alexa snippet

Kebutuhan Meningkat, Kemenperin Kejar Produksi Baja 10 Juta Ton 2025

Kebutuhan Meningkat, Kemenperin Kejar Produksi Baja 10 Juta Ton 2025
Kemenperin ingin mendorong peningkatan produksi baja 10 juta ton pada 2025. Foto/Istimewa
A+ A-
JAKARTA - Indonesia membutuhkan sekitar USD235 miliar untuk pembangunan infrastruktur dan perumahan. Sehingga membuat kebutuhan besi dan baja konstruksi meningkat sebesar 8,5% per tahun.

Untuk itu, dalam upaya menambah investasi di sektor industri baja, Kemenperin mendorong program pengembangan klaster industri baja di Cilegon, Banten, agar mampu memproduksi 10 juta ton baja pada tahun 2025.

Selain itu, Kemenperin menargetkan dalam waktu lima tahun ke depan, telah tersedia empat juta ton baja stainless dari kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, industri logam disebut sebagai mother of industry. Sebab, produk logam dasar merupakan bahan baku utama bagi kegiatan sektor industri lain, diantaranya industri automotif, maritim, elektronika, serta permesinan, dan peralatan pabrik.

“Penggunaan bahan baku logam domestik terus ditingkatkan untuk pemanfaatan secara optimal di industri hilir,” ujarnya melalui keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (20/5/2017).

Untuk itu, Kemenperin memacu pengembangan dan daya saing industri logam berbasis sumber daya lokal karena prospek sektor induk ini di masa mendatang masih cukup potensial. Dalam upaya melindungi dan mendorong pertumbuhan industri logam nasional, Kemenperin juga telah mendorong pemberlakuan SNI wajib.

Selain itu, pelaksanaan program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN). Upaya-upaya tersebut sekaligus untuk pengamanan pasar domestik, mengurangi ketergantungan produk impor, serta meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri.

Selain peningkatan investasi Indonesia-Jepang di sektor industri, diharapkan juga terjalin kerja sama di bidang pendidikan vokasi industri. Upaya ini untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia di Indonesia sehingga siap kerja sesuai kebutuhan di lapangan.

“Seperti perusahaan automotif Jepang yang memberikan pelatihan kepada para tenaga kerja lokal. Ini juga bisa dilakukan di sektor lainnya,” pungkas Airlangga.



(ven)
loading gif
Top