Harga Minyak Akan Kembali Pulih Setelah 2015
Selasa, 20 Januari 2015 - 13:36 WIB
Harga Minyak Akan Kembali Pulih Setelah 2015
A
A
A
WASHINGTON - Jim O'Neill, mantan chairman Goldman Sachs Asset Management mengemukakan, harga minyak pada 2015 cenderung akan mengalami penurunan sampai akhir tahun. Namun, setelah itu akan kembali naik (pulih) di atas USD80 per barel.
Dia menuturkan, saat dirinya mengerjakan tesis PhD pada akhir 1979, dengan penelitian empiris terkait surplus OPEC (organisasi negara-negara pengekspor minyak), ini adalah akhir dari satu dekade di mana harga minyak telah mengalami kenaikan dramatis.
Sebagian besar peneliti percaya minyak akan melambung dari di bawah USD40 per barel - tertinggi dalam sejarah pada saat itu - menunju di atas USD100 per barel.
"Pada saat saya selesai penelitian pada 1982, harga minyak sudah mulai terlihat akan terjun dalam 20 tahun. Tidak akan mencapai USD100 per barel hingga Januari 2008," ujar O'Neill, dalam tulisannya yang dilansir dari Project Syndicate, Selasa (20/1/2015).
Dia mengatakan, pada 2014 harga minyak baru saja melewati batas USD100 lagi - kali ini terjun ke bawah. Salah satu pertanyaan besar pada 2015, apakah penurunan akan terus berlanjut?
"Saya menduga harga (minyak) naik dalam lima tahun ini jauh lebih sedikit dipengaruhi spekulasi di pasar minyak dari harga spot, namun sejatinya lebih diwakili kebutuhan komersial," katanya.
Pada 2011, lanjut O'Neill, setelah kedua harga pulih keruntuhan yang disebabkan krisis keuangan pada 2008, harga dalam lima tahun mulai turun secara bertahap. Sementara harga spot terus naik (untuk sementara waktu).
Dua faktor fundamental yang mendorong harga minyak, yakni awal eksploitasi shale oil dan gas di Amerika Serikat (AS), dan pergeseran fokus ekonomi China dari kuantitas menjadi kualitas, yang tersirat bahwa ekonomi mereka tidak lagi mengonsumsi energi pada tingkat berlebihan.
"Saya pikir itu mungkin awal pergeseran kembali ke USD80 per barel - tepat di mana harga telah mendarat pada akhir 2014. Harga spot bahkan baru-baru ini tergelincir di bawah level (USD48 per barel hari ini, red) tersebut. Itu adalah salah satu perkiraan saya lebih baik," terangnya.
O'Neill memperkirakan harga minyak akan naik-turun. Bahkan, harga minyak mungkin tidak akan naik dalam beberapa bulan mendatang, seperti pada penutupan 2014.
Penurunan harga spot minyak ke depan secara signifikan di bawah harga lima tahun, yang tetap dekat USD80 per barel.
"Firasat saya pada 2015 harga minyak akan terus turun dalam jangka pendek; tidak seperti dalam empat tahun terakhir. Namun, mereka cenderung akan menyelesaikan tahun lebih tinggi daripada ketika mulai (awal tahun)," terang O'Neill.
Dia menuturkan, saat dirinya mengerjakan tesis PhD pada akhir 1979, dengan penelitian empiris terkait surplus OPEC (organisasi negara-negara pengekspor minyak), ini adalah akhir dari satu dekade di mana harga minyak telah mengalami kenaikan dramatis.
Sebagian besar peneliti percaya minyak akan melambung dari di bawah USD40 per barel - tertinggi dalam sejarah pada saat itu - menunju di atas USD100 per barel.
"Pada saat saya selesai penelitian pada 1982, harga minyak sudah mulai terlihat akan terjun dalam 20 tahun. Tidak akan mencapai USD100 per barel hingga Januari 2008," ujar O'Neill, dalam tulisannya yang dilansir dari Project Syndicate, Selasa (20/1/2015).
Dia mengatakan, pada 2014 harga minyak baru saja melewati batas USD100 lagi - kali ini terjun ke bawah. Salah satu pertanyaan besar pada 2015, apakah penurunan akan terus berlanjut?
"Saya menduga harga (minyak) naik dalam lima tahun ini jauh lebih sedikit dipengaruhi spekulasi di pasar minyak dari harga spot, namun sejatinya lebih diwakili kebutuhan komersial," katanya.
Pada 2011, lanjut O'Neill, setelah kedua harga pulih keruntuhan yang disebabkan krisis keuangan pada 2008, harga dalam lima tahun mulai turun secara bertahap. Sementara harga spot terus naik (untuk sementara waktu).
Dua faktor fundamental yang mendorong harga minyak, yakni awal eksploitasi shale oil dan gas di Amerika Serikat (AS), dan pergeseran fokus ekonomi China dari kuantitas menjadi kualitas, yang tersirat bahwa ekonomi mereka tidak lagi mengonsumsi energi pada tingkat berlebihan.
"Saya pikir itu mungkin awal pergeseran kembali ke USD80 per barel - tepat di mana harga telah mendarat pada akhir 2014. Harga spot bahkan baru-baru ini tergelincir di bawah level (USD48 per barel hari ini, red) tersebut. Itu adalah salah satu perkiraan saya lebih baik," terangnya.
O'Neill memperkirakan harga minyak akan naik-turun. Bahkan, harga minyak mungkin tidak akan naik dalam beberapa bulan mendatang, seperti pada penutupan 2014.
Penurunan harga spot minyak ke depan secara signifikan di bawah harga lima tahun, yang tetap dekat USD80 per barel.
"Firasat saya pada 2015 harga minyak akan terus turun dalam jangka pendek; tidak seperti dalam empat tahun terakhir. Namun, mereka cenderung akan menyelesaikan tahun lebih tinggi daripada ketika mulai (awal tahun)," terang O'Neill.
(dmd)
Lihat Juga :