Ketika Sampah Menjadi Sumber Daya, Strategi Sirkular Lippo Karawaci

Rabu, 17 Juni 2026 - 12:47 WIB
PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) memperkuat berbagai inisiatif pengelolaan limbah di seluruh lini bisnisnya. Perusahaan menargetkan pengalihan sedikitnya 3.000 ton limbah dari TPA setiap tahun. Foto/Dok. SindoNews
JAKARTA - Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu lingkungan dan perubahan iklim, pengelolaan limbah tidak lagi dipandang sebagai sekadar kewajiban operasional perusahaan. Bagi banyak korporasi, limbah kini menjadi bagian penting dari strategi keberlanjutan yang dapat menciptakan nilai ekonomi sekaligus mengurangi dampak terhadap lingkungan.

Kesadaran inilah yang mendorong PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) memperkuat berbagai inisiatif pengelolaan limbah di seluruh lini bisnisnya. Presiden Direktur LPKR, Indra Yuwana menekankan, penerapan prinsip ekonomi sirkular tidak hanya mendukung pencapaian target keberlanjutan perseroan. ”Ini juga merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan bagi generasi mendatang,” katanya dalam siaran pers, Rabu (17/6/2026). Baca juga: Wamen LH Tekankan Pentingnya Kolaborasi Regional dalam Hadapi Tantangan Pengelolaan Limbah



Melalui Agenda Keberlanjutan 2030, perusahaan menargetkan pengalihan sedikitnya 3.000 ton limbah dari tempat pembuangan akhir (TPA) setiap tahun. Target tersebut menjadi bagian dari upaya lebih luas untuk mendorong efisiensi sumber daya, meningkatkan tingkat daur ulang, dan mendukung praktik ekonomi sirkular.

Pendekatan yang diterapkan berlandaskan prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R). Tidak hanya melibatkan karyawan, program ini juga mengajak penghuni kawasan, pengunjung, tenant, hingga mitra pengelolaan limbah dari sektor publik maupun swasta untuk berpartisipasi dalam pengurangan timbulan sampah.

Di sektor perhotelan, Aryaduta menjalankan berbagai langkah untuk meningkatkan sirkularitas sumber daya. Hotel-hotel dalam jaringan tersebut menerapkan sistem pemilahan sampah yang terstandarisasi, termasuk pemisahan limbah kering, basah, dan material yang dapat didaur ulang.

Berbagai material seperti botol plastik, kardus, dan minyak jelantah dikumpulkan untuk diproses kembali. Selain itu, penggunaan botol sabun dan sampo sekali pakai telah digantikan dengan dispenser isi ulang, sementara sistem berbasis QR code membantu mengurangi konsumsi kertas dalam operasional sehari-hari.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!