Konsumsi Elpiji 2014 Diproyeksi Naik 9,1%
Senin, 16 Juni 2014 - 16:24 WIB
Konsumsi Elpiji 2014 Diproyeksi Naik 9,1%
A
A
A
JAKARTA - PT Pertamina (Persero) memproyeksikan konsumsi elpiji tahun 2014 akan mencapai 6,1 juta ton atau meningkat 9,1% dibandingkan dengan realiasasi tahun lalu sebanyak 5,59 juta ton.
Senior Vice President Non Fuel Marketing Pertamina Taryono mengatakan, sejak diterapkannya program konversi minyak tanah ke elpiji 3 kilogram (kg) hingga 2013, pertumbuhan konsumsi elpiji mencapai rata-rata 24% per tahun.
Konsumsi elpiji 3 kg naik dari semula 0,55 juta ton pada 2008 menjadi 4,39 juta ton pada 2013. Di sisi lain, penjualan elpji non-subsidi relatif stabil di level sekitar 1,1-1,2 juta ton per tahun.
“Dengan melihat tren yang ada, kami perkirakan hingga akhir tahun konsumsi elpiji, khususnya yang dipasok oleh Pertamina akan mencapai sekitar 6,1 juta ton, yang terdiri dari 5,01 juta ton elpiji 3 kg dan elpiji non-subsidi mencapai 1,09 juta ton,” terang Taryono di Jakarta, Senin (16/6/2014).
Menurut dia, peningkatan konsumsi elpiji 3 kg bersubsidi tahun ini relatif tinggi sejalan dengan target untuk menuntaskan program konversi minyak tanah ke elpiji 3 kg. Jika target tersebut tercapai, maka 58 juta paket perdana elpiji 3 kg telah terdistribusi ke masyarakat sejak program dimulai hingga akhir 2014.
Namun, dia menjelaskan, Pertamina memproyeksikan konsumsi elpiji akan terus menunjukkan tren peningkatan rata-rata sekitar 6% per tahun. Selain karena dipicu oleh peningkatan jumlah konsumsi elpiji 3 kg oleh masyarakat seiring dengan pertumbuhan jumlah keluarga, Pertamina juga menargetkan peningkatan penjualan elpiji non-subsidi dari semula 1,1 juta ton menjadi sekitar 1,3-1,4 juta ton dalam 5 tahun mendatang.
Hal ini sejalan dengan pertumbuhan konsumsi di sektor komersial dan industri, serta sektor rumah tangga kelas menengah-atas yang menjadi target pasar elpiji non subsidi. "Khususnya, jika harga elpiji 12 kg non-subsidi telah mencapai harga keekonomian," katanya.
Dalam memastikan penyaluran elpiji 3 kg bersubsidi tepat sasaran, Pertamina berinisiatif menjalankan sistem monitoring elpiji 3 kg berbasis teknologi informasi yang dikenal dengan sebutan SIMOL3K. Dengan SIMOL3K, Pertamina dapat memantau pendistribusian Elpiji 3kg hingga ke tingkat pangkalan.
“Dengan sistem ini, maka pangkalan akan dibekali dengan log book yang berisi identitas konsumen dan volume pembeliannya. Mereka akan mencatat secara manual untuk kemudian di-input ke dalam sistem SIMOL3K," jelasnya.
Dengan sistem ini, tingkat kebutuhan dan konsumsi elpiji 3 kg di suatu wilayah dapat tercatat dan dimonitor dengan baik. "Kondisi ini tentunya akan sangat bermanfaat dalam perencanaan dan pengawasan, sehingga penggunaan elpiji 3 kg akan semakin tepat sasaran," imbuh dia.
SIMOL3K, lanjut Taryono, telah berjalan secara bertahap sejak akhir Desember 2013 dan ditargetkan go live resmi secara nasional pada Agustus 2014. Dia juga menyatakan bahwa jika SIMOL3K dan sistem distribusi tertutup yang akan dijalankan oleh pemerintah bisa berjalan dalam waktu yang sama, maka hal itu akan benar-benar memastikan distribusi elpiji 3 kg lebih terkendali dan tepat sasaran.
Senior Vice President Non Fuel Marketing Pertamina Taryono mengatakan, sejak diterapkannya program konversi minyak tanah ke elpiji 3 kilogram (kg) hingga 2013, pertumbuhan konsumsi elpiji mencapai rata-rata 24% per tahun.
Konsumsi elpiji 3 kg naik dari semula 0,55 juta ton pada 2008 menjadi 4,39 juta ton pada 2013. Di sisi lain, penjualan elpji non-subsidi relatif stabil di level sekitar 1,1-1,2 juta ton per tahun.
“Dengan melihat tren yang ada, kami perkirakan hingga akhir tahun konsumsi elpiji, khususnya yang dipasok oleh Pertamina akan mencapai sekitar 6,1 juta ton, yang terdiri dari 5,01 juta ton elpiji 3 kg dan elpiji non-subsidi mencapai 1,09 juta ton,” terang Taryono di Jakarta, Senin (16/6/2014).
Menurut dia, peningkatan konsumsi elpiji 3 kg bersubsidi tahun ini relatif tinggi sejalan dengan target untuk menuntaskan program konversi minyak tanah ke elpiji 3 kg. Jika target tersebut tercapai, maka 58 juta paket perdana elpiji 3 kg telah terdistribusi ke masyarakat sejak program dimulai hingga akhir 2014.
Namun, dia menjelaskan, Pertamina memproyeksikan konsumsi elpiji akan terus menunjukkan tren peningkatan rata-rata sekitar 6% per tahun. Selain karena dipicu oleh peningkatan jumlah konsumsi elpiji 3 kg oleh masyarakat seiring dengan pertumbuhan jumlah keluarga, Pertamina juga menargetkan peningkatan penjualan elpiji non-subsidi dari semula 1,1 juta ton menjadi sekitar 1,3-1,4 juta ton dalam 5 tahun mendatang.
Hal ini sejalan dengan pertumbuhan konsumsi di sektor komersial dan industri, serta sektor rumah tangga kelas menengah-atas yang menjadi target pasar elpiji non subsidi. "Khususnya, jika harga elpiji 12 kg non-subsidi telah mencapai harga keekonomian," katanya.
Dalam memastikan penyaluran elpiji 3 kg bersubsidi tepat sasaran, Pertamina berinisiatif menjalankan sistem monitoring elpiji 3 kg berbasis teknologi informasi yang dikenal dengan sebutan SIMOL3K. Dengan SIMOL3K, Pertamina dapat memantau pendistribusian Elpiji 3kg hingga ke tingkat pangkalan.
“Dengan sistem ini, maka pangkalan akan dibekali dengan log book yang berisi identitas konsumen dan volume pembeliannya. Mereka akan mencatat secara manual untuk kemudian di-input ke dalam sistem SIMOL3K," jelasnya.
Dengan sistem ini, tingkat kebutuhan dan konsumsi elpiji 3 kg di suatu wilayah dapat tercatat dan dimonitor dengan baik. "Kondisi ini tentunya akan sangat bermanfaat dalam perencanaan dan pengawasan, sehingga penggunaan elpiji 3 kg akan semakin tepat sasaran," imbuh dia.
SIMOL3K, lanjut Taryono, telah berjalan secara bertahap sejak akhir Desember 2013 dan ditargetkan go live resmi secara nasional pada Agustus 2014. Dia juga menyatakan bahwa jika SIMOL3K dan sistem distribusi tertutup yang akan dijalankan oleh pemerintah bisa berjalan dalam waktu yang sama, maka hal itu akan benar-benar memastikan distribusi elpiji 3 kg lebih terkendali dan tepat sasaran.
(rna)
Lihat Juga :