Inflasi 2015 Diprediksi Turun ke 4,5%
Rabu, 26 November 2014 - 16:08 WIB
Inflasi 2015 Diprediksi Turun ke 4,5%
A
A
A
JAKARTA - Ekonom Standard Charetered Bank Fauzi Ichsan memprediksi, inflasi pada 2015 berpotensi turun ke level 4,5%.
Sementara sampai akhir tahun ini, inflasi diperkirakan pada angka 7,5% karena terimbas kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
Akan tetapi, menurut dia, jika Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) menaikkan suku bunganya di semester II/2015, maka BI terpaksa akan menaikan BI rate lagi. Bukan itu saja, BI juga akan menaikkan Facility Bank Indonesia (Fasbi).
"Tahun depan, kalau Fed rate naik, maka BI rate atau Fasility Bank Indonesia (Fasbi) juga ikut naik atau kalau BI rate tidak naik, maka Fasbi harus naik," kata Fauzi di Jakarta, Rabu (26/11/2014).
Menurut dia, kenaikan BI rate yang dilakukan BI sebagai sinyal ke publik dan ke pelaku pasar bahwa BI terus memantau inflasi dan ekspektasi inflasi. Namun, apabila Fasbi tidak naik, artinya tidak ada penyedotan ekstra likuiditas perbankan ke BI.
Fauzi memperkirakan, apabila The Fed jadi menaikan suku bunga sebesar 75 basis points (bps), maka BI harus menaikan BI rate sebesar 50 bps.
"Kalau ekonomi AS membaik, otomatis Bank Sentral AS akan menaikkan suku bunganya, otomatis BI harus menaikan BI rate atau Fasbi. Kita perkirakan 50 bps untuk kenaikan BI rate atau dari 7,75% ke 8,25%. Sedangkan Fed rate naik 75 bps atau dari 0,25% ke 1%," tutur dia.
(Baca: BI Akan Tahan Inflasi Tahun Ini 7,7%)
Sementara sampai akhir tahun ini, inflasi diperkirakan pada angka 7,5% karena terimbas kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
Akan tetapi, menurut dia, jika Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) menaikkan suku bunganya di semester II/2015, maka BI terpaksa akan menaikan BI rate lagi. Bukan itu saja, BI juga akan menaikkan Facility Bank Indonesia (Fasbi).
"Tahun depan, kalau Fed rate naik, maka BI rate atau Fasility Bank Indonesia (Fasbi) juga ikut naik atau kalau BI rate tidak naik, maka Fasbi harus naik," kata Fauzi di Jakarta, Rabu (26/11/2014).
Menurut dia, kenaikan BI rate yang dilakukan BI sebagai sinyal ke publik dan ke pelaku pasar bahwa BI terus memantau inflasi dan ekspektasi inflasi. Namun, apabila Fasbi tidak naik, artinya tidak ada penyedotan ekstra likuiditas perbankan ke BI.
Fauzi memperkirakan, apabila The Fed jadi menaikan suku bunga sebesar 75 basis points (bps), maka BI harus menaikan BI rate sebesar 50 bps.
"Kalau ekonomi AS membaik, otomatis Bank Sentral AS akan menaikkan suku bunganya, otomatis BI harus menaikan BI rate atau Fasbi. Kita perkirakan 50 bps untuk kenaikan BI rate atau dari 7,75% ke 8,25%. Sedangkan Fed rate naik 75 bps atau dari 0,25% ke 1%," tutur dia.
(Baca: BI Akan Tahan Inflasi Tahun Ini 7,7%)
(rna)
Lihat Juga :