TDL Naik Akibat Pemerintah Tak Tegas terhadap Harga BBM
Sabtu, 07 Juni 2014 - 14:05 WIB
TDL Naik Akibat Pemerintah Tak Tegas terhadap Harga BBM
A
A
A
JAKARTA - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengungkapkan, rencana pemerintah yang kembali menaikkan tarif dasar listrik (TDL) bagi pelanggan industri dan rumah tangga akibat dari ketidaktegasan pemerintah soal kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
"Pemerintah naikin TDL gara-gara harga minyak. Mereka enggak mau naikin BBM. Jadi, apapun dinaikin untuk nutup subsidi BBM yang hampir Rp300 triliun," ujarnya di Graha CIMB Niaga, baru-baru ini.
Menurut Sofjan, keputusan terbaik adalah pemerintah menaikkan harga BBM. Namun, hingga kini tidak ada yang berani mengambil keputusan mengenai subsidi BBM yang telah menyedot cukup banyak anggaran negara.
"Kalau menurut saya sih lebih baik naikin BBM saja, mau enggak mau. Tapi enggak ada yang berani ambil keputusan itu karena sedikit lagi mau Pemilu. Ini jadi PR (Pekerjaan Rumah) bagi pemerintah baru. Mesti dikomunikasikan sama pemerintah baru. Enggak ada jalan keluar lainnya, kalau enggak naik nanti pengangguran kita bertambah," jelasnya.
Dia berharap, kenaikan TDL tidak diberlakukan untuk semua industri. Sebab, industri di Indonesia masih belum kompetitif. Jika pemerintah tetap akan menaikkan TDL, seharusnya kenaikan dilakukan bertahap 2-3 tahun.
"Jangan sekaligus, karena nanti kita enggak bisa berkompetisi lagi. Saat ini kan impor masih lebih banyak dari ekspor. Kalau mereka naikkan lagi TDL, ya tambah kalahlah barang dalam negeri kita," terangnya.
Terlebih, usaha kecil menengah (UKM) yang ada di Indonesia akan dinaikkan sebesar 30%. Sofjan menyarankan, sebaiknya kenaikan tidak lebih 20%. "Kalau dia potong TDL rata-rata 30%, pertumbuhan ekonomi kita di bawah 5%," tandasnya.
"Pemerintah naikin TDL gara-gara harga minyak. Mereka enggak mau naikin BBM. Jadi, apapun dinaikin untuk nutup subsidi BBM yang hampir Rp300 triliun," ujarnya di Graha CIMB Niaga, baru-baru ini.
Menurut Sofjan, keputusan terbaik adalah pemerintah menaikkan harga BBM. Namun, hingga kini tidak ada yang berani mengambil keputusan mengenai subsidi BBM yang telah menyedot cukup banyak anggaran negara.
"Kalau menurut saya sih lebih baik naikin BBM saja, mau enggak mau. Tapi enggak ada yang berani ambil keputusan itu karena sedikit lagi mau Pemilu. Ini jadi PR (Pekerjaan Rumah) bagi pemerintah baru. Mesti dikomunikasikan sama pemerintah baru. Enggak ada jalan keluar lainnya, kalau enggak naik nanti pengangguran kita bertambah," jelasnya.
Dia berharap, kenaikan TDL tidak diberlakukan untuk semua industri. Sebab, industri di Indonesia masih belum kompetitif. Jika pemerintah tetap akan menaikkan TDL, seharusnya kenaikan dilakukan bertahap 2-3 tahun.
"Jangan sekaligus, karena nanti kita enggak bisa berkompetisi lagi. Saat ini kan impor masih lebih banyak dari ekspor. Kalau mereka naikkan lagi TDL, ya tambah kalahlah barang dalam negeri kita," terangnya.
Terlebih, usaha kecil menengah (UKM) yang ada di Indonesia akan dinaikkan sebesar 30%. Sofjan menyarankan, sebaiknya kenaikan tidak lebih 20%. "Kalau dia potong TDL rata-rata 30%, pertumbuhan ekonomi kita di bawah 5%," tandasnya.
(dmd)
Lihat Juga :