Pembangunan Infrastruktur Migas Harus Didukung Pasokan yang Terukur
Rabu, 04 November 2020 - 07:35 WIB
Sebelum membangun infrastruktur, perusahaan migas harus memastikan dari mana sumber pasokan migasnya serta potensi pasar yang akan menyerap energi tersebut. Foto/dok
JAKARTA - Infrastruktur dinilai sebagai salah satu kunci dalam pengembangan bisnis minyak dan gas (migas) . Untuk itu, sebelum membangun infrastruktur, perusahaan migas harus memastikan dari mana sumber pasokan migasnya serta potensi pasar yang akan menyerap energi tersebut.
"Selanjutnya, aspek teknologi dan komersial akan menjadi faktor penentu, apakah infrastruktur yang dibangun tersebut mampu menciptakan multiplier bisnis secara maksimal dalam kurun waktu tertentu kepada pelaku ekonomi," kata Komisaris Utama PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) Arcandra Tahar dalam unggahan di laman instagramnya @arcandra.tahar kemarin. (Baca: Biaya Operasional Pendidikan Terlambat Cair, Ada Apa?)
Lebih jauh Arcandra menjelaskan, saat ini PGN terus melakukan berbagai upaya untuk tetap mengembangkan infrastruktur di berbagai daerah. Mengingat dampak pandemi Covid-19 terhadap berbagai sektor ekonomi sangat besar, termasuk berkurangnya konsumsi energi, PGN juga dituntut untuk menjalankan efisiensi sebaik mungkin.
Menurut dia, proses efisiensi yang dilakukan PGN telah dimulai sejak awal, yaitu ketika sebuah proyek infrastruktur akan dibangun. Tim di internal PGN akan merumuskan dan menentukan terlebih dahulu beberapa aspek strategis dan teknis yang harus dilalui sampai akhirnya bisnis berjalan secara optimal.
"Misalnya pada tahap awal, harus ditentukan target bisnis proyek tersebut secara jelas, terukur, berdasarkan data yang valid. Deadline dan milestone yang akan dicapai harus clear dengan didukung oleh pemahaman yang matang terhadap pasar atau konsumen," jelasnya. (Baca juga: Kenali dan Jangan Remehkan Gejala Long Covid-19)
Dia menuturkan, sebelum konstruksi dari sebuah infrastruktur akhirnya dibangun, maka tim proyek itu harus melalui beberapa fase strategis. Seperti identifikasi atas partner-partner strategis ataupun eksisting klien yang memungkinkan untuk menjadi bagian dari target proyek baru tersebut. Jika konsumen dari rencana proyek sudah jelas, langsung dilakukan pengikatan kerja sama melalui MoU.
"Selanjutnya, aspek teknologi dan komersial akan menjadi faktor penentu, apakah infrastruktur yang dibangun tersebut mampu menciptakan multiplier bisnis secara maksimal dalam kurun waktu tertentu kepada pelaku ekonomi," kata Komisaris Utama PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) Arcandra Tahar dalam unggahan di laman instagramnya @arcandra.tahar kemarin. (Baca: Biaya Operasional Pendidikan Terlambat Cair, Ada Apa?)
Lebih jauh Arcandra menjelaskan, saat ini PGN terus melakukan berbagai upaya untuk tetap mengembangkan infrastruktur di berbagai daerah. Mengingat dampak pandemi Covid-19 terhadap berbagai sektor ekonomi sangat besar, termasuk berkurangnya konsumsi energi, PGN juga dituntut untuk menjalankan efisiensi sebaik mungkin.
Menurut dia, proses efisiensi yang dilakukan PGN telah dimulai sejak awal, yaitu ketika sebuah proyek infrastruktur akan dibangun. Tim di internal PGN akan merumuskan dan menentukan terlebih dahulu beberapa aspek strategis dan teknis yang harus dilalui sampai akhirnya bisnis berjalan secara optimal.
"Misalnya pada tahap awal, harus ditentukan target bisnis proyek tersebut secara jelas, terukur, berdasarkan data yang valid. Deadline dan milestone yang akan dicapai harus clear dengan didukung oleh pemahaman yang matang terhadap pasar atau konsumen," jelasnya. (Baca juga: Kenali dan Jangan Remehkan Gejala Long Covid-19)
Dia menuturkan, sebelum konstruksi dari sebuah infrastruktur akhirnya dibangun, maka tim proyek itu harus melalui beberapa fase strategis. Seperti identifikasi atas partner-partner strategis ataupun eksisting klien yang memungkinkan untuk menjadi bagian dari target proyek baru tersebut. Jika konsumen dari rencana proyek sudah jelas, langsung dilakukan pengikatan kerja sama melalui MoU.
Lihat Juga :