Inflasi Mei Diperkirakan pada kisaran 0,05%-0,17%
Senin, 02 Juni 2014 - 10:43 WIB
Inflasi Mei Diperkirakan pada kisaran 0,05%-0,17%
A
A
A
JAKARTA - Kepala riset trust securities Reza Priyambada mengungkapkan, dalam dua bulan terakhir angka inflasi tunjukkan penurunan seiring turunnya sejumlah harga barang, terutama April yang terjadi deflasi.
Tetapi, apakah tren penurunan inflasi ini masih terjadi di Mei? Belum tentu. Menurutnya, dalam laju historisnya, laju inflasi Mei cenderung meningkat.
“Dalam tiga tahun terakhir, hanya tahun 2012 yang tunjukkan angka penurunan inflasi dan tidak sampai terjadi deflasi,” kata Reza dalam risetnya, Senin (2/6/2014).
Dia mengungkap, dalam kondisi di lapangan pun mulai terihat adanya kenaikan harga terutama harga sembako di beberapa pasar, sehingga dapat pengaruhi laju inflasi nantinya.
Dia mengatakan, kelompok bahan makanan kemungkinan akan kembali sumbang kenaikan inflasi diikuti kenaikan pada kelompok makanan jadi, minuman rokok, dan tembakau. “Untuk inflasi Mei, estimasi kami berada pada kisaran inflasi 0,05%-0,17%,” ujar dia.
Sementara dari neraca perdagangan, masih variatifnya laju harga komoditas selama Mei kemungkinan kurang dapat membuat nilai volume ekspor dari sisi komoditas dapat naik signifikan sehingga akan berpengaruh pada belum akan signifikannya nilai ekspor.
Di sisi lain, masih tingginya permintaan membuat nilai impor dapat terjadi peningkatan atau dapat dikatakan bahwa growth nilai impor kmungkinan dapat melebihi growth nilai ekspornya.
“Kami perkirakan laju nilai perdagangan berada minimal dalam kisaran surplus tipis USD244 juta dan juga berpeluang terjadinya defisit minimal USD46 juta,” paparnya.
Beberapa golongan barang yang berpotensi teradi kenaikan impor antara lain mesin dan peralatan listrik, serta plastik dan barang dari plastik.
Dari sisi ekspor, meski migas berpeluang lanjutkan kenaikannya namun, growth-nya juga berpotensi lebih rendah dari nilai impornya. Untuk barang-barang non migas yang berpotensi menopang ekspor adalah bahan bakar mineral dan minyak hewan.
Tetapi, apakah tren penurunan inflasi ini masih terjadi di Mei? Belum tentu. Menurutnya, dalam laju historisnya, laju inflasi Mei cenderung meningkat.
“Dalam tiga tahun terakhir, hanya tahun 2012 yang tunjukkan angka penurunan inflasi dan tidak sampai terjadi deflasi,” kata Reza dalam risetnya, Senin (2/6/2014).
Dia mengungkap, dalam kondisi di lapangan pun mulai terihat adanya kenaikan harga terutama harga sembako di beberapa pasar, sehingga dapat pengaruhi laju inflasi nantinya.
Dia mengatakan, kelompok bahan makanan kemungkinan akan kembali sumbang kenaikan inflasi diikuti kenaikan pada kelompok makanan jadi, minuman rokok, dan tembakau. “Untuk inflasi Mei, estimasi kami berada pada kisaran inflasi 0,05%-0,17%,” ujar dia.
Sementara dari neraca perdagangan, masih variatifnya laju harga komoditas selama Mei kemungkinan kurang dapat membuat nilai volume ekspor dari sisi komoditas dapat naik signifikan sehingga akan berpengaruh pada belum akan signifikannya nilai ekspor.
Di sisi lain, masih tingginya permintaan membuat nilai impor dapat terjadi peningkatan atau dapat dikatakan bahwa growth nilai impor kmungkinan dapat melebihi growth nilai ekspornya.
“Kami perkirakan laju nilai perdagangan berada minimal dalam kisaran surplus tipis USD244 juta dan juga berpeluang terjadinya defisit minimal USD46 juta,” paparnya.
Beberapa golongan barang yang berpotensi teradi kenaikan impor antara lain mesin dan peralatan listrik, serta plastik dan barang dari plastik.
Dari sisi ekspor, meski migas berpeluang lanjutkan kenaikannya namun, growth-nya juga berpotensi lebih rendah dari nilai impornya. Untuk barang-barang non migas yang berpotensi menopang ekspor adalah bahan bakar mineral dan minyak hewan.
(gpr)
Lihat Juga :