Pertumbuhan Ekonomi Lambat, Penjualan Mobil Mewah Anjlok

Rabu, 22 April 2015 - 11:19 WIB
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Lambat, Penjualan Mobil Mewah Anjlok
A A A
SHANGHAI - Saat produsen mobil mewah asal Italia, Maserati, memasuki China satu dekade silam, produknya terjual kurang dari 40 mobil pada tahun pertama.

Penjualan sebesar itu wajar karena merek Maserati memang belum banyak dikenal konsumen China saat itu. Tahun lalu Negeri Panda menjadi pasar terbesar kedua Maserati saat penjualan mobil-mobil sportnya, termasuk Quattroporte, mencapai total 9.400 unit, naik dua kali lipat dari 2013.

Perlu diketahui, Quattroporte dibanderol hingga USD377.000 per unit. Meski demikian, saat ini Chief Executive Officer (CEO) Maserati Harald Wester mengakui, perusahaannya akan bekerja keras hanya untuk mempertahankan level itu tahun ini. Jelas, pesta sudah berakhir untuk pasar mobil mewah di China seiring melemahnya pertumbuhan ekonomi di Raksasa Asia tersebut.

Tidak hanya itu, pemberantasan korupsi yang dimotori Pemimpin Partai Komunis China Xi Jinping membuat banyak orang berupaya menyembunyikan kekayaannya dengan tidak membeli mobil mewah. ”Tahun lalu fantastis,” ujar Wester sambil menyedot air mineral di lantai atas museum seni Shanghai, menjelang pameran automotif China.

”Target tahun ini mempertahankan kurang lebih volume tahun lalu, itu tugas yang sangat sulit. Kami semua tahu tentang penurunan pertumbuhan.” Ekonomi China tumbuh 7,4% tahun lalu, paling lemah sejak 1990. Itu artinya, Maserati juga mengalami penurunan penjualan di China dan harus tetap melayani konsumen yang telah ada, membangun jaringan dealer dan menunggu kehadiran Levante SUV (sports utility vehicle ) pada 2016.

Para eksekutif Maserati menuturkan, para konsumen China mereka merupakan para entrepreneur muda, hampir setengahnya perempuan. Mereka menyangkal menjual produknya pada para pejabat pemerintah yang mungkin tertangkap dalam kampanye pemberantasan korupsi yang sekarang sudah berjalan dua tahun.

Kendati demikian, pemberantasan korupsi juga membuat banyak orang enggan memamerkan kekayaannya sehingga hal itu memengaruhi penjualan mobil mewah. ”Saat seluruh masyarakat melihat beberapa orang yang memiliki harta lebih banyak dibandingkan orang lain, hal itu dapat membuat orang-orang kaya ini ragu menunjukkan kekayaannya,” papar Wester, dikutip kantor berita AFP .

Sejumlah foto yang di-posting di internet yang menunjukkan rongsokan mobil Lamborghini warna hijau dan Ferrari warna merah setelah bertabrakan dalam balapan di jalanan Beijing bulan ini, juga memicu kemarahan publik. Orang-orang menanyakan siapa yang memiliki mobilmobil mewah tersebut.

Adapun produsen mobil asal Jerman, Daimler, yakinpihaknya mungkin memiliki solusi dengan produk terbarunya, Mercedes- Maybach S600. Mereka berharap, produk itu dapat memiliki pasar di China.

”Maybach merupakan mobil yang sangat eksklusif, tapi masih terjangkau,” ujar Hubertus Troska, anggota dewan manajemen Daimler penanggung jawab untuk pasar China.

Syarifudin
(ftr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Saksikan Sore Ini, IG...
Saksikan Sore Ini, IG Live MNC Sekuritas Bersama Danapathi AM: Di Tengah Ketidakpastian, Uang Harus Ke Mana?
1 jam yang lalu
Harga Emas Ambles Rp24...
Harga Emas Ambles Rp24 Ribu Jadi Rp2.689.000 per Gram, Buyback Terjun Bebas Rp92.000
2 jam yang lalu
IHSG Dibuka Terpeselet...
IHSG Dibuka Terpeselet ke Zona Merah, Sentuh 5.899 Ditopang Transaksi Rp1,6 Triliun
3 jam yang lalu
Harga BBM Nonsubsidi...
Harga BBM Nonsubsidi Mendadak Naik di Tengah Malam, DPR Bakal Panggil ESDM dan Pertamina
3 jam yang lalu
Harga Pertamax Tembus...
Harga Pertamax Tembus Rp16.250 per Liter, Awas! Ledakan Migrasi ke BBM Subsidi
4 jam yang lalu
Skenario Terburuk Pasar...
Skenario Terburuk Pasar Energi 2026: Exxon Peringatkan Harga Minyak Dunia Bakal Tembus USD160/Barel
4 jam yang lalu
Infografis
Bakar Uang Demi Perang:...
Bakar Uang Demi Perang: Jejak Kelam Ekonomi Militer AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved