Penyebab Samsung Enggan Investasi di RI Versi Apindo
Jum'at, 06 Juni 2014 - 18:34 WIB
Penyebab Samsung Enggan Investasi di RI Versi Apindo
A
A
A
JAKARTA - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi meyakini Samsung tidak berminat berinvestasi di Indonesia. Karena membangun pabrik di Indonesia lebih mahal ketimbang di Vietnam.
"Ya dia (Samsung) bangun di sini terlalu mahal. Lebih murah mereka bangun di Vietnam. Karena infrastruktur dan listrik kita enggak cukup. Itu yang bikin mahal," ujar dia di Graha CIMB Niaga, Jakarta, Jumat (6/6/2014).
Selain itu, produktivitas buruh Indonesia terbilang rendah. "Di Vietnam buruh kerja 48 jam seminggu. Kalau kita 40 jam seminggu. Buruh di Vietnam ada THR (Tunjangan Hari Raya) juga. Semua itung-itungan itu yang buat mereka enggak tertarik bangun pabrik di Indonesia," jelasnya.
Meski pangsa pasar di Indonesia baik, lanjut Sofjan, hal ini tidak berpengaruh terhadap keputusan Samsung. Mereka justru lebih memilih membangun pabrik di Vietnam, lalu mengimpornya ke Indonesia.
Karena, jauh lebih murah sebesar 15% daripada bangun pabrik di Indonesia. "Mereka sudah bangun pabrik di Vietnam. Cuma tinggal ekspansinya saja. Kalau kita perbaiki ini di pemerintah baru, pasti bisa tapi produk lain. Kita perlu perbaiki infrastruktur dan listriknya dulu‬," pungkas Sofjan.
"Ya dia (Samsung) bangun di sini terlalu mahal. Lebih murah mereka bangun di Vietnam. Karena infrastruktur dan listrik kita enggak cukup. Itu yang bikin mahal," ujar dia di Graha CIMB Niaga, Jakarta, Jumat (6/6/2014).
Selain itu, produktivitas buruh Indonesia terbilang rendah. "Di Vietnam buruh kerja 48 jam seminggu. Kalau kita 40 jam seminggu. Buruh di Vietnam ada THR (Tunjangan Hari Raya) juga. Semua itung-itungan itu yang buat mereka enggak tertarik bangun pabrik di Indonesia," jelasnya.
Meski pangsa pasar di Indonesia baik, lanjut Sofjan, hal ini tidak berpengaruh terhadap keputusan Samsung. Mereka justru lebih memilih membangun pabrik di Vietnam, lalu mengimpornya ke Indonesia.
Karena, jauh lebih murah sebesar 15% daripada bangun pabrik di Indonesia. "Mereka sudah bangun pabrik di Vietnam. Cuma tinggal ekspansinya saja. Kalau kita perbaiki ini di pemerintah baru, pasti bisa tapi produk lain. Kita perlu perbaiki infrastruktur dan listriknya dulu‬," pungkas Sofjan.
(izz)
Lihat Juga :