Penurunan Harga Minyak Perkuat Ekonomi Jerman

Selasa, 30 Desember 2014 - 11:16 WIB
Penurunan Harga Minyak...
Penurunan Harga Minyak Perkuat Ekonomi Jerman
A A A
BERLIN - Pemerintah Jerman memperkirakan rendahnya harga minyak mendorong pertumbuhan di negara ekonomi terbesar di Eropa tersebut antara 0,2% dan 0,3% pada tahun depan.

Majalah Der Spiegel mengungkapkan laporan itu kemarin mengutip memo Kementerian Ekonomi Jerman. Harga minyak turun sekitar 45% mencapai sekitar USD60 per barel sejak Juni. “Kementerian memperkirakan harga minyak tetap di level rendah dalam jangka panjang dan memperkirakan harga hanya akan naik sekitar USD80 per barel pada 2018,” ungkap laporan majalah Der Spiegel , dikutip kantor berita Reuters.

Memo itu juga menyebutkan, Jerman akan membayar sekitar 12 juta euro lebih sedikit untuk negara-negara penghasil minyak, dibandingkan pada 2014, sebanyak pengurangan 25%. Kementerian Ekonomi Jerman menolak berkomentar tentang laporan tersebut. Pemerintah Jerman memperkirakan ekonomi tumbuh 1,3% tahun depan setelah proyeksi pertumbuhan 1,2% tahun ini.

Organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC) memperkirakan harga minyak dunia menguat antara USD70 dan USD80 per barel pada akhir tahun depan. Bulan lalu Jerman dan Prancis meluncurkan rencana reformasi ekonomi bersama. Dalam rencana itu, Paris akan membekukan gaji selama tiga tahun dan Berlin menaikkan investasi publik.

“Prancis akan membuat sejumlah kebijakan tenaga kerja baru, termasuk 35 jam kerja per pekan, fleksibilitas yang lebih besar di berbagai sektor, dan membekukan gaji selama tiga tahun untuk membuat perusahaan lebih kompetitif,” ungkap laporan Der Spiegel . Sesuai proposal itu, Jerman akan meningkatkan belanja infrastruktur hingga dua kali lipat menjadi USD25 miliar pada 2018 dan akan mengubah aturan imigrasi serta mendorong perempuan memasuki dunia kerja.

“Rencana untuk dua negara ekonomi terbesar di Eropa itu akan disajikan di Paris oleh Menteri Ekonomi Jerman Sigmar Gabriel dan Menteri Ekonomi Prancis Emmanuel Macron pada Kamis (27/11) mendatang,” demikian laporan Der Spiegel .

Proposal itu berdasarkan studi yang didukung pemerintah oleh Kepala Jacques Delors Institute Henrik Enderlein di Berlin dan Kepala Strategi Ekonomi Perdana Menteri Prancis Minister Manuel Valls, Jean Pisani-Ferry. Rencana itu akan dikompromikan antara Berlin dan Paris. Saat ini Jerman melakukan disiplin fiskal untuk merespons krisis ekonomi yang menerjang Uni Eropa.

Adapun Prancis sedang menghadapi tingginya pengangguran dan membengkaknya defisit anggaran serta mendorong untuk meningkatkan stimulus. Sementara ancaman makin meningkat untuk dapat memulihkan ekonomi Eropa yang terus melemah.

Syarifudin
(ars)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Relevansi Jadi Kunci...
Relevansi Jadi Kunci Utama Membangun Kekuatan Merek di Era Digital
6 jam yang lalu
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
6 jam yang lalu
GAPKI Tegaskan Industri...
GAPKI Tegaskan Industri Sawit RI Terapkan Standar Keselamatan Kerja Berkelanjutan
6 jam yang lalu
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
7 jam yang lalu
Airlangga Bocorkan Lahan...
Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali Jadi Opsi Calon Lokasi PFII
7 jam yang lalu
Soal Pindar, KPPU Didorong...
Soal Pindar, KPPU Didorong Utamakan Tindakan Pencegahan
8 jam yang lalu
Infografis
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved