Kadin dan KKP budidayakan ikan bawal bintang di Kepri
Kamis, 27 Maret 2014 - 15:55 WIB
Kadin dan KKP budidayakan ikan bawal bintang di Kepri
A
A
A
Sindonews.com - Koperasi Loka Mina Bahari di bawah naungan Balai Budidaya Laut Batam melakukan kerja sama dengan Kadin Provinsi Kepulauan Riau untuk pemanfaatan keramba jaring apung (KJA) dalam mengembangkan pembesaran ikan bawal bintang.
Melalui kerja sama ini, Koperasi Loka Mina Bahari menjadi badan usaha yang diberikan rekomendasi untuk mengelola kegiatan usaha budidaya pembesaran ikan laut di keramba jaring apung Balai Budidaya Laut Batam.
Kadin Indonesia melalui Bidang Kelautan dan Perikanan membangun 120 lobang jaring apung untuk pembudidayaan ikan bawal bintang di Batam menyusul telah ditandatanganinya perjanjian kerja sama dengan Kementerian Kelautan dan perikanan (KKP) pada Desember 2013.
Menurut Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Kelautan dan Perikanan Yugi Prayanto, sejak dua tahun lalu sudah menjajaki kerja sama dengan KKP untuk membangun bisnis budidaya laut di Provinsi Kepri.
“Pada tahap awal, Kadin Indonesia meminta Kadin Kepri mengoperasikan 120 lobang keramba jaring apung dengan mengucurkan investasi sekitar Rp1 miliar. Pada saat ini, yang sudah tersedia sebanyak 70 lobang keramba jaring apung,” kata dia dalam rilisnya, Kamis (27/3/2014).
Yugi menjelaskan, Kadin Indonesia memiliki berbagai pertimbangan matang sebelum memutuskan memilih investasi budidaya ikan di Kota Batam bekerja sama dengan KKP. Secara umum, kata dia, Provinsi Kepri memiliki prospek bisnis budidaya ikan laut yang cerah.
Data KKP menyebutkan, dari 3,8 juta hektar (ha) luas indikatif potensi lahan pengembangan budidaya laut nasional, baru 1,9 persen yang sudah dimanfaatkan untuk budidaya. Sedangkan menurut data Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepri, dari 455.779,9 ha luas perairan untuk pengembangan budidaya ikan laut di provinsi itu, baru termanfaatkan kurang dari 10 persen atau hanya seluas 42.788 ha.
Dan luas perairan untuk pengembangan budidaya ikan laut yang sudah termanfaatkan di Provinsi Kepulauan Riau, baru di kawasan perairan pesisir di bawah 4 mil laut. Kepri juga memiliki Balai Budidaya Laut (BBL) Batam yang mempunyai berbagai sarana dan infrastruktur yang memadai, sehingga dipilih menjadi lokasi pembudi dayaan ikan dalam kerja sama tersebut.
Kemudian berbagai jenis ikan dari hasil budidaya laut memiliki nilai jual tinggi dan menjadi komoditi ekspor karena banyak diminati pasar luar negeri, seperti ikan kerapu, bawal bintang dan kakap putih.
Dalam kerja sama ini, Kadin memilih membudi daya ikan bawal bintang, meskipun tidak tertutup kemungkinan menggarap jenis ikan lainnya melihat dari permintaan pasar. Kadin meyakini investasi yang dikeluarkan dalam kerja sama budidaya ikan bawal bintang dengan KKP akan kembali dalam jangka waktu satu tahun.
“Optimisme itu muncul karena saat ini Kadin sudah memiliki pasar luar negeri untuk memasok ikan dari hasil budidaya tersebut, khususnya ke Singapura,” papar dia.
Menurut data Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepri, Singapura membutuhkan 3-5 ton pasokan ikan laut setiap hari. Bahkan salah satu perusahaan pengolahan ikan (coldstorage dan pillet) dari negara itu dalam waktu dekat akan membangun instalasi baru di Kota Batam untuk ikut mendukung pemasaran ikan hasil budidaya tersebut.
Sesuai jadwal, kerja sama budidaya ini sudah mulai berjalan dan bila berjalan lancar, ini merupakan kerja sama kedua yang dijalin antara Kadin Indonesia dengan KKP setelah sebelumnya sukses menggarap budidaya udang di Kabupaten Karawang yang menelan investasi sebesar Rp5 miliar.
Melalui kerja sama ini, Koperasi Loka Mina Bahari menjadi badan usaha yang diberikan rekomendasi untuk mengelola kegiatan usaha budidaya pembesaran ikan laut di keramba jaring apung Balai Budidaya Laut Batam.
Kadin Indonesia melalui Bidang Kelautan dan Perikanan membangun 120 lobang jaring apung untuk pembudidayaan ikan bawal bintang di Batam menyusul telah ditandatanganinya perjanjian kerja sama dengan Kementerian Kelautan dan perikanan (KKP) pada Desember 2013.
Menurut Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Kelautan dan Perikanan Yugi Prayanto, sejak dua tahun lalu sudah menjajaki kerja sama dengan KKP untuk membangun bisnis budidaya laut di Provinsi Kepri.
“Pada tahap awal, Kadin Indonesia meminta Kadin Kepri mengoperasikan 120 lobang keramba jaring apung dengan mengucurkan investasi sekitar Rp1 miliar. Pada saat ini, yang sudah tersedia sebanyak 70 lobang keramba jaring apung,” kata dia dalam rilisnya, Kamis (27/3/2014).
Yugi menjelaskan, Kadin Indonesia memiliki berbagai pertimbangan matang sebelum memutuskan memilih investasi budidaya ikan di Kota Batam bekerja sama dengan KKP. Secara umum, kata dia, Provinsi Kepri memiliki prospek bisnis budidaya ikan laut yang cerah.
Data KKP menyebutkan, dari 3,8 juta hektar (ha) luas indikatif potensi lahan pengembangan budidaya laut nasional, baru 1,9 persen yang sudah dimanfaatkan untuk budidaya. Sedangkan menurut data Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepri, dari 455.779,9 ha luas perairan untuk pengembangan budidaya ikan laut di provinsi itu, baru termanfaatkan kurang dari 10 persen atau hanya seluas 42.788 ha.
Dan luas perairan untuk pengembangan budidaya ikan laut yang sudah termanfaatkan di Provinsi Kepulauan Riau, baru di kawasan perairan pesisir di bawah 4 mil laut. Kepri juga memiliki Balai Budidaya Laut (BBL) Batam yang mempunyai berbagai sarana dan infrastruktur yang memadai, sehingga dipilih menjadi lokasi pembudi dayaan ikan dalam kerja sama tersebut.
Kemudian berbagai jenis ikan dari hasil budidaya laut memiliki nilai jual tinggi dan menjadi komoditi ekspor karena banyak diminati pasar luar negeri, seperti ikan kerapu, bawal bintang dan kakap putih.
Dalam kerja sama ini, Kadin memilih membudi daya ikan bawal bintang, meskipun tidak tertutup kemungkinan menggarap jenis ikan lainnya melihat dari permintaan pasar. Kadin meyakini investasi yang dikeluarkan dalam kerja sama budidaya ikan bawal bintang dengan KKP akan kembali dalam jangka waktu satu tahun.
“Optimisme itu muncul karena saat ini Kadin sudah memiliki pasar luar negeri untuk memasok ikan dari hasil budidaya tersebut, khususnya ke Singapura,” papar dia.
Menurut data Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepri, Singapura membutuhkan 3-5 ton pasokan ikan laut setiap hari. Bahkan salah satu perusahaan pengolahan ikan (coldstorage dan pillet) dari negara itu dalam waktu dekat akan membangun instalasi baru di Kota Batam untuk ikut mendukung pemasaran ikan hasil budidaya tersebut.
Sesuai jadwal, kerja sama budidaya ini sudah mulai berjalan dan bila berjalan lancar, ini merupakan kerja sama kedua yang dijalin antara Kadin Indonesia dengan KKP setelah sebelumnya sukses menggarap budidaya udang di Kabupaten Karawang yang menelan investasi sebesar Rp5 miliar.
(rna)
Lihat Juga :