Inflasi Rusia Diprediksi Capai 11,4% pada 2014

Jum'at, 02 Januari 2015 - 10:12 WIB
Inflasi Rusia Diprediksi Capai 11,4% pada 2014
Inflasi Rusia Diprediksi Capai 11,4% pada 2014
A A A
MOSKOW - Inflasi tahunan Rusia pada 2014 akan mencapai 11,4% menurut proyeksi awal pemerintah. Tingginya inflasi itu akibat melemahnya nilai rubel.

Penurunan nilai rubel membuat harga-harga naik, terutama makanan yang naik sekitar 15,4% pada 2014. Kantor statistik Rosstat menyatakan harga konsumen naik 2,6% pada Desember, saat rubel turun di level terendah. Pemerintah Rusia juga telah melakukan intervensi untuk membantu Bank Gazprombank. Pada 2013, level inflasi tahunan sebesar 6,5%.

Data inflasi 2014 itu merupakan yang tertinggi sejak krisis keuangan Rusia pada 2008. Harga minyak yang rendah dan berbagai sanksi Barat terhadap Rusia terkait konflik Ukraina telah mengakibatkan nilai rubel turun. Artinya, harga sebagian besar barang, terutama yang impor, menjadi lebih tinggi.

“Harga produk nonpangan naik 8,1% selama 2014, adapun biaya jasa naik 10,5%,” ungkap pernyataan Rosstat, dikutip BBC . Rosstat akan memublikasikan data inflasi akhir pada 12 Januari. Ekonomi Rusia menyusut pada November untuk pertama kali dalam lima tahun dan diperkirakan memasuki resesi pada kuartal I/2015.

Penurunan harga minyak memangkas pendapatan pemerintah. Adapun sanksi yang diberlakukan terhadap Rusia telah memukul sektor perbankan dengan pemotongan pinjaman asing. Pekan lalu pemerintah membeli saham Gazprombank senilai USD683 juta sebagai bagian dari rencana mendukung perbankan.

“Suntikan dana itu membantu bank memperkuat struktur modal dan menyediakan ruang yang cukup untuk operasi ekspansi,” papar pernyataan Gazprombank. Bank terbesar kedua di Rusia, VTB, juga menerima USD1,8 miliar dari dana kesejahteraan nasional Rusia yang menjadi bagian skema rekapitalisasi sistem perbankan. Moskow juga telah meningkatkan dana penyelamatan untuk Trust Bank menjadi USD2,4 miliar dalam bentuk pinjaman untuk dana talangan.

Presiden Rusia Vladimir Putin awal pekan ini menegaskan, perbankan domestik harus mendukung peningkatan pinjaman untuk berbagai proyek penting di sektor ekonomi riil. “Kita memiliki jumlah tabungan internal yang besar, itu harus menjadi investasi yang efektif,” ungkapnya dalam pidato tahunan kenegaraan.

Penurunan harga minyak membuat ekonomi Rusia diproyeksikan mengalami resesi tajam dan inflasi dua digit tahun depan. Otoritas pun menambah dana talangan (bailout ) untuk perbankan agar mampu menghadapi krisis rubel bulan ini. Ekonomi Rusia melemah tajam saat sanksi Barat atas krisis Ukraina menghalangi investasi asing dan membuat banyak dana keluar dari negara itu.

Pemerintah Rusia telah mengambil sejumlah langkah untuk mendukung perbankan dan mengatasi krisis mata uang yang terus memburuk, termasuk menaikkan suku bunga. Meski demikian, para analis pesimistis terhadap outlook untuk ekonomi dan rubel. Menteri Keuangan Rusia Anton Siluanov menjelaskan bahwa ekonomi dapat melemah hingga 4% pada 2015, atau penyusutan pertama sejak 2009, jika harga minyak tetap berada di level USD60 per barel.

Siluanov mengungkapkan, negara itu akan mengalami defisit neraca lebih dari 3% tahun depan jika harga minyak tidak menguat. “Tahun depan kita akan, tanpa ragu, harus menggunakan Dana Cadangan,” ujarnya, dikutip kantor berita Reuters , saat menjelaskan salah satu dari dana yang dikucurkan untuk mendukung perekonomian saat krisis.

Harga minyak mentah terus merosot dari harga tertinggi pada Juni, seiring melimpahnya suplai dan keputusan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk tidak memangkas output . Arab Saudi pekan ini juga menegaskan bahwa pihaknya telah siap menghadapi periode lama harga minyak yang rendah.

“Kita perlu memiliki break evetn anggaran kita pada USD70 per barel pada 2017,” kata Siluanov. Pemerintah Rusia memberlakukan kontrol modal informal pekan ini, termasuk perintah pada eksportir gas dan minyak Gazprom dan Rosneft agar menjual sebagian pendapatan dolar untuk memperkuat rubel.

Syarifudin
(ars)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.0754 seconds (10.177#12.26)