Li Ka-shing Incar Provider Mobile Terbesar Kedua Inggris

Minggu, 25 Januari 2015 - 12:36 WIB
Li Ka-shing Incar Provider...
Li Ka-shing Incar Provider Mobile Terbesar Kedua Inggris
A A A
HONG KONG - Miliarder Asia, Li Ka-shing, sedang membahas pembelian provider mobile terbesar kedua di Inggris, O2, senilai USD15,4 miliar dari Telefonica asal Spanyol.

Perusahaannya yang berbasis di Hong Kong, Hutchison Whampoa, telah memiliki jaringan mobile Three, dan jika digabungkan dengan O2, akan menciptakan grup mobile terbesar di Inggris. Meski demikian, langkah ini dapat menghadapi ganjalan dari pengawas persaingan usaha.

Akuisisi ini akan mengurangi jumlah operator utama di Inggris dari empat menjadi tiga, yang mungkin tidak akan menguntungkan konsumen. Konsolidasi lebih lanjut dalam industri telekomunikasi juga telah dicanangkan, dengan BT Group membahas pembelian operator pesaing EE. Jika kesepakatan itu disetujui, maka harus disahkan oleh regulator persaingan usaha di Brussels.

Saat ini pasar mobile di Inggris didominasi oleh O2, EE, Vodafone, dan Three. Meski demikian, Direktur Keuangan Hutchison Whampoa Frank Sixt memaparkan sejumlah kesepakatan dengan negara-negara lain, termasuk Irlandia yang telah memberi lampu hijau dan akan mengurangi jumlah persaingan di pasar dari empat menjadi tiga.

“Komisi Eropa telah mengambil sikap positif untuk konsolidasi mobile dari empat menjadi tiga dalam kasus ketiga sekarang, dan kami yakin mereka akan mendukung transaksi ini,” katanya, dikutip BBC . Kepala riset kantor konsultasi telekomunikasi, Ovum, Mark Newman menilai masih ada sejumlah kekhawatiran.

“Pertanyaan besar yang harus kita ajukan pada diri kita sendiri ialah apakah konsolidasi itu akan membuat harga menjadi naik. Sangat penting melihat fakta di pasar Austria yang dari lima operator pada beberapa tahun lalu menjadi tiga operator saat ini. Tampak bahwa harga naik di pasar Austria,” ujarnya.

O2 dalam pernyataannya mengungkapkan, “Kami yakin kesepakatan ini akan menguntungkan konsumen di kedua perusahaan, serta memberikan nilai, kualitas, dan investasi yang lebih baik di salah satu negara paling kompetitif di pasar digitalnya di dunia.” Ini merupakan masa yang genting bagi industri telepon mobile di Inggris dan bagi para konsumennya.

Beberapa tahun lalu ada lima operator yakni Orange, T-Mobile, Vodafone, O2, dan Three. Sekarang pemilik Three, Li-Ka Shing, mengincar O2 sehingga di sana akan ada tiga raksasa yang menguasai sektor tersebut. Langkah BT untuk membeli EE, merger Orange dan T-Mobile, tampaknya akan meningkatkan kekhawatiran tentang persaingan usaha karena akan mengurangi jumlah pilihan bagi konsumen.

Rencana Hutchison merupakan masalah berbeda. Three merupakan pemain kecil yang memiliki dampak besar dalam menggerakkan harga seperti dengan menawarkan roaming internasional gratis dan akses data tanpa batas. Dan dengan penggabungan Three dan O2, maka akan menciptakan operator terbesar dan mungkin akan membuat tarif telekomunikasi naik.

Otoritas persaingan usaha di Brussels dan London juga ingin mencermati kesepakatan itu, meski mungkin ada pendapat bahwa konsolidasi di pasar mobile paling kompetitif di Eropa itu tidak dapat dielakkan dan akan mendorong lebih banyak investasi untuk jaringan yang lebih baik. Salah satu perusahaan yang khawatir adalah Vodafone. Mereka tidak senang dengan dampak kesepakatan BT dan EE.

Sekarang, Vodafone semakin terdesak di pasar dalam negeri. Hutchison menyatakan, sejumlah negosiasi eksklusif dengan Telefonica akan membutuhkan waktu beberapa pekan. “Para pemegang saham dan investor potensial harus mencatat bahwa negosiasi semacam itu bisa berhasil atau tidak menghasilkan transaksi apa pun,” ujarnya.

Saham Hutchison pun naik 4% setelah pengumuman rencana itu di bursa Hong Kong. Li telah mengucurkan lebih dari 20 miliar pound untuk berbagai akuisisi internasional dalam beberapa tahun terakhir. Awal pekan ini dia menyepakati pembelian Eversholt Rail Group asal Inggris senilai 1,1 miliar pound. Pria berusia 86 tahun ini juga melakukan reorganisasi kerajaan bisnisnya yang meliputi sektor properti, energi, pelabuhan, dan telekomunikasi.

Konglomerat Cheung Kong Holdings dan Hutchison Whampoa dikontrol oleh Li. Dia merencanakan merger atas keduanya dan memisahkan aset properti mereka dalam perusahaan baru yang juga didaftarkan di bursa saham Hong Kong. Langkah ini dilakukannya untuk membuka jalan bagi masa pensiunnya.

Dia ingin melihat perusahaan pengganti memiliki kinerja yang lebih baik. Li merupakan pria terkaya di Asia sejak 2012, tapi dilampaui oleh entrepreneur internet China, Jack Ma, pada Desember.

Syarifudin
(bbg)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Pertamina EP Bukukan...
Pertamina EP Bukukan Produksi Migas 205 Ribu MBOEPD Sepanjang 2025
44 menit yang lalu
Diganjar Rating Negatif...
Diganjar Rating Negatif dari Moody's, Danantara Bilang Begini
58 menit yang lalu
Harga Emas Antam Naik...
Harga Emas Antam Naik Rp11.000 per Gram, Ini Rincian Lengkapnya
1 jam yang lalu
IHSG Pagi Ini Dibuka...
IHSG Pagi Ini Dibuka Hijau Sesaat, Lalu Ambruk Lebih dari 1%
2 jam yang lalu
Dirut BRI Hery Gunardi:...
Dirut BRI Hery Gunardi: Adopsi AI Jadi Kunci Perbankan Pertahankan Nasabah
2 jam yang lalu
Kebijakan Tambang RI...
Kebijakan Tambang RI Berubah-ubah, Investor China Mulai Alihkan Investasi Nikel ke Afrika
3 jam yang lalu
Infografis
APBN Pernah Jebol Nyaris...
APBN Pernah Jebol Nyaris Rp1.000 Triliun, Ini 6 Defisit Terbesar Sepanjang Sejarah Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved