alexametrics

Produksi Padi 2016 Diprediksi Terbesar Sepanjang RI Merdeka

Hasil produksi beras tahun ini, tercatat sudah melampaui target produksi 2017 yang dipatok 77 juta ton. Pemerintah akan melakukan sejumlah upaya salah satunya pencetakan sawah baru dan perluasan areal pangan lainnya. Selain itu, juga akan merehabilitasi dan memperluas jaringan irigasi, rehabilitasi daerah aliran sungai hulu, serta membangun waduk dan embung.

Pemerintah juga memastiikan tidak akan mengeluarkan kebijakan untuk melakukan impor beras di awal tahun 2017 karena dalam waktu 3-5 bulan ke depan stok beras nasional akan aman. Kepastian ini diperoleh setelah melakukan koordinasi dengan Perpadi (Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia), Pasar Induk Cipinang dan Bulog.

Tercatat, jumlah stok beras yang dimiliki oleh pedagang kurang lebih sebanyak 15 juta hingga 18 juta ton yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga Mei 2017, sementara yang ada di Perum Bulog hingga saat ini sebanyak 1,8 juta ton. Pemerintah menyatakan bahwa dengan jumlah stok beras tersebut, pasokan dalam kondisi aman. Saat ini, harga beras kualitas medium di Pasar Induk Beras Cipinang Rp8.500,00 sampai dengan Rp9.500 per kilogram.

Pemerintah juga berupaya untuk mengoptimalkan sistem resi gudang terintegrasi, mulai dari pengeringan hingga penggilingan. Dengan mengoptimalkan skema tersebut, diharapkan bisa membantu para petani untuk skema keuangan dan pembiayaan.

Pengamat Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Hermanto J. Siregar mengatakan, pemerintah tidak boleh lengah meski produksi padi tahun 2016 naik signifikan, karena tantangan kedepan akan makin berat.

"Hasil produksi padi 7,9 juta ton ini sangat bagus, tapi pemerintah tidak boleh lengah harus terus meningkatkan kinerja dan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang strategis. Karena kedepan tantangannya pasti lebih besar," ujar Hermanto saat dihubungi di Bogor.

Menurutnya, bila salah dalam menentukan kebijakan saat terjadi el nino dan la nina, pasti Indonesia akan mengalami krisis pangan. "Saat ada el nino pemerintah bergerak cepat sehingga banyak menyelamatkan hasil produksi. Dan saat terjadi la nina, pemerintah juga justru bisa memanfaatkan curah hujan yang ada. Jika ini salah kebijakan bisa berbahaya," ujarnya.

Meski demikian, dia mengingatkan pemerintah untuk terus berinovasi, termasuk dalam memperbaiki data pertanian agar perhitungan yang didapat lebih akurat. "Sudah saatnya pemerintah menggunakan teknologi satelit yang lebih canggih diiringi dengan survey lapangan langsung. Karena dengan begitu hasilnya lebih akurat. Ini sudah digunakan di negara-negara tetangga," ungkapnya.

Dengan produksi 7,9 juta ton tahun ini, lanjut Hermanto, Indonesia tidak perlu melakukan impor lagi untuk 2017 karena dianggap sudah mencukupi kebutuhan.

"Ya kalau dengan produksi 7,9 juta ton seharusnya sudah mencukupi, tidak perlu impor lagi untuk tahun depan. Tapi jangan sampai terlalu fokus sama padi, jagung dan kedelai saja, komoditas lainnya juga harus diperhatikan serius," paparnya.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top