alexametrics

Industri Keuangan Nonbank dan Bank Syariah Makin Moncer

loading...
Industri Keuangan Nonbank dan Bank Syariah Makin Moncer
OJK mencatat pertumbuhan industri keuangan non bank (IKNB) syariah cukup bagus dalam beberapa tahun terakhir. Foto/Ilustrasi/Istimewa
A+ A-
YOGYAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan industri keuangan non bank (IKNB) syariah cukup bagus dalam beberapa tahun terakhir. OJK mencatat pertumbuhan IKNB Syariah jauh di atas rata-rata industri lembaga keuangan pada umumnya.

Kepala OJK DIY, Fauzi Nugroho mengungkapkan, pertumbuhan lembaga keuangan baik bank maupun non bank syariah memang lebih baik dibanding konvensional. Hal tersebut didukung oleh tren dunia yang mulai mengakui ekonomi Islam sebagai gaya hidup.

Bahkan menjadi standar baku kehidupan negara tertentu. "Edukasinya memang cukup bagus," tuturnya di Yogyakarta, Rabu (14/6/2017).



IKNB Syariah yang terdiri atas sektor industri perasuransian syariah, pembiayaan syariah, penjaminan syariah, modal ventura syariah dan jasa keuangan syariah lainnya telah mengalami pertumbuhan rata-rata 62,29% per tahun.

Meskipun dalam dua tahun terakhir terlihat tanda-tanda perlambatan tingkat pertumbuhan. OJK optimistis dalam jangka menengah dan panjang, IKNB Syariah akan terus berkembang dengan tingkat pertumbuhan yang tetap signifikan.

Hal ini didasari pada masih tingginya potensi pasar IKNB Syariah yang belum tergarap dan antusiasme para pelaku IKNB untuk menjalankankegiatan keuangan berdasarkan prinsip syariah, baik dengan cara mendirikan perusahaan syariah yang baru (full syariah) maupun unit usaha syariah.

Selain itu, kinerja Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di DIY masih positif meski saat ini kondisi perekonomian tengah mengalami perlambatan. Namun OJK melihat ada kecenderungan saat ini nasabah memilih produk dari BPR Syariah (BPRS).

OJK DIY melihat, pertumbuhan kredit atau pembiayaan dari BPR Konvensional terhadap BPR syariah justru lebih kecil. Kini, masyarakat lebih memilih kredit BPRS ketimbang BPR Konvensional. Hal tersebut tentu harus menjadi perhatian dari kalangan BPR Konvensional melihat fenomena ini.

Pertumbuhan kredit BPR Konvensional pada 2016 sekitar 8,81% dibanding 2015. Sementara pembiayaan yang dikucurkan BPRS selama periode Januari-Desember 2016 tumbuh 14,3% dibanding periode sama tahun sebelumnya.

"Masih tetap bisa bertahan. Bahkan saya melihat ada BPR yang justru daftar antre kreditnya cukup panjang. Dan ini saya lihat terjadi di BPR Syariah," tuturnya.

Dia mengakui fenomena kecenderungan melirik produk BPR Syariah memang masih terjadi. Hal ini harus dicermati BPR Konvensional apakah ada celah untuk melakukan konversi dari Konvensional ke Syariah
mengingat tren pasar yang sudah mulai bergeser tersebut.

Ketua Perbarindo Joko Suyanto mengakui hal tersebut. Secara keseluruhan, aset industri BPR pada Februari 2017 tumbuh 10,88% dari Rp102 triliun menjadi Rp113 triliun. Pada Februari 2017, jumlah aset BPRS mencapai Rp9,3 triliun atau tumbuh 19,14% dibanding kondisi tahun lalu. "Di sisi kredit juga demikian," ucapnya.

Di sisi kredit yang diberikan kepada masyarakat juga tumbuh 9,78%, dari Rp75 triliun menjadi Rp82 triliun. Pertumbuhan asset BPRS tersebut didorong tumbuhnya pembiayaan yang disalurkan BPRS yang mencapai 17,33% atau menjadi Rp6,8 triliun.
(izz)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak