direktur Utama PLN Nur Pamudji menuturkan, masih ada satu tower transmisi yang belum selesai dikerjakan karena masih terkendala lahan, sehingga belum bisa dioperasikan. Proyek PLTU Pangkalan Susu pada dasarnya telah selesai dibangun, namun untuk komisioning atau pengujian karena proyek transmisi 275 kilovolt (kV) dari Pangkalan Susu hingga gardu induk (GI) Binjai masih terkendala lahan.
“Kami berharap kendala lahan ini bisa segera selesai karena listriknya sangat ditunggu masyarakat Sumatera Utara,” kata dia, di Jakarta, Kamis (20/3/2014).
Sekretaris Perusahaan PLN Adi Supriono mengatakan, PLN sudah melakukan berbagai upaya baik melalui pemerintah daerah, kepolisian hingga pengadilan. Namun pada kenyataannya hingga kini belum menuai hasil.
Menurut Adi, masyarakat setempat memintah harga jual tanah yang terlalu tinggi di atas harga yang telah ditetapkan, meskipun perseroan sebenarnya bisa membayar. Namun PLN tidak akan melakukannya karena khawatir disalahkan lantaran melanggar aturan.
“PLN bisa membayar, tapi kita takut nanti disalahkan dan melanggar aturan,” ungkapnya.
Selain PLTU Pangkalan Susu, lanjut Adi, PLTU Nagan Raya di Nangroe Aceh Darussalam hingga kini juga belum dapat dioperasikan. PLTU yang ditargetkan beroperasi Oktober 2012 masih dalam proses perbaikan. Menurut dia, kontraktor yang menangani proyek ini sudah dikenakan sanksi berupa pinalti didasarkan pada aspek bisnis.
“Kalau terlambat dikenakan pinalti maksimum 10 persen. Misalnya satu pembangkit itu nilainya Rp2 triliun, maka pinalti 10 persen dari nilai tersebut,” kata dia.
Tidak hanya itu, PLTU lain di Sumatera yang masih terhambat karena proses perbaikan dan modifikasi adalah PLTU Labuan Angin. Keterlambatan operasional sejumlah PLTU telah menyebabkan defisit listrik di Pulau Sumatera, khsusunya di Sumatera Utara.
Krisis listrik yang sudah terjadi sejak tahun lalu ini masih belum dapat teratasi hingga sekarang. Kandati PLN juga telah berusaha menyewa genset untuk mencegah krisis listrik di Sumatera.
Kepala Divisi Gas dan BBM PLN Suryadi Mardjoeki mengatakan, overhaul dilakukan secara menyeluruh terhadap PLTU Labuhan Angin dan PLTGU Belawan.
“Sedangkan untuk konsumsi listrik di Sumatera Utara naik 14 persen per tahun seiring peningkatan pemasangan baru dan pertumbuhan ekonomi masyarakat,” pungkasnya.
(rna)
Lihat Juga :