SBY Akui Sejumlah Sasaran Pembangunannya Tak Tercapai
Jum'at, 15 Agustus 2014 - 17:56 WIB
SBY Akui Sejumlah Sasaran Pembangunannya Tak Tercapai
A
A
A
JAKARTA - Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan, walaupun telah banyak yang telah Indonesia capai, tentunya harus diakui bahwa sejumlah sasaran pembangunan belum sepenuhnya dapat dipenuhi.
Menurutnya, sejumlah keadaan belum dapat diperbaiki secara signifikan. Hal ini, antara lain disebabkan oleh terdapatnya berbagai permasalahan dan tantangan, baik dari internal maupun eksternal.
"Sebagai dampak dari melambatnya perekonomian global, pertumbuhan ekonomi di sebagian besar negara emerging economies, termasuk Indonesia, mulai menunjukkan perlambatan pada tahun 2013. Selain itu kebijakan pengurangan stimulus moneter atau tapering off oleh Bank Sentral Amerika Serikat, mengakibatkan gejolak yang amat tajam di sektor keuangan di banyak negara emerging economies, termasuk India, Turki, Brazil, Afrika Selatan dan juga Indonesia," ujar SBY dalam pidato kenegaraannya di gedung DPR MPR RI Jakarta, Jumat (15/8/2014).
SBY melanjutkan, tekanan terhadap perekonomian Indonesia tercermin pada tekanan dalam defisit transaksi berjalan dan gejolak di sektor keuangan. Akibatnya, nilai tukar rupiah mengalami tekanan yang cukup besar sebagaimana yang kita rasakan dalam beberapa waktu terakhir.
"Untuk mengembalikan stabilitas ekonomi makro, Pemerintah bersama-sama Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), telah mengambil langkah-langkah strategis dalam menjaga sta-bilitas perekonomian nasional melalui paket kebijakan ekonomi yang terkoordinasi baik dari sisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan, maupun sektor riil," lanjutnya.
Dalam waktu yang relatif singkat, ujarnya lagi,defisit transaksi berjalan berhasil diturunkan dari 10 miliar USD pada triwulan kedua 2013, menjadi 4 miliar USD pada triwulan keempat 2013.
"Dengan langkah-langkah ini gejolak di sektor keuangan relatif dapat diredam. Walaupun terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi, perlu dicatat, bahwa dengan pertumbuhan 5,8 persen dalam tahun 2013, Indonesia tetap mampu menempatkan dirinya sebagai negara dengan pertumbuhan tertinggi kedua diantara negara-negara G-20," tandasnya.
Menurutnya, sejumlah keadaan belum dapat diperbaiki secara signifikan. Hal ini, antara lain disebabkan oleh terdapatnya berbagai permasalahan dan tantangan, baik dari internal maupun eksternal.
"Sebagai dampak dari melambatnya perekonomian global, pertumbuhan ekonomi di sebagian besar negara emerging economies, termasuk Indonesia, mulai menunjukkan perlambatan pada tahun 2013. Selain itu kebijakan pengurangan stimulus moneter atau tapering off oleh Bank Sentral Amerika Serikat, mengakibatkan gejolak yang amat tajam di sektor keuangan di banyak negara emerging economies, termasuk India, Turki, Brazil, Afrika Selatan dan juga Indonesia," ujar SBY dalam pidato kenegaraannya di gedung DPR MPR RI Jakarta, Jumat (15/8/2014).
SBY melanjutkan, tekanan terhadap perekonomian Indonesia tercermin pada tekanan dalam defisit transaksi berjalan dan gejolak di sektor keuangan. Akibatnya, nilai tukar rupiah mengalami tekanan yang cukup besar sebagaimana yang kita rasakan dalam beberapa waktu terakhir.
"Untuk mengembalikan stabilitas ekonomi makro, Pemerintah bersama-sama Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), telah mengambil langkah-langkah strategis dalam menjaga sta-bilitas perekonomian nasional melalui paket kebijakan ekonomi yang terkoordinasi baik dari sisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan, maupun sektor riil," lanjutnya.
Dalam waktu yang relatif singkat, ujarnya lagi,defisit transaksi berjalan berhasil diturunkan dari 10 miliar USD pada triwulan kedua 2013, menjadi 4 miliar USD pada triwulan keempat 2013.
"Dengan langkah-langkah ini gejolak di sektor keuangan relatif dapat diredam. Walaupun terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi, perlu dicatat, bahwa dengan pertumbuhan 5,8 persen dalam tahun 2013, Indonesia tetap mampu menempatkan dirinya sebagai negara dengan pertumbuhan tertinggi kedua diantara negara-negara G-20," tandasnya.
(gpr)
Lihat Juga :