Bambang: Kita Tidak Bisa Rileks

Kamis, 11 Desember 2014 - 10:37 WIB
Bambang: Kita Tidak...
Bambang: Kita Tidak Bisa Rileks
A A A
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro menerangkan bahwa, tidak ada waktu lagi bagi Indonesia terutama pengusaha di sektor keuangan untuk rileks.

Bambang menjelaskan, rileks di sini dalam artian jika perusahaan keuangan sudah dalam kondisi statis ekonominya, itu wajar. Namun yang harus diwaspadai adalah jika nanti terjadi krisis.

"Itu sebabnya kita enggak boleh rileks, itu soal tadi setiap saat harus antisipasi buat menghadapi terjadinya krisis. Maka kita bekerja sama untuk bahu membahu menghadapi krisis," kata dia di Jakarta, Rabu(10/12/2014) malam.

Bentuk kerja samanya, lanjut Bambang, dari segi otoritas, pemerintah sebagai otoritas fiskal, Bank Indonesia sebagai otoritas moneter, OJK yang mengawasi seluruh lembaga keuangan yang sifatnya tidak mengikat harus diikuti semua pihak.

"Dengan adanya lembaga tersebut, situasi jadi lebih cair, semua isu dibahas di situ, tanpa harus mengintervensi dan memengaruhi indepedensi masing-masing pihak," jelas Menkeu.

Artinya, kata dia, pemerintah tak bisa mengintervensi BI soal policy rate. BI juga tak bisa intervensi pemerintah di dalam defisit anggaran. Atau pemerintah juga tidak bisa mengintervensi OJK untuk melihat bank itu buku 1 atau 2.

"Jadi saling menjaga. Tapi kita tetap bekerja sama di dalam bidang nasional untuk menghadapi krisis. Dan punya beberapa variabel kunci yang buat kita bisa mengambil keputusan, kalau ini sudah diambang bahaya," ujarnya.

Hal tersebut agar Indonesia selalu waspada atau siaga. Karena ketika pemerintah Indonesia merumuskan pada kondisi waspada, paling tidak mengetahui apa yang harus kita lakukan.

"Masing-masing dari kita bisa bersiap dan tahu apa yang harus dilakukan, OJK ngapain, BI ngapain dan pemerintah ngapain," pungkas dia.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bahaya! Deflasi Hantam...
Bahaya! Deflasi Hantam Ekonomi RI 5 Bulan Beruntun
Prabowo Sering Diejek...
Prabowo Sering Diejek karena Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
Harga Gas Penting, tapi...
Harga Gas Penting, tapi Bukan Penyebab Tunggal Industri Lesu dan PHK
11 menit yang lalu
Harga Emas Antam Turun...
Harga Emas Antam Turun Rp15.000 Jadi Rp2,64 Juta per Gram, Ini Rinciannya
32 menit yang lalu
IHSG Dibuka Menguat...
IHSG Dibuka Menguat 0,61% ke Level 5.932
1 jam yang lalu
AS-Iran Kembali Saling...
AS-Iran Kembali Saling Balas Serangan, Harga Minyak Langsung Mendidih
1 jam yang lalu
GAPKI Soroti Indonesia...
GAPKI Soroti Indonesia Belum Ada Acuan Harga Sawit yang Seragam
2 jam yang lalu
Harga Minyak Kembali...
Harga Minyak Kembali ke Level Sebelum Perang, Mengapa Bensin Tak Ikut Turun?
3 jam yang lalu
Infografis
Keterbatasan Strategis...
Keterbatasan Strategis USS Abraham Lincoln: Si ’Benteng Terapung’ yang Tidak Kebal
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved