Distribusi Tertutup Perlu Segera Diterapkan

Rabu, 04 Maret 2015 - 10:49 WIB
Distribusi Tertutup...
Distribusi Tertutup Perlu Segera Diterapkan
A A A
JAKARTA - Pemerintah diminta segera merealisasikan sistem distribusi tertutup elpiji kemasan 3 kg. Sistem tersebut dapat memberi kepastian bahwa elpiji bersubsidi diterima oleh masyarakat sasaran dan tidak disalahgunakan oleh pihakpihak yang tidak berhak.

”Dengan begitu, subsidi tetap sampai kepada masyarakat ekonomi lemah. Sementara kalangan komersial seperti restoran dan industri, serta masyarakat mampu, diharuskan membeli elpiji kemasan 12 kg atau lebih yang tidak disubsidi,” ujar pengamat energi Maizar Rahman di Jakarta kemarin. Mantan Sekjen OPEC ini mengatakan, masalah elpiji 3 kg dari sisi masyarakat adalah stabilitas pasokan dan adanya kelangkaan.

Penyebabnya adalah penyimpangan di sisi konsumen melalui sisi lemah distribusi. Selama ini ada pembelian oleh konsumen yang tidak berhak. Bahkan, terjadi pula aksi pengoplosan untuk mendapatkan keuntungan dari perbedaan harga yang sangat signifikan antara elpiji bersubsidi dan nonsubsidi. Padahal, bagi masyarakat yang telah kehilangan minyak tanah, elpiji 3 kg adalah sumber energi utama untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka.

”Tapi, selama ini tidak ada larangan bagi warga untuk membeli elpiji 3 kg meski statusnya mampu. PermenESDM26/ 2009 tidak spesifik dan hanya menyebut rumah tangga dan usaha mikro yang boleh menggunakan elpiji bersubsidi,” tuturnya. Karena itu, Maizar menganggap sudah saatnya pemerintah membenahi regulasi elpiji bersubsidi dengan menerapkan sistem distribusi tertutup.

Dengan sistem terbuka seperti saat ini, tidak mudah mengawasi mekanisme penyaluran elpiji 3 kg. Sebab, terdapat sedikitnya 3.400 lokasi agen elpiji 3 kg, 150.000 pangkalan, plus 1,5 juta pengecer yang tersebar di seluruh Indonesia. ”Jumlah itu masih ditambah angka pengguna elpiji 3 kg sekitar 57 juta kepala keluarga dan masyarakat lain yang bukan penerima paket konversi minyak tanah,” ungkap Maizar.

Senada dengannya, Direktur Eksekutif Forum Kajian Energi dan Mineral Indonesia (Forkei) Sabpri Piliang mengatakan, adanya disparitas harga yang cukup besar akan terus memicu migrasi pengguna dari elpiji nonsubsidi ke elpiji bersubsidi. Tanpa langkah tegas menerapkan regulasi baru yang menjamin penggunaan elpiji subsidi tepat sasaran, pemerintah berpotensi diberatkan oleh membengkaknya beban subsidi di masa datang.

”Negara bakal makin tekor menambal beban subsidi. Padahal di sisi lain, pemerintahan saat ini telah memotong drastis anggaran subsidi energi sebesar Rp206,9 triliun menjadi Rp137,8 triliun dalam APBN-P 2015, dari pagu APBN induk 2015 sebesar Rp344,7 triliun,” ujarnya.

Anton c
(bbg)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Harga Emas Antam Naik...
Harga Emas Antam Naik Rp11.000 per Gram, Ini Rincian Lengkapnya
34 menit yang lalu
IHSG Pagi Ini Dibuka...
IHSG Pagi Ini Dibuka Hijau Sesaat, Lalu Ambruk Lebih dari 1%
1 jam yang lalu
Dirut BRI Hery Gunardi:...
Dirut BRI Hery Gunardi: Adopsi AI Jadi Kunci Perbankan Pertahankan Nasabah
1 jam yang lalu
Kebijakan Tambang RI...
Kebijakan Tambang RI Berubah-ubah, Investor China Mulai Alihkan Investasi Nikel ke Afrika
2 jam yang lalu
Saatnya Bayar Tagihan...
Saatnya Bayar Tagihan PBB-P2, Ada Diskon 7,5% hingga 31 Juli 2026
3 jam yang lalu
Barat Remehkan Blokade...
Barat Remehkan Blokade Selat Hormuz, Pasokan Minyak Dunia di Titik Kritis
3 jam yang lalu
Infografis
Virus Hanta Merebak!...
Virus Hanta Merebak! Ini 5 Gejalanya yang Perlu Diwaspadai
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved