Indef Beberkan 10 Kegagalan Pemerintahan SBY

Kamis, 27 November 2014 - 11:18 WIB
Indef Beberkan 10 Kegagalan...
Indef Beberkan 10 Kegagalan Pemerintahan SBY
A A A
JAKARTA - Institute for Development of Economic and Finance (Indef) membeberkan 10 kegagalan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam meningkatkan kinerja perekonomian Indonesia.

Direktur Eksekutif Indef Ahmad Erani Yustika menyebutkan, dalam sepuluh tahun kepemimpinan SBY, ketimpangan justru melebar, dan indeks gini ratio naik 0,5%.

"Kontribusi sektor industri terhadap PDB pun menurun. Pada 2004 share industri mencapai 28%, sementara di 2013 turun menjadi 23,5%," ujarnya di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Kamis (27/11/2014).

Indikator selanjutnya, sambung Erani, neraca perdagangan yang sebelumnya surplus USD25,06 miliar, menjadi defisit USD4,06 miliar.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tinggi namun tidak menciptakan lapangan kerja. Elastisitas 1% pertumbuhan dalam membuka lapangan kerja, turun dari 436 ribu menjadi 164 ribu.

"Efisiensi ekonomi pun semakin buruk. ICOR melonjak 0,33% dari 4,17% menjadi 4,5%. Ini didorong karena adanya inefisiensi birokrasi, korupsi, dan keterbatasan infrastruktur," jelas dia.

Selain itu, tax ratio justru turun sebesar 1,4% dari sebelumnya 12,2% menjadi 10,8%. Selain itu, kesejahteraan petani pun mengalami penurunan hingga 0,92%.

"Rasio utang terhadap PDB turun. Namun utang per kapita justru naik dari USD531,29 per penduduk, menjadi USD1,002.69 per penduduk," terang Erani.

Kemudian, pembayaran bunga utang, menyedot rata-rata 13,6% dari anggaran pemerintah pusat, dengan realisasi pembayaran rata-rata 92,7% per tahun.

"APBN naik namun disertai defisit keseimbangan primer. Pada 2004 keseimbangan primer surplus 1,83% dari PDB, pada 2013 justru defisit 1,19%," tambahnya.

Bahkan, lanjut dia, postur Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (APBN) dinilai tidak proporsional.

"Postur APBN semakin tidak proporsional, boros, dan semakin didominasi pengeluaran rutin dan birokrasi," pungkas Erani.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bahaya! Deflasi Hantam...
Bahaya! Deflasi Hantam Ekonomi RI 5 Bulan Beruntun
Prabowo Sering Diejek...
Prabowo Sering Diejek karena Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
3 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
4 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
4 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
4 jam yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
4 jam yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
4 jam yang lalu
Infografis
10 Wonderkid Calon Bintang...
10 Wonderkid Calon Bintang di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved