Tata Kelola AI yang Aman dan Manusiawi Jadi Pilar Utama di Era Digital
Kamis, 30 Oktober 2025 - 20:50 WIB
Konferensi tahunan Governance, Risk, Assurance, and Cybersecurity Summit & Indonesia Privacy and Security Summit (GRACS IPSS) 2025. FOTO/dok.SindoNews
JAKARTA - Tata kelola kecerdasan buatan (AI) yang aman dan beretika ditegaskan menjadi pilar utama dalam menjamin keamanan dan keberlanjutan ekosistem digital di Indonesia, seiring dengan pesatnya adopsi teknologi AI di berbagai sektor.
Penekanan ini menjadi sorotan utama dalam konferensi tahunan Governance, Risk, Assurance, and Cybersecurity Summit & Indonesia Privacy and Security Summit (GRACS IPSS) 2025. Acara tersebut merupakan kolaborasi strategis antara ISACA Indonesia Chapter dengan perusahaan teknologi terkemuka, Grab Indonesia, dan OVO.
Mengusung tema “Trust by Design: Privacy, Security, and AI Governance for the Future,” konferensi ini berfungsi sebagai wadah bagi lebih dari 20 narasumber nasional dan internasional, termasuk regulator, akademisi, dan profesional industri, untuk merumuskan standar dan praktik terbaik dalam mengelola risiko digital.
Strategic Business Unit Manager-Digital Trust SGS, Allan Rahadian, menyebutkan pentingnya penerapan standar tata kelola yang jelas dalam pemanfaatan teknologi AI.
"Penerapan AI yang bertanggung jawab menuntut adanya tata kelola yang jelas. Solusinya dimulai dengan mengadopsi kerangka tata kelola AI yang diakui dan membangun struktur tata kelola yang kokoh. Ini bukan hanya soal teknis, tapi juga harus mencakup penetapan kebijakan, etika, dan akuntabilitas,” ungkap Allan di Jakarta.
Baca Juga: Amazon Umumkan PHK Massal 14.000 Pegawai, Ingin Fokus AI
Penekanan ini menjadi sorotan utama dalam konferensi tahunan Governance, Risk, Assurance, and Cybersecurity Summit & Indonesia Privacy and Security Summit (GRACS IPSS) 2025. Acara tersebut merupakan kolaborasi strategis antara ISACA Indonesia Chapter dengan perusahaan teknologi terkemuka, Grab Indonesia, dan OVO.
Mengusung tema “Trust by Design: Privacy, Security, and AI Governance for the Future,” konferensi ini berfungsi sebagai wadah bagi lebih dari 20 narasumber nasional dan internasional, termasuk regulator, akademisi, dan profesional industri, untuk merumuskan standar dan praktik terbaik dalam mengelola risiko digital.
Strategic Business Unit Manager-Digital Trust SGS, Allan Rahadian, menyebutkan pentingnya penerapan standar tata kelola yang jelas dalam pemanfaatan teknologi AI.
"Penerapan AI yang bertanggung jawab menuntut adanya tata kelola yang jelas. Solusinya dimulai dengan mengadopsi kerangka tata kelola AI yang diakui dan membangun struktur tata kelola yang kokoh. Ini bukan hanya soal teknis, tapi juga harus mencakup penetapan kebijakan, etika, dan akuntabilitas,” ungkap Allan di Jakarta.
Baca Juga: Amazon Umumkan PHK Massal 14.000 Pegawai, Ingin Fokus AI
Lihat Juga :