Tiga Manfaat Penurunan Harga BBM versi BI
Kamis, 01 Januari 2015 - 15:33 WIB
Tiga Manfaat Penurunan Harga BBM versi BI
A
A
A
JAKARTA - Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menuturkan, terdapat tiga manfaat dari kebijakan pemerintah yang menurunkan harga BBM jenis premium.
Pertama, kebijakan ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi menjadi lebih tinggi, karena alokasi subsidi yang selama ini dilakukan bisa dilakokasikan untuk pembiayaan produktif seperti infrastruktur, UMKM bahkan bantuan sosial.
"Dan ini juga akan meningkatkan kapasitas produksi nasional dan akan mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi," paparnya di gedung BI, Rabu (31/12/2014).
Kedua, kebijakan ini akan lebih memudahkan dalam pengendalian inflasi. Pasalnya, inflasi di Indonesia umumnya tinggi pada periode di mana ada penyesuaian harga BBM seperti 2005, 2008 bahkan tahun lalu.
Perry mengungkapkan, inflasi Indonesia sebelum kenaikan BBM pernah di bawah 4% yakni 3,9%. Namun, waktu ada penyesuaian BBM, inflasi kembali naik.
"Makanya dengan harga BBM di mana harga premium sekarang sesuai harga pasar dan harga solar subsidinya di fix Rp1.000 per liter, maka naik turunnya ini akan ter-record dengan inflasi bulan per bulan. Tidak ada lagi penyesuaian harga pada periode-periode tertentu yang berdampak inflasi sangat tinggi," jelas dia.
Maka, lanjut Perry, inflasinya cenderung akan lebih stabil serta akan memudahkan dalam pengendalian inflasi ke depan.
Selanjutnya manfaat ketiga yakni di dalam perbaikan current account deficit. Hal ini karena, defisit migasnya nanti akan lebih rendah dan terkendali.
Menurutnya, dengan harga BBM yang saat ini sesuai pasar tentu pola konsumsi BBM yang sebelumnya lebih tinggi karena di subsidikan, maka masyarakat akan lebih dapat mengendalikan konsumsinya.
"Dengan konsumsi migas impor minyak yang terkendali impor migas juga lebih rendah, maka defisit dari migas juga akan lebih rendah," ujarnya.
Namun, dampak terhadap penurunan current account secara total akan juga tergantung pada seberapa besar ekspansi fiksal pemerintah itu akan mendorong impor non migas.
Sehingga, dalam jangka pendek (misalkan satu tahun) dampak terhadap penurunan current account deficit mungkn tidak terlalu besar. Tetapi, dalam jangka panjang akan jelas lebih besar.
"Kenapa? Karena dengan kenaikan spending untuk produksi tadi, produksi nasional kan naik (dalam jangka menegah panjang). Nah dengan produksi nasional naik, maka kebutuhan impor non migas juga akan turun," tutur dia.
Namun, dalam jangka pendek dengan ekspansi fiskal yang besar, ada sebagian yang jangka pendek ini masih harus diimpor seperti untuk membangun infrastruktur.
Dia melanjutkan, dalam jangka menengah-panjang, dengan pembiayaan fiskal untuk produksi yang lebih tinggi, maka produksi nasional bisa lebih tinggi. Kemudian kebutuhan impor non migasnya juga akan lebih tinggi.
Jadi, ini dampaknya tehadap current account deficit untuk 2015 kemungkinan penurunannya belum terlalu besar. Tetapi dalam jangka menengah-panjang, ini yang positifnya jelas current account defisit akan menurun lebih cepat dan lebih terkendali.
(Baca: Harga BBM Premium Turun Jadi Rp7.600/Liter)
Pertama, kebijakan ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi menjadi lebih tinggi, karena alokasi subsidi yang selama ini dilakukan bisa dilakokasikan untuk pembiayaan produktif seperti infrastruktur, UMKM bahkan bantuan sosial.
"Dan ini juga akan meningkatkan kapasitas produksi nasional dan akan mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi," paparnya di gedung BI, Rabu (31/12/2014).
Kedua, kebijakan ini akan lebih memudahkan dalam pengendalian inflasi. Pasalnya, inflasi di Indonesia umumnya tinggi pada periode di mana ada penyesuaian harga BBM seperti 2005, 2008 bahkan tahun lalu.
Perry mengungkapkan, inflasi Indonesia sebelum kenaikan BBM pernah di bawah 4% yakni 3,9%. Namun, waktu ada penyesuaian BBM, inflasi kembali naik.
"Makanya dengan harga BBM di mana harga premium sekarang sesuai harga pasar dan harga solar subsidinya di fix Rp1.000 per liter, maka naik turunnya ini akan ter-record dengan inflasi bulan per bulan. Tidak ada lagi penyesuaian harga pada periode-periode tertentu yang berdampak inflasi sangat tinggi," jelas dia.
Maka, lanjut Perry, inflasinya cenderung akan lebih stabil serta akan memudahkan dalam pengendalian inflasi ke depan.
Selanjutnya manfaat ketiga yakni di dalam perbaikan current account deficit. Hal ini karena, defisit migasnya nanti akan lebih rendah dan terkendali.
Menurutnya, dengan harga BBM yang saat ini sesuai pasar tentu pola konsumsi BBM yang sebelumnya lebih tinggi karena di subsidikan, maka masyarakat akan lebih dapat mengendalikan konsumsinya.
"Dengan konsumsi migas impor minyak yang terkendali impor migas juga lebih rendah, maka defisit dari migas juga akan lebih rendah," ujarnya.
Namun, dampak terhadap penurunan current account secara total akan juga tergantung pada seberapa besar ekspansi fiksal pemerintah itu akan mendorong impor non migas.
Sehingga, dalam jangka pendek (misalkan satu tahun) dampak terhadap penurunan current account deficit mungkn tidak terlalu besar. Tetapi, dalam jangka panjang akan jelas lebih besar.
"Kenapa? Karena dengan kenaikan spending untuk produksi tadi, produksi nasional kan naik (dalam jangka menegah panjang). Nah dengan produksi nasional naik, maka kebutuhan impor non migas juga akan turun," tutur dia.
Namun, dalam jangka pendek dengan ekspansi fiskal yang besar, ada sebagian yang jangka pendek ini masih harus diimpor seperti untuk membangun infrastruktur.
Dia melanjutkan, dalam jangka menengah-panjang, dengan pembiayaan fiskal untuk produksi yang lebih tinggi, maka produksi nasional bisa lebih tinggi. Kemudian kebutuhan impor non migasnya juga akan lebih tinggi.
Jadi, ini dampaknya tehadap current account deficit untuk 2015 kemungkinan penurunannya belum terlalu besar. Tetapi dalam jangka menengah-panjang, ini yang positifnya jelas current account defisit akan menurun lebih cepat dan lebih terkendali.
(Baca: Harga BBM Premium Turun Jadi Rp7.600/Liter)
(izz)
Lihat Juga :