BI Ingin Ekonomi RI Bersaing di Kancah Global

Sabtu, 22 November 2014 - 21:00 WIB
BI Ingin Ekonomi RI...
BI Ingin Ekonomi RI Bersaing di Kancah Global
A A A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menginginkan perekonomian nasional semakin bersaing dalam kancah global. Hal ini karena tekanan persaingan dari negara-negara yang lebih efisien dan lebih produktif akan semakin kencang.

Menurut Gubernur BI Agus Martowardjojo, kesemua itu menuntut Indonesia untuk konsisten dalam mengambil langkah perbaikan dan mampu mengadaptasi hal-hal yang meruapakan best-practices di dunia.

Dalam menghadapi dunia yang semakin kompleks, semakin penuh persaingan, dan semakin saling terkait, pengalaman dari krisis global mengindikasikan peran Bank Sentral yang lebih aktif sangat dibutuhkan.

Menyikapi hal itu, kata Agus, BI tidak dapat lagi bekerja sekadar business as usual, namun perlu bertransformasi dan membangun keunggulan intinya.

"Untuk itu, kami telah mencanangkan program transformasi Arsitektur dan Fungsi Strategis Bank Indonesia 2015-2024, dengan menetapkan program-program strategis dalam Tema Policy Excellence, Outstanding Execution, Institutional Leadership, Motivated Organization, dan State of The Art of Technology," terangnya saat acara Bankir Dinner di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Disamping itu, BI juga mendukung langkah Pemerintah dalam pengalihan subsidi BBM untuk memberikan ruang fiskal yang cukup bagi pembangunan infrastruktur dan sosial, walaupun dalam jangka pendek akan meningkatkan tekanan inflasi. Sehingga, BI menaikkan suku bunga acuan BI rate ke 7,75%.

"Selain itu, kebijakan ahead the curve dengan menaikkan BI Rate adalah untuk memastikan bahwa defisit neraca transaksi berjalan tetap terkendali di sekitar 2,5%–3 % dari PDB dan tidak membesar, serta menjaga agar kepercayaan investor tetap kuat untuk mendukung pembiayaan pembangunan," ujarnya.

‎Menurut dia, langkah strategis Pemerintah berupa kenaikan harga BBM dan pengalihan subsidi untuk tujuan pembangunan infrastruktur dan sosial, yang baru saja ditempuh, dalam jangka pendek memang akan meningkatkan tekanan inflasi.

Namun reformasi tersebut sangat kita perlukan agar tersedia ruang fiskal (fiscal space) untuk memperkuat derap laju pembangunan.

"Oleh karena itu kami mendukung sepenuhnya “langkah tegas” tersebut, yang manfaatnya akan kita rasakan di tahun-tahun mendatang‎," kata dia.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Jauh dari Resesi, Aktivitas...
Jauh dari Resesi, Aktivitas Ekonomi Indonesia Kuat dan Membaik
Indonesia Dipastikan...
Indonesia Dipastikan Masuk ke Dalam Jurang Resesi Ekonomi
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Digital Indonesia
Ekonomi Indonesia Dibidik...
Ekonomi Indonesia Dibidik Tumbuh 5,4 Persen pada 2026
Ekonomi Indonesia Tumbuh...
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,03 Persen pada 2024
Ekonomi Indonesia Triwulan...
Ekonomi Indonesia Triwulan IV 2024 Tumbuh 5,02%, Sektor Konstruksi dan Industri Dominan
Berita Terkini
Pendaftaran Program...
Pendaftaran Program Magang ke Jepang Dibuka Kemnaker, Begini Caranya
16 menit yang lalu
Perkuat Rupiah, BI dan...
Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
2 jam yang lalu
Anomali Tiket Pesawat:...
Anomali Tiket Pesawat: Penerbangan Domestik Dipungut PPN, ke Luar Negeri Bebas Pajak
3 jam yang lalu
Menakar Efek Domino...
Menakar Efek Domino Pertamax Rp16.250: Waspada Ancaman Inflasi
4 jam yang lalu
Asprindo Dorong Skema...
Asprindo Dorong Skema Hybrid Pengelolaan Blok Andaman
14 jam yang lalu
20 Negara Pengimpor...
20 Negara Pengimpor Terbesar Produk China, Indonesia Peringkat Berapa?
15 jam yang lalu
Infografis
Ranking FIFA Terbaru:...
Ranking FIFA Terbaru: Argentina Gusur Spanyol di Puncak, Indonesia Meroket 4 Tingkat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved