Entrepreneur 3%, peringkat ekonomi RI bisa ke-5 dunia
Sabtu, 22 Maret 2014 - 17:06 WIB
Entrepreneur 3%, peringkat ekonomi RI bisa ke-5 dunia
A
A
A
Sindonews.com - Pentingnya menumbuhkan entrepreneur, menurut calon wakil presiden (cawapres) Partai Hanura Hary Tanoesoedibjo (HT) untuk menjadikan lompatan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Bahkan, dia mengatakan, jika jumlah entrepreneur di Indonesia bisa 3 persen dari jumlah penduduk maka Indonesia bisa menjadi negara dengan peringkat pertumbuhan ekonominya nomor lima di dunia.
"Pertumbuhan ekonomi kita per tahun 5,6 persen. Untuk menggenjot itu, salah satunya adalah mencetak entrepreneur-entrepreneur baru," kata HT saat Talk Shoe bersama Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh di Mimi Scholl Surabaya, Sabtu (22/3/2014).
Produk domestik bruto (PDB) Indonesia saat ini Rp900 milliar per tahun. Dia menghitung, dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 8 persen maka Indonesia bisa menjadi nomor lima di dunia. Untuk level dunia, memang Amerika memiliki PDB paling tinggi sekitar USD11 trilliun, China USD9 trilliun, Jepang USD6 trilliun dan Prancis USD2,6 trilliun.
"Dari pertumbuhan ekonomi 5,6 persen menuju 8 persen, Indonesia bisa lima besar dunia dan menggeser Perancis," ujar dia.
HT menuturkan, pola perekonomian Indonesia saat ini telah mengalami pergeseran. Setidaknya, 60 persen ditopang dari sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Kondisi ini tentunya membuka peluang besar menjadi entrepreneur.
"Negara-negara di Eropa pertumbuhan ekonominya jika dirata-rata 0,2 persen. Sedangkan di Asia cukup tinggi. Kita bisa mengejar kembali kejayaan Indonesia ketika pertumbuhan ekonominya mengalahkan Singapura dan Malaysia pada era tahun 80-an," ujar dia.
Indonesia menjadi sangat potensial karena ditopang jumlah penduduk yang cukup besar. Selain itu, Indonesia masih menjadi pasar potensial bagi negara-negara lain. Kesempatan itu, menurut HT, harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.
"Dulu di abad 20 adalah masa keemasan dunia barat, yakni Eropa, Amerika dan Afrika. Nah, di Abad 21 ini adalah masa keemasan dunia bagian timur, yakni Asia. Saya juga memprediksi perekonomian China bakal mengalahkan Amerika. Indonesia yang bagian dari Asia harus tumbuh di masa keemasan ini," tutur dia.
Bahkan, dia mengatakan, jika jumlah entrepreneur di Indonesia bisa 3 persen dari jumlah penduduk maka Indonesia bisa menjadi negara dengan peringkat pertumbuhan ekonominya nomor lima di dunia.
"Pertumbuhan ekonomi kita per tahun 5,6 persen. Untuk menggenjot itu, salah satunya adalah mencetak entrepreneur-entrepreneur baru," kata HT saat Talk Shoe bersama Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh di Mimi Scholl Surabaya, Sabtu (22/3/2014).
Produk domestik bruto (PDB) Indonesia saat ini Rp900 milliar per tahun. Dia menghitung, dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 8 persen maka Indonesia bisa menjadi nomor lima di dunia. Untuk level dunia, memang Amerika memiliki PDB paling tinggi sekitar USD11 trilliun, China USD9 trilliun, Jepang USD6 trilliun dan Prancis USD2,6 trilliun.
"Dari pertumbuhan ekonomi 5,6 persen menuju 8 persen, Indonesia bisa lima besar dunia dan menggeser Perancis," ujar dia.
HT menuturkan, pola perekonomian Indonesia saat ini telah mengalami pergeseran. Setidaknya, 60 persen ditopang dari sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Kondisi ini tentunya membuka peluang besar menjadi entrepreneur.
"Negara-negara di Eropa pertumbuhan ekonominya jika dirata-rata 0,2 persen. Sedangkan di Asia cukup tinggi. Kita bisa mengejar kembali kejayaan Indonesia ketika pertumbuhan ekonominya mengalahkan Singapura dan Malaysia pada era tahun 80-an," ujar dia.
Indonesia menjadi sangat potensial karena ditopang jumlah penduduk yang cukup besar. Selain itu, Indonesia masih menjadi pasar potensial bagi negara-negara lain. Kesempatan itu, menurut HT, harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.
"Dulu di abad 20 adalah masa keemasan dunia barat, yakni Eropa, Amerika dan Afrika. Nah, di Abad 21 ini adalah masa keemasan dunia bagian timur, yakni Asia. Saya juga memprediksi perekonomian China bakal mengalahkan Amerika. Indonesia yang bagian dari Asia harus tumbuh di masa keemasan ini," tutur dia.
(rna)
Lihat Juga :