alexametrics

Inflasi Mei 2016 Tergolong Kecil, Bukti Intervensi Pemerintah Luar Biasa

loading...
Inflasi Mei 2016 Tergolong Kecil, Bukti Intervensi Pemerintah Luar Biasa
BPS menilai intervensi pemerintah luar biasa dalam mengantisipasi gejolak harga. (Foto: Ilustrasi/Sindonews)
A+ A-
JAKARTA - Anggapan bahwa pemerintah tidak melakukan intervensi dalam menangani gejolak harga sedikit keliru. Deputi Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Sasmito Hadi Wibowo mengatakan pemerintah melakukan intervensi luar biasa terhadap harga kebutuhan sehingga inflasi Mei 2016 hanya 0,24%. Pada Mei tahun-tahun sebelumnya, inflasi selalu menyentuh angka 0,5%.

Menurut Sasmito, intervensi pemerintah juga terlihat saat memasuki bulan Ramadhan, dimana pemerintah harus turut campur agar harga kebutuhan rumah tangga tidak melonjak.

“Kalau saya melihat intervensi pemerintah luar biasa. Pertama dari crude, baik YoY (years on years) maupun yang akumulasi. Itu terutama dari penurunan BBM dan tarif listrik bahkan penurunan tarif angkutan sehingga kita lihat intervensi yang besar," tuturnya di Jakarta, Rabu (1/6/2016).



Kalkulasi dia, hal di atas penting untuk angkutan barang dan jasa. Sehingga listrik, BBM dan angkutan sebagai sarana distribusi mengalami penurunan tarif.

(Baca: Empat Komponen Ini Turun saat Inflasi Mei 0,24%)

"Sehingga barang-barang yang diangkut juga tidak naik . Makanya inflasinya kita kecil," kata Sasmito.

Namun demikian, pemerintah juga harus mewanti-wanti inflasi di Juni-Juli karena bertepatan dengan Ramadhan dan Idul Fitri, dimana harga barang menjadi melonjak harganya. Jangan sampai inflasi yang sudah dijaga dengan baik turut melonjak karena adanya momen tersebut.

"Yang harus dijaga itu sebetulnya Juni-Juli karena ada hari raya. Jangan sampai inflasinya melonjak karena harga-harga yang tinggi. Itu harus diamankan," pungkasnya.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak