Pengamat Ini Yakin RI Jadi Kiblat Ekonomi Syariah

Jum'at, 07 November 2014 - 11:33 WIB
Pengamat Ini Yakin RI...
Pengamat Ini Yakin RI Jadi Kiblat Ekonomi Syariah
A A A
SURABAYA - Pengamat Ekonomi Syariah Adiwarman Azwar Karim optimistis bahwa Indonesia menjadi kiblat ekonomi syariah dunia.

Dia mencontohkan, meski penetrasi perbankan syariah secara aset masih di kisaran 5%, namun jumlah nasabah perbankan syariah telah mencapai sekitar 18 juta orang. Ini menjadikan perbankan syariah Indonesia sebagai perbankan retail terbesar di dunia.

"Saya yakin Indonesia kiblat baru keuangan syariah dunia," ujar Adiwarman dalam Seminar Nasional Keuangan Inklusif dengan tema Pentingnya Keuangan Inklusif dalam Meningkatkan Akses Masyarakat dan UMKM terhadap Fasilitas Jasa Keuangan Syariah di Surabaya Jumat(7/11/2014).

Adiwarman mengatakan, perkembangan perbankan syariah di Indonesia tak bisa hanya dibandingkan dari sisi aset saja. Pasalnya, industri perbankan syariah di Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda dengan perbankan syariah di negara Islam lain.

Perbankan syariah di Indonesia banyak bergerak di bidang retail banking, sementara di Malaysia perbankan syariah banyak menggarap segmen korporasi.

Sedangkan di negara-negara Timur Tengah, perbankan syariah banyak menggarap segmen invesment banking. Oleh karena itu dia tidak setuju jika perkembangan ekonomi syariah hanya dilihat dari segi aset.

"Saya setuju kalau penetrasi dilihat dari jumlah kantor cabang dan nasabah yang saat ini sekitar 18 juta, belum yang nasabah asuransi syariah, pembiayaan syariah, pasar modal syariah, nasabah BMT (baitul mal wattamwil) bahkan sudah 38 juta," tambahnya.

Bank Indonesia (BI) dalam rilisnya menyebut di akhir 2013, perbankan syariah Indonesia telah menjadi the biggest retail Islamic banking di dunia dengan 17,3 juta nasabah, 2.990 kantor bank, 1.267 layanan syariah, dan 43 ribu karyawan.

Bahkan, Bank syariah di Indonesia memiliki pangsa bagi hasil terbesar di dunia sebesar 30,1% di pertengahan tahun ini.

Bank syariah di Indonesia juga telah dikenal di seluruh dunia sebagai bank syariah yang undoubtful dan applicable, sehingga banyak digunakan sebagai contoh dan tempat belajar bagi bank-bank syariah negara-negara lain.

Undoubtful karena fatwa-fatwa terkait operasi bank syariah dikeluarkan oleh komite fatwa nasional yang kredibel dan independen, yaitu Dewan Syariah Nasional – Majelis Ulama Indonesia atau DSN-MUI, sehingga tidak diragukan kesyariahannya.

Applicable karena fatwa-fatwa DSN-MUI kemudian diterjemahkan menjadi Peraturan Bank Indonesia atau PBI agar mudah diaplikasikan oleh bank syariah. Selain itu, dari seluruh fatwa yang telah dikeluarkan, hampir semuanya mengatur kegiatan bank syariah yang berhubungan dengan sektor riil.‬

‪Sejalan dengan itu, pasar modal syariah di Indonesia telah berkembang menjadi the most advanced Islamic retail stock exchange di dunia karena Indonesia adalah negara pertama di dunia yang menerapkan sistem online trading syariah.

Indonesia telah menjadi the leading sovereign sukuk issuer di dunia karena Indonesia telah menjadi sovereign sukuk issuer terbesar kedua di dunia dengan rasio sukuk per Produk Domestik Brutor (PDB) yang masih rendah, sehingga memiliki potensi pengembangan yang besar.‬

‪Keuangan mikro syariah di Indonesia juga telah berkembang menjadi the largest islamic microfinance di dunia karena Indonesia adalah negara yang memiliki Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) paling bervariasi, jumlah paling besar dengan nasabah paling banyak (khususnya BMT), yang memiliki Pedoman Akad Syariah (PAS) satu-satunya di dunia.

Selain itu, Indonesia juga memiliki jumlah nasabah keuangan syariah terbesar di dunia mencapai 37,3 juta, lebih besar dari jumlah penduduk Malaysia yang hanya 29,8 juta.‬

‪Terakhir, BI merupakan salah satu bank sentral dari 10 negara terbesar di dunia, dan bank sentral terbesar yang menerapkan sistem moneter ganda. Dengan demikian, keuangan syariah Indonesia telah menjelma menjadi kiblat baru keuangan syariah dunia‬.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bahaya! Deflasi Hantam...
Bahaya! Deflasi Hantam Ekonomi RI 5 Bulan Beruntun
Prabowo Sering Diejek...
Prabowo Sering Diejek karena Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
Menguak di Balik Lawatan...
Menguak di Balik Lawatan Prabowo 1,5 Tahun, Seskab Teddy: BRICS hingga Investasi Rp2.430 Triliun
9 jam yang lalu
IHSG Awal Juni Diprediksi...
IHSG Awal Juni Diprediksi Rawan Koreksi, Investor Cermati Data Inflasi hingga Aturan DHE SDA
11 jam yang lalu
Menuju Debat Ketiga,...
Menuju Debat Ketiga, Hashtag SjafrieSAfiekalla Menggema di X
11 jam yang lalu
Paxel Sediakan Lounge...
Paxel Sediakan Lounge Logistik untuk Jastip di PRJ 2026
13 jam yang lalu
Pengusaha Respons Ekspor...
Pengusaha Respons Ekspor Sawit-Batu Bara lewat PT DSI: Minta Bertahap dan Kepastian Hukum
14 jam yang lalu
Kondisi Fiskal dan Moneter...
Kondisi Fiskal dan Moneter RI Disentil PDIP: Utang Harus Dibayar dengan Utang
15 jam yang lalu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved