alexametrics

Warga Jepang Kurang Tidur, Ekonomi Melesu Rp1.839 Triliun/Tahun

loading...
Warga Jepang Kurang Tidur, Ekonomi Melesu Rp1.839 Triliun/Tahun
Warga Jepang tengah tertidur di taman di Tokyo. Foto/Associated Press
A+ A-
TOKYO - Masyarakat Jepang memang dikenal workaholic alias gila kerja. Namun hal ini membuat mereka mengalami kurang tidur dan ini tidak hanya berbahaya bagi kesehatan, juga pertumbuhan ekonomi negara.

Masalah kurang tidur ini semakin parah dalam beberapa tahun terakhir. Hampir setengah dari tenaga kerja di Jepang mengatakan, mereka tidak mendapatkan cukup tidur dan terpaksa lembur karena tekanan dari budaya kerja di perusahaan. Dan dalam buku putih pemerintah mengenai 'karoshi'--kematian karena terlalu banyak pekerjaan meningkat di Jepang.

“Ada suasana di tempat kerja bahwa anda harus bekerja berjam-jam dan anda tidak harus meninggalkan kantor tepat waktu. Kekurangan tidur ini membuat pekerja sulit menjaga produktivitas,” analisa Junko Sakuyama, ekonom di Dai-Ichi Life Research Institute di Tokyo, seperti dikutip Bloomberg, Kamis (16/2/2017).



Hasil penelitian Sakuyama, beberapa perusahaan bahkan kini menambah jumlah jam kerja menjadi sembilan jam. Diantaranya Sumitomo Mitsui Trust Bank dan Unicharm Corporation. Pemberlakuan ini tidak hanya bagi karyawan organik juga staf kontrak.

Budaya kerja ini pun berbeda dengan Uni Eropa, yang memberikan waktu istirahat atau tidur bagi karyawannya. Sedangkan di Jepang, hanya 2% dari sekitar 1.700 perusahaan yang disurvei oleh pemerintah memiliki aturan pemberian waktu istirahat.

Untuk meningkatkan produktivitas, Pemerintah Jepang menyisihkan anggaran sekitar 400 juta yen atau sekitar Rp46,79 miliar (estimasi kurs 1 yen = Rp116) untuk mendorong perusahaan-perusahaan kecil dan menengah mengadopsi waktu istirahat minimum.

Bahkan Kementerian Tenaga Kerja Jepang memberi subsidi 500.000 yen atau 58,49 juta per perusahaan untuk membantu membayar biaya, merevisi aturan kerja, pelatihan, dan mengelola data pekerjaan.

Tidak adanya waktu istirahat minimum membuat produktivitas pekerja Jepang menjadi miskin. Studi yang dibuat oleh RAND Corp menyatakan akibat kurang tidur, perekonomian Jepang melesu USD138 miliar atau sekitar Rp1.839 triliun per tahun (estimasi kurs Rp13.332/USD). Hal ini setara dengan penurunan 2,9% dari produk domestik bruto.

Menurut laporan tersebut, bila Jepang bisa meningkatkan waktu tidur masyarakatnya, yang selama ini di bawah enam jam sehari, menjadi tujuh jam maka ekonomi Jepang bisa bertambah USD75,7 miliar atau sekitar Rp1.009 triliun.

“Jam kerja yang panjang menjadi masalah penting dalam pasar tenaga kerja Jepang,” kata Sakuyama. Jepang harus mengurangi terlalu panjangnya jam kerja untuk mengurangi jumlah 'karoshi' serta meningkatkan produktivitas penduduknya yang kini menyusut.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak