alexa snippet

Supernova-Driven Company

Supernova-Driven Company
Dalam The World Is Flat menggambarkan bahwa dunia berubah dari bulat menjadi datar akibat perubahan teknologi digital dan globalisasi pasar. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Dalam blog saya www.yuswohady. com, tahun lalu saya menobatkan buku Thank You for Being Late dari Thomas Friedman sebagai “The Best Book of the Year”. Tom Friedman kita tahu adalah pakar globalisasi dan technology futurist penulis buku The World Is Flat (2005) yang analisisanalisisnya dikenal tajam bak laser. Yang paling saya sukai dari Tom adalah penggambarannya yang simpel dan mengena mengenai perubahan-perubahan global yang kita alami.

Dalam The World Is Flat ia menggambarkan bahwa dunia berubah dari “bulat” menjadi “datar” akibat perubahan teknologi digital dan globalisasi pasar. Kini dalam buku terbarunya Thank You for Being Late , kembali ia menggambarkan perubahan dunia dengan sebuah metafora yang simpel dan gampang dipahami.

Begitulah pakar yang sudah sampai pada level “marifat”, memberikan penjelasan mengenai sebuah fenomena yang kompleks menjadi demikian mudah, bukan sebaliknya. Einstein, misalnya, menjelaskan sebuah misteri alam semesta yang sangat kompleks dengan menggunakan rumus yang sangat simpel: E = EMC2. Metafora Tom yang membuat saya kepincut adalah apa yang disebutnya: Supernova.

Moore’s Law

Menurut Tom, dalam buku tersebut, kini kita memasuki era percepatan peradaban (The Age of Acceleration) yang terutama didorong oleh digitisasi seluruh aspek kehidupan kita. Pemicunya adalah apa yang kini kita kenal luas sebagai Hukum Moore (Moore’s Law) yang diambil dari nama penciptanya, Gordon Moore, salah satu pendiri Intel.

Pada tahun 1965, untuk pertama kalinya Moore memublikasikan teorinya dengan mengatakan bahwa kemampuan komputasi digital akan mengikuti deret ukur/eksponensial. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa kemampuan komputasi mikroprosesor akan meningkat dua kali lipat setiap 18 bulan sekali.

Sampai saat ini teori itu masih valid, di mana Intel masih mampu melipatgandakan kemampuan prosesornya mengikuti Moore’s Law. Nah, dalam bukunya, Tom mengatakan bahwa Moore’s Law rupanya tak hanya berlaku pada kemampuan komputasi (Computing) dari prosesor. Moore’s Law juga valid berlaku pada tiga aspek yang lain yaitu:

Software(baik software sistem operasi maupun aplikasi); Storage(kemampuan memori komputer), dan Networking (kemampuan brandwidthdan mobility). Intinya, apabila kemampuan Computing meningkat menurut deret ukur, kemampuan Software, Storage, dan Networking pun “dipaksa” untuk mengikuti deret ukur.

Kenapa, karena Computing, Software, Storage, dan Networkingbekerja sebagai sebuah sistem yang “kompatibel” satu sama lain. Kalau diibaratkan mobil, kalau kemampuan Computing kecepatan larinya 100 km/jam maka kecepatan lari Software, Storage, dan Networking juga harus 100 km/jam atau setidaknya mendekati.

Disrupsi

Ketika Computing, Software, Storage, dan Networking (sebut saja CSSN) secara bersama-sama bergerak cepat menurut deret ukur alias eksponensial, maka perubahan yang terjadi juga berlangsung secara eksponensial. Perubahan eksponensial itulah yang kini kita kenal luas sebagai disrupsi (technological disruption).

Dalam bahasa awam, kita merasakan disrupsi itu terjadi pada kasuskasus seperti Uber yang mengubah secara drastis rules of the gamedi industri transportasi. Atau AirBnB yang meredefinisi model bisnis di industri akomodasi. Atau Kickstarter yang bakal menjungkirbalikkan industri keuangan.

Kita sering melabelinya dengan istilah ekonomi berbagi (sharing economy). Namun, tentu saja perkembangan eksponensial CSSN tak hanya sebatas menghasilkan disrupsi di area ekonomi berbagi semata. Area-area lain seperti artificial intelligence, big data, atau robotics, kini siap-siap untuk meluluhlantakkan model-model bisnis tradisional yang sudah terbangun mapan puluhan bahkan ratusan tahun.
halaman ke-1 dari 2
loading gif
Top