Menkeu Nilai Pengusaha Tak Berani Ambil Risiko di Perbankan
Kamis, 11 Desember 2014 - 10:27 WIB
Menkeu Nilai Pengusaha Tak Berani Ambil Risiko di Perbankan
A
A
A
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro menilai, para pengusaha Indonesia saat ini terkesan tidak berani mengambil risiko dalam mengelola atau mendirikan usaha sektor perbankan.
Bercermin pada tahun 1980-an tepatnya pada 1988, di mana saat itu beberapa perusahaan semua kelas berlomba-lomba mendirikan bank di Indonesia.
"Tahun 1988 itu, hampir semua pengusaha Indonesia dari kelas atas sampai menengah, berlomba-lomba membuat sektor usaha perbankan," ujarnya di Jakarta, Rabu(10/12/2014) malam.
Seolah-olah pada waktu itu, lanjut Bambang, seorang pengusaha belum bisa menjadi seorang pengusaha yang bonafit dan sukses kalau dia belum membuka bank.
"Itu fenomena yang menurut saya baik pada waktu itu, kebetulan saya waktu itu masih kuliah, jadi mengamati saja," kata dia.
Namun, saat ini, malah hampir tidak ada grup pengushaa Indonesia bahkan yang besar sekalipun tertarik membuka bank. Kalaupun ada, itu memang merupakan bank yang dari dulu sudah ada, kemudian dibeli, atau mengakuisisi tapi low profile.
"Kalau dulu, semua perusahaan itu jor-joran. Pokoknya dia baru bisa dikategorikan pengusaha top kalau dia punya bank, sehingga perbankan berkembang luar biasa waktu itu. Beda sama sekarang. Sekaramg mohon maaf harus saya katakan, yang mendominasi pemilik perbankan itu adalah asing," ujar Bambang.
Hal tersebut menjadi pertanyaan dirinya, ada apa sebenarnya, apa yang melatarbelakangi pengusaha untuk takut melaju pada era sekarang ini.
"Sekarang yang menjadi pertanyaan, kenapa antusiasme pengusaha membuka bank tidak seantusias dulu? Orang-orang berlomba membuka bank di tahun itu. Apa artinya pengusaha sekarang itu sudah alergi terhadap perbankan? Atau apa. Pengusaha kita lebih baik bermain dalam sektor lain. Itu yang masih menjadi pertanyaan besar di kepala saya," tandasnya.
Bercermin pada tahun 1980-an tepatnya pada 1988, di mana saat itu beberapa perusahaan semua kelas berlomba-lomba mendirikan bank di Indonesia.
"Tahun 1988 itu, hampir semua pengusaha Indonesia dari kelas atas sampai menengah, berlomba-lomba membuat sektor usaha perbankan," ujarnya di Jakarta, Rabu(10/12/2014) malam.
Seolah-olah pada waktu itu, lanjut Bambang, seorang pengusaha belum bisa menjadi seorang pengusaha yang bonafit dan sukses kalau dia belum membuka bank.
"Itu fenomena yang menurut saya baik pada waktu itu, kebetulan saya waktu itu masih kuliah, jadi mengamati saja," kata dia.
Namun, saat ini, malah hampir tidak ada grup pengushaa Indonesia bahkan yang besar sekalipun tertarik membuka bank. Kalaupun ada, itu memang merupakan bank yang dari dulu sudah ada, kemudian dibeli, atau mengakuisisi tapi low profile.
"Kalau dulu, semua perusahaan itu jor-joran. Pokoknya dia baru bisa dikategorikan pengusaha top kalau dia punya bank, sehingga perbankan berkembang luar biasa waktu itu. Beda sama sekarang. Sekaramg mohon maaf harus saya katakan, yang mendominasi pemilik perbankan itu adalah asing," ujar Bambang.
Hal tersebut menjadi pertanyaan dirinya, ada apa sebenarnya, apa yang melatarbelakangi pengusaha untuk takut melaju pada era sekarang ini.
"Sekarang yang menjadi pertanyaan, kenapa antusiasme pengusaha membuka bank tidak seantusias dulu? Orang-orang berlomba membuka bank di tahun itu. Apa artinya pengusaha sekarang itu sudah alergi terhadap perbankan? Atau apa. Pengusaha kita lebih baik bermain dalam sektor lain. Itu yang masih menjadi pertanyaan besar di kepala saya," tandasnya.
(izz)
Lihat Juga :