Kenaikan Tarif KA Dongkrak Inflasi Jateng
Senin, 04 Mei 2015 - 23:06 WIB
Kenaikan Tarif KA Dongkrak Inflasi Jateng
A
A
A
SEMARANG - Kenaikan harga tiket kereta api (KA) yang mulai diterapkan pada awal April, berdampak terhadap kenaikan inflasi di Jawa Tengah (Jateng). Terbukti, kenaikan tiket KA ini menjadi salah satu komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terjadinya inflasi.
Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng Jam Jam Zamachsyari mengatakan, inflasi di Jateng pada April sebesar 0,17 % atau naik 0,1% dari bulan sebelumnya sebesar 0,16 %.
Berdasarkan hasil pemantauan BPS Provinsi Jateng, pada April 2015 indeks harga konsumen (IHK) sebesar 117,85 sedikit lebih tinggi dibanding Maret 2015 dengan IHK sebesar 117,65.
Inflasi, kata Jam Jam, terjadi terutama disebabkan adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks sejumlah kelompok, dan paling tinggi ditunjukan pada kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 1,84 %.
"Kenaikan tarif kereta api, bensin, bawang putih, bahan bakar rumah tangga dan gula pasir menjadi komoditas utama yang menyebabkan kenaikan inflasi di Jateng," katanya di Semarang, Senin (4/5/2015).
Namun, kenaikan harga sejumlah komoditi tersebut dapat ditekan dengan penurunan indeks harga yang terjadi. Sedangkan deflasi yang ditunjukkan dengan penurunan indeks terjadi pada kelompok bahan makanan sebesar 1,39%.
Komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain beras, cabai rawit, wortel, tarip listrik, kentang, besi beton, salak, minyak goreng, sawi hijau, melon, semen, pisang, ketimun, terong panjang, keramik, anggur, udang basah, daging ayam ras, mujair dan jambu batu.
"Meskipun ada kenaikan disejumlah komoditi, namun dapat ditekan dengan penurunan harga komoditi pokok seperti beras, tarif listrik dan minyak goreng," imbuh dia.
Menurutnya, dari enam kota SBH, lima kota mengalami inflasi dan satu kota mengalami deflasi. Kota SBH yang mengalami inflasi tertinggi adalah Kota Surakarta sebesar 0,35% dengan IHK sebesar 116,10 diikuti Kota Kudus sebesar 0,21% dengan IHK sebesar 123,47.
Selanjutnya, inflasi juga terjadi di Kota Semarang sebesar 0,17% dengan IHK sebesar 117,86; Kota Purwokerto sebesar 0,15% dengan IHK sebesar 116,66 dan inflasi terendah terjadi di Kota Cilacap sebesar 0,02% dengan IHK sebesar 120,76. Sedangkan deflasi terjadi di Kota Tegal sebesar 0,10% dengan IHK sebesar 114,30.
Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng Jam Jam Zamachsyari mengatakan, inflasi di Jateng pada April sebesar 0,17 % atau naik 0,1% dari bulan sebelumnya sebesar 0,16 %.
Berdasarkan hasil pemantauan BPS Provinsi Jateng, pada April 2015 indeks harga konsumen (IHK) sebesar 117,85 sedikit lebih tinggi dibanding Maret 2015 dengan IHK sebesar 117,65.
Inflasi, kata Jam Jam, terjadi terutama disebabkan adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks sejumlah kelompok, dan paling tinggi ditunjukan pada kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 1,84 %.
"Kenaikan tarif kereta api, bensin, bawang putih, bahan bakar rumah tangga dan gula pasir menjadi komoditas utama yang menyebabkan kenaikan inflasi di Jateng," katanya di Semarang, Senin (4/5/2015).
Namun, kenaikan harga sejumlah komoditi tersebut dapat ditekan dengan penurunan indeks harga yang terjadi. Sedangkan deflasi yang ditunjukkan dengan penurunan indeks terjadi pada kelompok bahan makanan sebesar 1,39%.
Komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain beras, cabai rawit, wortel, tarip listrik, kentang, besi beton, salak, minyak goreng, sawi hijau, melon, semen, pisang, ketimun, terong panjang, keramik, anggur, udang basah, daging ayam ras, mujair dan jambu batu.
"Meskipun ada kenaikan disejumlah komoditi, namun dapat ditekan dengan penurunan harga komoditi pokok seperti beras, tarif listrik dan minyak goreng," imbuh dia.
Menurutnya, dari enam kota SBH, lima kota mengalami inflasi dan satu kota mengalami deflasi. Kota SBH yang mengalami inflasi tertinggi adalah Kota Surakarta sebesar 0,35% dengan IHK sebesar 116,10 diikuti Kota Kudus sebesar 0,21% dengan IHK sebesar 123,47.
Selanjutnya, inflasi juga terjadi di Kota Semarang sebesar 0,17% dengan IHK sebesar 117,86; Kota Purwokerto sebesar 0,15% dengan IHK sebesar 116,66 dan inflasi terendah terjadi di Kota Cilacap sebesar 0,02% dengan IHK sebesar 120,76. Sedangkan deflasi terjadi di Kota Tegal sebesar 0,10% dengan IHK sebesar 114,30.
(izz)
Lihat Juga :