alexametrics

Sensus Ekonomi BPS 2016 Capai 85%

loading...
Sensus Ekonomi BPS 2016 Capai 85%
Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, hingga saat ini masih banyak perusahaan dan rumah tangga yang belum mengikuti survei sensus ekonomi 2016/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan hingga saat ini masih banyak perusahaan dan rumah tangga yang belum mengikuti survei sensus ekonomi 2016. Sementara cakupan wilayah pendataan secara nasional sudah mencapai 85% dimana program ini sudah dilakukan sejak awal Mei lalu.

Kendati demikian, Kepala BPS Suryamin belum bisa memperkirakan jumlah usaha yang akan bertambah dibandingkan sensus ekonomi 10 tahun lalu. Sebelumnya BPS melalui sensus ekonomi mencatat ada 22,6 juta usaha di Indonesia.

"Sampai tadi pagi 85% wilayah. Kalau berapa total usaha saya tidak akan bilang karena masih di jalan juga kan ya. Intinya sepuluh tahun lalu ada 22,6 juta usaha sebagai patokan," ucapnya di Jakarta, Jumat (27/5/2016).



(Baca Juga: BPS Beberkan Kendala Sensus Ekonomi 2016)

Dia juga menerangkan dalam melakukan pendataan, petugas sensus akan berupaya menggali informasi dari tiap rumah tangga. Tahapan pertama, BPS akan menanyakan jumlah anggota keluarga.

"Jadi untuk mengggali di setiap anggota rumah tangga ada dua tahap dalam wawancanya di dalam sensus ini. Jadi, pertama itu ada siapa saja di rumah tangga dari istri sampai dengan anaknya," sambung dia.

(Baca Juga: Sensus Ekonomi 2016, JK Jamin Tak Ada Pertanyaan Soal Pajak)

Setelah itu lanjutnya, BPS akan menanyakan apakah ada kegiatan usaha yang dimiliki oleh anggota di dalam rumah tangga tersebut. Terkait pertanyaan itu, masih harus terus ada pengawasan.

"Terus masing-masing kita tanya punya kegiatan usaha tidak, mungkin itu yang masih harus ada pengawasnya. Jadi terus kita gali supaya juga di masyarakat tidak ada ketakutan, bisa saja anaknya punya bisnis online kan tidak kasat mata," ungkap dia.

Suryamin menginginkan, masyarakat bisa memberikan informasi dengan sejujurnya dan tidak menutupi apa saja usaha yang dimilikinya. "Kita inginya itu terbuka jangan diumpet-umpetin. Jadi nanti kita tahu jumlahnya ada berapa, ini kan potensi ekonomi," tutupnya.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak