Bakal Cabup di Sulsel Ramai-ramai Tolak BBM Naik

Selasa, 11 November 2014 - 04:31 WIB
Bakal Cabup di Sulsel...
Bakal Cabup di Sulsel Ramai-ramai Tolak BBM Naik
A A A
MAKASSAR - Sejumlah bakal calon bupati (Cabup) yang akan maju pada pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak beberapa kabupaten di Sulsel 2015 menolak harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dinaikkan.

Mereka meminta kepada pemerintah, Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla tidak terburu-buru menaikkan harga BBM. Jika dipaksakan naik, mereka khawatir rakyat malah akan semakin sengsara. Kenaikan harga BBM dipastikan akan memicu harga kebutuhaan pokok, tarif transportasi umum akan mahal.

Bakal cabup Selayar, Ariady Arsal mengemukakan, mulai terjadi kelangkaan premium di Selelayar sejak ada rencana kenaikan harga BBM hingga saat ini. Premium dengan harga normal Rp6.500/liter hanya dijual di Kota Benteng, ibukota Selayar sampai pukul 10.00 pagi.

Menjelang siang, warga kota Benteng harus membeli bensin di pengecer Rp7.500/liter dan Rp8.000/liter di seluruh daratan pulau Selayar. "Di kepulauan lebih tinggi lagi Rp10 ribu sampai Rp12 ribu setiap liter," jelas Ariady yang politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Makassar, Senin (11/10/2014).

Ariady yang juga anggota DPRD Sulsel mengemukakan, rencana kenaikan harga BBM telah menyengsarakan nelayan di Selayar. Demikian juga dengan kebutuhan pokok di kabupaten yang dihuni 100 ribu jiwa lebih ini sudah merangkak naik.

"Sudah menyusahkan. Dengan harga yang belum naik saja sudah banyak permasalahan mulai dari variatif harga hingga spekulan dan mafia BBM. Saya sangat tidak sepakat harga BBM dinaikkan, kecuali pemerintah pastikan harga seragam dari kota hingga pelosok, pemerintah mampu berantas mafia BBM, dan pemerintah berikan jaminan tidak terjadinya inflasi ditengah masyarakat," jelasnya.

Pandangan serupa dikemukakan, bakal cabup Soppeng, Djusman AR. Aktivis anti korupsi Sulsel ini menegaskan, tidak ada alasan bagi pemerintah saat ini menaikkan harga BBM. Jika dipaksakan, sudah pasti akan menumbulkan permasalahan baru bagi bangsa Indonesia.

"Argumennya kemarin karena harga minyak harus naik. Sekang harga minyak dunia turun, jadi tidak ada alasan untuk menaikkan harga BBM. Jika dinaikkan akan mempengaruhi semua sektor atau multiplayer efek," ujar Djusman yang juga Koordinator Koalisi Masyarakat Anti Korupsi (KMAK) Sulsel.

Menurut dia, yang harus dilakukan pemerintah sekarang adalah mengawasi subsidi BBM agar tepat sasaran. Pemerintah harus memastikan, kendaraan pribadi dengan CC tinggi tidak boleh menikmati subsidi BBM. Yang tidak kalah penting lanjut dia, memutus penimbunan BBM, bukan menaikkan harga BBM.

Djusman bahkan mengancam akan menghimpun kekuatan aktivis reformasi untuk turun kejalan jika pemerintah memaksakan harga BBM naik. Baginya tidak ada alasan menaikkan harga BBM saat ini kecuali membuat sengsara rakyat.

"Saya sepakat yang dikatakan Pak Habibie bahwa apabila harga BBM baik, masyarakat yang tidak miskin akan menjadi miskin. Jika dipaksakan naik, saya akan mengutuk keras, itu akan membuat kami turun lagi kejalan melakukan protes yang lebih besar," jelasnya.

Kendati demikian, Djusman yang juga sahabat sepejuangan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad tetap memuji terobosan-terobosan pemerintahan Jokowi-JK. Namun, lanjut dia, bukan dalam konteks menaikkan harga BBM.

Demikian juga dengan bakal cabup Barru, Malkan Amin meski menyebut subsidi BBM selama ini tidak tepat sasaran, namun menyebut kenaikan harga BBM harus menjamin masyarakat berpenghasilan rendah tidak semakin miskin. Harga BBM, kata dia, boleh saja dinaikkan dengan catatan, seluruh masyarakat berpenghasilan rendah dengan catatan, warga berpenghasilan rendah sudah mengantongi jaminan subsidi BBM dari pemerintah.

Jaminan yang dimaksud Malkan yakni, Kartu Indonesi Sehat, Kartu Indonesia Sejahtera, Kartu Indonesia Pintar. "Saya tidak setuju harga BBM dinaikkan jika kartu-kartu itu belum sampai ke tangan masyarakat yang berhak mendapatkan subsidi," jelasnya.

Malkan yang juga Politikus Partai Nasdem mengemukakan, harga BBM tidak dinaikkan, akan tetapi subsidinya dialihkan kepada warga yang berhak menerima. Selama ini, subsidi, lanjut dia, lebih banyak dinikmati masyarakat yang secara ekonomi tergolong mapan.

"Yang berteriak-teriak menolak pengalihan subsidi BBM adalah masyarakat yang tergolong mampu," jelasnya.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Harga BBM Pertamina...
Harga BBM Pertamina Naik Mulai Maret 2026, Ini Daftar Terbarunya
3 Jenis BBM Pertamina...
3 Jenis BBM Pertamina Naik, Intip Perbandingan Harga dengan Shell, Vivo dan BP
BBM Nonsubsidi Naik...
BBM Nonsubsidi Naik Drastis per 18 April 2026, Mobil Premium dan Pajero-Fortuner Paling Boncos!
Pemanfaatan BBM Subsidi...
Pemanfaatan BBM Subsidi Selama Ini Dinilai Salahi Prinsip Keadilan
Harga BBM Naik, Isi...
Harga BBM Naik, Isi Tangki Full City Car Honda Brio Butuh Setengah Juta Rupiah
Kenaikan BBM Mendadak,...
Kenaikan BBM Mendadak, SPBU di Gunungkidul Pilih Tutup hingga Mesin Disesuaikan Harga
Berita Terkini
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp15.000 Jadi Rp2,64 Juta per Gram
1 jam yang lalu
IHSG Dibuka Menguat...
IHSG Dibuka Menguat ke 5.709 Pagi Ini, Mayoritas Sektor Bergerak Positif
1 jam yang lalu
Aset Kripto Rp18 Triliun...
Aset Kripto Rp18 Triliun Lenyap Diretas, AI Bisa Jadi Andalan Keamanan Baru
2 jam yang lalu
Prabowo Pangkas 1.000...
Prabowo Pangkas 1.000 BUMN Menjadi 250, Bagaimana Nasib Karyawan?
3 jam yang lalu
Pasokan Minyak Iran...
Pasokan Minyak Iran Kembali Banjiri Pasar Asia, Harga Minyak Dunia Anjlok 4%
3 jam yang lalu
RSM Indonesia Umumkan...
RSM Indonesia Umumkan Bergabungnya Mahendra Siregar sebagai Senior Advisor
12 jam yang lalu
Infografis
20 Universitas Terbaik...
20 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved