Wow, Nominal Transaksi Elektronik di April Capai Rp17,6 Triliun
Jum'at, 17 Juli 2020 - 18:52 WIB
loading...
Penggunaan transaksi elektronik di tengah era pandemi virus corona atau Covid-19 mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Di mana pada bulan April 2020 nominal transaksi mencapai Rp17,6 triliun. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Penggunaan transaksi elektronik di tengah era pandemi virus corona atau Covid-19 mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Di mana pada bulan April 2020 nominal transaksi mencapai Rp17,6 triliun.
(Baca Juga: Lompatan Tinggi Ekonomi Digital Dalam Kurun Waktu Tiga Tahun )
Deputi Gubenur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan hal ini menunjukkan ticket size transaksi uang elektronik. "Dengan kondisi new normal sekarang, digital jadi keniscayaan. Teknologi sangat dibutuhkan baik untuk informasi dan komunikasi," kata Destry dalam diskusi virtual, Jumat (17/7/2020).
(Baca Juga: 50% Startup Digital Mampu Bertahan di Tengah Krisis )
Dia menyatakan, Indonesia tak bisa terlalu lama menjalani perekonomian dengan sistem survival mode atau era new normal. Di mana harus melangkah ke tahap pemulihan dan pertumbuhan, yakni next normal.
"Kita harus masuk ke recovery dan growth mode, yaitu next normal, dimana untuk menuju itu kita harus Agile, Adaptive dan Innovative," ujarnya.
(Baca Juga: Himbara Usung Program Digiku, Bantuan Modal Rp4,2 Triliun Ngucur ke 1 Juta UMKM )
Sambung dia menjelaskan, yang dimaksud dengan agile adalah mencari setiap celah pemasukan dengan cara menciptakan peluang baru. Lalu, adaptive ialah tetap mematuhi protokol pencegahan Covid-19. Terakhir, innovative, yakni tak pernah berhenti membuat inovasi dalam setiap menjalankan usaha.
"Di tengah tantangan yang berat, manusia dihadapkan terhadap opportunity baru agar mampu bertahan dan bangkit kembali di era new normal," ujarnya.
(Baca Juga: Lompatan Tinggi Ekonomi Digital Dalam Kurun Waktu Tiga Tahun )
Deputi Gubenur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan hal ini menunjukkan ticket size transaksi uang elektronik. "Dengan kondisi new normal sekarang, digital jadi keniscayaan. Teknologi sangat dibutuhkan baik untuk informasi dan komunikasi," kata Destry dalam diskusi virtual, Jumat (17/7/2020).
(Baca Juga: 50% Startup Digital Mampu Bertahan di Tengah Krisis )
Dia menyatakan, Indonesia tak bisa terlalu lama menjalani perekonomian dengan sistem survival mode atau era new normal. Di mana harus melangkah ke tahap pemulihan dan pertumbuhan, yakni next normal.
"Kita harus masuk ke recovery dan growth mode, yaitu next normal, dimana untuk menuju itu kita harus Agile, Adaptive dan Innovative," ujarnya.
(Baca Juga: Himbara Usung Program Digiku, Bantuan Modal Rp4,2 Triliun Ngucur ke 1 Juta UMKM )
Sambung dia menjelaskan, yang dimaksud dengan agile adalah mencari setiap celah pemasukan dengan cara menciptakan peluang baru. Lalu, adaptive ialah tetap mematuhi protokol pencegahan Covid-19. Terakhir, innovative, yakni tak pernah berhenti membuat inovasi dalam setiap menjalankan usaha.
"Di tengah tantangan yang berat, manusia dihadapkan terhadap opportunity baru agar mampu bertahan dan bangkit kembali di era new normal," ujarnya.
(akr)
Lihat Juga :