alexa snippet

Kejatuhan Sevel dan Innovation Fallacies

Kejatuhan Sevel dan Innovation Fallacies
A+ A-
YUSWOHADY
Managing Partner, Inventure www.yuswohady.com @yuswohady

SEJAK minggu lalu, tepatnya Jumat (30/6), gerai 7-Eleven (Sevel) di Indonesia tidak lagi beroperasi karena terus merugi dan gagal mencapai kesepakatan pengambilalihan oleh Charoen Pokphand.

Banyak sudah ulasan mengenai kegagalan Sevel. Ada yang melihatnya secara taktikal dari sisi operasional yang terus berdarah-darah. Ada yang melihat secara strategis karena model bisnisnya yang keliru dan tak sustainable.

Ada juga pakar yang menyalahkan regulasi pemerintah sebagai biang kejatuhan Sevel. Saya mencoba melihatnya dari sudut yang lebih "soft" dari sisi disiplin inovasi, yaitu mindset dan pola pikir yang keliru dalam melihat sebuah proses inovasi.

Saya menyebutnya "innovation fallacies" atau pemahaman umum yang keliru mengenai inovasi, yang hingga kini banyak diyakini para inovator. Pemahaman keliru inilah yang menyebabkan banyak inovasi gagal, layu sebelum berkembang. Dan salah satu korbannya adalah Sevel.

Innovation Hero

Setelah jatuh, banyak pengamat (termasuk pengamat dadakan di medsos) yang mengkritik, menyalahkan, dan menghakimi Sevel sebagai the loser. Namum, saya sebaliknya melihat Sevel sebagai "innovation hero". Kenapa? Karena capaian inovasi yang dihasilkannya menurut saya luar biasa. Bisa disebut breakthrough innovation.

Terobosan inovasi Sevel lahir di tengah industri ritel Indonesia yang mengalami paceklik panjang ide-ide bisnis segar sejak duo Indomaret-Alfamart menghegemoni pasar ritel di Tanah Air.

Menurut saya, ada tiga "warisan inovasi" yang ditinggalkan Sevel untuk dunia bisnis/manajemen di Indonesia. Terobosan inovasi itu adalah: Pertama, Value Innovation.

Sevel mampu menciptakan inovasi nilai yang menghasilkan extraordinary value untuk konsumen. Inovasi nilai tercipta ketika pemain mampu mendongkrak nilai dan manfaat produk (customer value), namun secara bersamaan ia juga mampu menurunkan biaya (customer’s cost). Ini menghasilkan apa yang disebut "more-for-less value".

Kedua, Blue Ocean Market. Sevel hebat menciptakan pasar baru yang berada di persimpangan (intersection) antara dua industri, yaitu ritel dan gerai makanan. Dengan menggabungkan dua industri, Sevel memiliki posisi unik di pasar yang menjadikan persaingan tak relevan lagi.

Ketiga, Customer Culture. Sevel juga hebat menciptakan budaya baru di kalangan konsumen muda Jakarta, yaitu "budaya nongkrong". Ia mampu menggerakkan cultural movement di kalangan urban yang sering disebut "Sevel effect" atau "Sevel lifestyle".

Tak gampang sebuah brand bisa membentuk budaya dan gaya hidup di kalangan konsumennya. Hanya pemain-pemain hebat sekelas Apple, Starbucks, atau Harley Davidson yang mampu mewujudkannya. Celakanya, kehebatan terobosan inovasi Sevel itu sirna (sejak minggu lalu) karena adanya empat innovation fallacies berikut ini:
halaman ke-1 dari 3
loading gif
Top