alexa snippet

Penurunan Bunga KPR Jadi Magnet Konsumen Properti

Penurunan Bunga KPR Jadi Magnet Konsumen Properti
Penurunan suku bunga KPR yang mulai dilakukan perbankan, diharapkan oleh REI Jawa Tengan (Jateng) bisa menjadi daya tarik konsumen. Foto/Ilustrasi
A+ A-
SEMARANG - Penurunan suku bunga Kredit Perumahan Rakyat (KPR) yang mulai dilakukan perbankan, diharapkan oleh Real Estate Indonesia (REI) Jawa Tengan (Jateng) bisa menjadi daya tarik konsumen. Wakil Ketua DPD REI Jateng Bidang Humas, Promosi dan Publikasi, Dibya K. Hidayat mengharapkan, penurunan suku bunga menjadi kesempatan menarik untuk konsumen.

Dia melanjutkan, suku bunga KPR saat ini rata -rata berada di bawah 7%. Bahkan ada yang mematok bunga KPR 6% untuk fixed satu tahun. Sedangkan, suku bunga 9% untuk fixed selama lima tahun. "Besaran tersebut dinilai masih sangat murah. REI sudah mendapat lampu hijau dari perbankan yang sudah menurunkan suku bunga KPR," ujarnya, Kamis (16/3/2017).

Diharapkan olehnya suku bunga KPR mampu mendongkrak penjualan di REI III/2017 di Mall Ciputra Semarang. Pameran berlangsung  mulai 15-26 Maret 2017 dipatok target penjualan 75 unit. "Pameran kali ini ditargetkan transaksi lebih bagus dari pameran pertama dan kedua tahun 2017 yang hasilnya kurang memuaskan atau rata-rata 40 unit. Kali ini dari 17 peserta pengembang perumahan, kami mematok target 75 unit," paparnya

Selain suku bunga bank, lanjut dia, keberhasilan program pengampunan pajak atau Tax Amnesty diyakini bisa mendorong pertumbuhan bisnis properti. Program amnesti pajak kali ini sudah mendekati tahap akhir. "Seharusnya Tax Amnesty sudah bisa mulai dirasakan dan akan berakhir," ungkapnya.

Lebih lanjut dia menilai, masih banyak masyarakat menunda pembelian rumah dengan beberapa faktor alasan. Namun, pada saatnya pasti masyarakat akan membeli karena rumah menjadi kebutuhan pokok.

Wakil Ketua Bidang Litbang DPD REI Jateng, Drajat Adi Prayitno mengaku, pihak pengembang telah siap membangun FLPP. Namun begitu, pemerintah diminta membantu penyediaan lahan supaya harga rumah dapat dikendalikan. "Kerja sama dengan pihak lain seperti penyediaan lahan hingga perijinan. Pengembang semakin mudah membangun rumah FLPP," terang Drajat.

Dicontohkan, harga tanah di Semarang melejit dibandingkan daerah- daerah kecil sangat signifikan. Alokasi anggaran yang sama untuk setiap daerah tentu tidak akan berimbang. "Permintaan rumah FLPP selalu meningkat namun harga tanah semakin tinggi," katanya.



(akr)
loading gif
Top