Industri Minyak dan Gas Inggris Mengalami Kinerja Terburuk

Rabu, 25 Februari 2015 - 09:58 WIB
Industri Minyak dan...
Industri Minyak dan Gas Inggris Mengalami Kinerja Terburuk
A A A
LONDON - Industri gas dan minyak Inggris melaporkan kinerja tahunan terburuk dalam empat dekade.

Badan industri minyak dan gas Inggris (Oil & Gas UK) menyatakan, penurunan harga minyak dan naiknya biaya membuat sektor itu harus membelanjakan dan berinvestasi 5,3 miliar pound, melebihi pendapatan dari penjualan selama 2014. Arus kas itu merupakan yang terbesar sejak investasi besar pada era 1970-an. Hasil survei tahunan itu juga mengindikasikan investasi dalam industri minyak dan gas akan turun tahun ini, termasuk aktivitas pengeboran.

“Temuan ini menegaskan pentingnya aksi pemerintah untuk menjamin masa depan jangka panjang industri ini,” ungkap hasil survei Oil & Gas UK, dikutip BBC . Meski tahun lalu ditarget pengeboran 25 sumur, hanya 14 sumur yang dibor, meneruskan tren penurunan. Dan, 50 juta barel cadangan minyak atau gas yang ditemukan.

Tahun ini anggota Oil & Gas UK memperkirakan antara delapan dan 14 sumur eksplorasi akan dibor, dan hanya lima sumur untuk menilai penemuan awal. Langkah tersebut akan mengurangi investasi dalam pengembangan cadangan baru dan perpanjangan ladang-ladang minyak lepas pantai. Hasil survei juga menunjukkan, investasi tahun lalu mencapai 14,8 miliar pound, lebih tinggi dibandingkan proyeksi karena biaya dan proyek yang melebihi perkiraan.

Survei juga memperkirakan penurunan sebesar 9,5 miliar pound hingga 11,3 miliar pound selama tahun ini. Masukan dari para operator lepas pantai menyatakan, investasi yang sangat kecil akan terjadi selama 2015. Investasi tahunan akan turun hingga 2,5 miliar pound dalam tiga tahun, saat berbagai proyek besar mulai produksi. Produksi minyak dan gas turun hanya 1% selama 2014, setelah penurunan tajam tiga tahun sebelumnya.

Akibat level investasi yang tinggi saat ini, produksi diperkirakan akan naik 1% selama tahun ini. Biaya operasional akan terus naik sepanjang tahun lalu, hingga 8% menjadi 9,6 miliar pound. Biaya ekstraksi per barel naik mencapai rekor tertinggi 18,50 pound. Biaya itu diperkirakan turun saat industri memangkas biaya, termasuk langkah kontroversial mengubah pola kerja untuk para pekerja lepas pantai.

Hasil survei menunjukkan, langkah penghematan biaya diperlukan untuk meningkatkan harga minyak hingga 40% per barel jika ada masa depan berkelanjutan bagi sektor minyak dan gas lepas pantai Inggris.

“Meski harga minyak USD110 per barel, kemampuan industri untuk merealisasikan potensi penuh sumber daya minyak dan gas Inggris terhambat oleh naiknya biaya, beban pajak yang besar dan regulasi yang tidak mendukung,” ungkap Chief Executive Officer (CEO) Oil & Gas UK Malcolm Webb.

Syarifudin
(ars)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
8 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
9 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
9 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
10 jam yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
10 jam yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
10 jam yang lalu
Infografis
Inggris: Rusia Alami...
Inggris: Rusia Alami Kekalahan Terburuk Beberapa Bulan Terakhir
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved