alexa snippet

Diana Dewi, Menjadi Pengusaha Daging Setelah Beribadah Haji

Diana Dewi, Menjadi Pengusaha Daging Setelah Beribadah Haji
CEO PT Suri Nusantara Jaya Diana Dewi. Foto/SINDOnews/Bona Ventura
A+ A-
SUHU dingin minus 22 derajat Celsius langsung menyengat saat memasuki cold storage PT Suri Nusantara Jaya di kawasan industri Lippo Cikarang, Jawa Barat. Sebanyak 30.000 ton paket daging, baik sapi dan kerbau, dengan label seperti Frigsa dan Al-Tamam tersusun dengan apik. Suhu beku ini agar daging tetap higienis dan awet tanpa kehilangan nutrisinya.

Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih, Sandiaga Uno saat menghadiri peninjauan stok daging menjelang Idul Fitri, menyatakan kagum kepada Chief Executive Officer PT Suri Nusantara Jaya, Diana Dewi. “Fasilitas cold storage milik ibu benar-benar kelas dunia,” pujinya.

Bersama dengan Perum Bulog, PT Suri Nusantara Jaya (SNJ) turut menjaga pasokan daging untuk mencapai stabilisasi harga pangan. Tidak hanya itu, SNJ dengan toko dagingnya bernama Toko Daging Nusantara, juga melakukan operasi pasar kepada masyarakat dengan harga miring, untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan daging selama Ramadan dan Idul Fitri.

Harga daging beku dijual Rp75.000 per kilogram, jauh di bawah harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan Pemerintah, sebesar Rp80.000 kilogram. Dan untuk harga daging sapi segar sekitar Rp90.000-Rp95.000 per kilogram, sangat terjangkau dibanding di pasaran seharga Rp110.000-Rp120.000 per kilogram.

Bagi Diana Dewi, terjun ke usaha daging bukan sekadar mengejar bisnis semata. “Daging ini sudah masuk ke bahan pokok yang menyangkut hajat hidup orang banyak,” ujarnya.

Diana Dewi, Sandiaga Uno dan Sarman Simanjorang

Perempuan kelahiran Jakarta, 27 Juli 1965 ini, menuturkan awal usahanya berbisnis daging setelah beribadah haji pada pengujung tahun 1995. Saat itu, Diana masih bekerja di salah satu perusahaan pakan ternak ternama, dengan jabatan sales manager.

“Waktu itu saya cuti ingin ibadah haji. Namun atasan saya tidak mendukung dan tidak menandatangani cuti saya. Ia membolehkan saya pergi haji tapi saya tidak mendapatkan gaji. Padahal itu hak saya. Hal ini yang melatari saya untuk berusaha sendiri. Saat ibadah haji, saya berdoa ingin punya pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan keinginan saya,” ceritanya kepada SINDOnews, Kamis (22/6/2017).

Setelah beribadah haji, Diana lalu keluar dari tempatnya bekerja dan membuka usaha daging. Awalnya, ibu dua anak ini membuka usaha daging di garasi mobil di rumahnya di Cilangkap, Jakarta Timur. Seiring perjalanan waktu, dia menghubungi teman-temannya yang merupakan supplier sembako. Banyak yang membantu. Kemudian, Diana memiliki modal untuk mengembangkan usaha daging.

Pertengahan 1997, ia mendapatkan tawaran kerja dari perusahaan Australia yang ingin bisnis sapi di Indonesia. Namun, krisis multidimensi 1998, membuat perusahaan Australia tersebut batal untuk menanamkan modalnya di Tanah Air. Saat itu, kurs rupiah dengan cepat terjun bebas terhadap dolar Amerika Serikat, hingga mencapai Rp15.000 per dolar.

Meski demikian, Diana banyak belajar dari sana dan membuatnya bisa membaca pasar. Tahun 1998, ia pun mendirikan PT Suri Nusantara Jaya. Setahun berselang, Diana membangun cold storage di Jakarta. Usahanya pun terus berkembang. Bisnis importir daging sapi pun mulai dijalaninya sejak tahun 2012.

Saat harga daging sapi melambung tinggi di atas daya beli masyarakat pada 2013, Diana membuka Toko Daging Nusantara di Kranggan, Bekasi. Ia menjual secara ritel untuk memenuhi kebutuhan daging masyarakat dengan harga terjangkau.

Diana Dewi
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top