Dongkrak Ekspor ke AS, Kemendag Targetkan GSP Segera Rampung
Kamis, 23 Juli 2020 - 14:58 WIB
loading...
Kemendag mendorong percepatan penyelesaian perundingan GSP agar ekspor ke Amerika Serikat (AS) dapat digenjot. Foto/Ilustrasi
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah tengah mendorong penyelesaian perpanjangan Generalized System of Preference (GSP) untuk mendongkrak ekspor ke Amerika Serikat (AS). Fasilitas kemudahan ekspor tersebut diharapkan tuntas dalam waktu dekat.
Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga menilai, GSP sangat penting karena dengan skema ini Indonesia mendapatkan pengurangan tarif sehingga diharapkan mendorong volume ekspor.
"Dampaknya cukup baik. Berdasarkan data kami, pada 2018 nilai ekspor Indonesia dari pos tarif yang mendapatkan fasilitas GSP naik 10% dari USD1,9 miliar menjadi USD2,2 miliar. Pada tahun lalu meningkat lagi hingga lebih dari USD2,5 miliar," kata Jerry, Kamis (23/7/2020).
Jerry mengakui masih ada hambatan dalam percepatan perundingan GSP. Salah satunya permintaan AS agar Indonesia mengubah kebijakan data transaksi dagang dan impor hortikultura. Meski begitu, dia yakin hal tersebut bisa diselesaikan dengan baik.
"Ada banyak isu dalam pembahasan GSP ini. Sebagian besar sudah kita selesaikan, tinggal dua itu. Jadi kita optimis yang dua itu juga bisa kita selesaikan," ujarnya.
(Baca Juga: Ekspor Furnitur RI ke Amerika Melonjak 51,3% Saat Pandemi, Terbanyak ke California)
Upaya penyelesaian isu-isu GSP telah dilakukan secara maraton baik secara internal maupun dengan mitra, dalam hal ini AS. Perundingan sudah digelar sejak akhir 2019.
Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga menilai, GSP sangat penting karena dengan skema ini Indonesia mendapatkan pengurangan tarif sehingga diharapkan mendorong volume ekspor.
"Dampaknya cukup baik. Berdasarkan data kami, pada 2018 nilai ekspor Indonesia dari pos tarif yang mendapatkan fasilitas GSP naik 10% dari USD1,9 miliar menjadi USD2,2 miliar. Pada tahun lalu meningkat lagi hingga lebih dari USD2,5 miliar," kata Jerry, Kamis (23/7/2020).
Jerry mengakui masih ada hambatan dalam percepatan perundingan GSP. Salah satunya permintaan AS agar Indonesia mengubah kebijakan data transaksi dagang dan impor hortikultura. Meski begitu, dia yakin hal tersebut bisa diselesaikan dengan baik.
"Ada banyak isu dalam pembahasan GSP ini. Sebagian besar sudah kita selesaikan, tinggal dua itu. Jadi kita optimis yang dua itu juga bisa kita selesaikan," ujarnya.
(Baca Juga: Ekspor Furnitur RI ke Amerika Melonjak 51,3% Saat Pandemi, Terbanyak ke California)
Upaya penyelesaian isu-isu GSP telah dilakukan secara maraton baik secara internal maupun dengan mitra, dalam hal ini AS. Perundingan sudah digelar sejak akhir 2019.
Lihat Juga :