alexa snippet

Konsumsi Rumah Tangga Turun Sulitkan Ekonomi Tumbuh 6%

Konsumsi Rumah Tangga Turun Sulitkan Ekonomi Tumbuh 6%
Konsumsi rumah tangga Indonesia yang saat ini belum menunjukkan angka positif, dinilai akan sulit mencapai pertumbuhan ekonomi 6%. Grafis/Istimewa
A+ A-
JAKARTA - Ekonom Universitas Gadjah Mada yang juga Komisioner PermataBank Tony Prasetiantono mengatakan, konsumsi rumah tangga Indonesia yang saat ini belum menunjukkan angka positif, akan sulit bagi Indonesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 6%.
 
Menurutnya, saat ini konsumen lebih baik menahan diri dan mengerem konsumsi, serta lebih meminati saving money dalam bentuk tabungan atau deposito. (Baca: Persepsi Negatif Timbulkan Daya Beli Masyarakat Menurun).

"Saya merasa ekonomi tertekan, maka mereka enggak jadi konsumsi. Itulah alasan kenapa penjualan barang-barang konsumen juga turun. Nah, kuncinya terletak pada confident/trust. In the meantime, uang ditaruh di bank, makanya bank mulai kelebihan likuiditas," kata dia di Jakarta, Rabu (2/8/2017).

Akibatnya, dana pihak ketiga (DPK) naik, kemudian kreditnya turun atau tumbuh namun single sigit. Padahal, untuk mencapai pertumbuhan di atas 5% atau 6% dibutuhkan konsumsi rumah tangga dan spending lainnya yang aktif.

Tony mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini seolah sedang merangkak naik untuk kondisi yang lebih baik lagi. Karena, ekonomi dapat dikatakan tumbuh baik, jika angkanya 6%.

"Kalau baik ya seharusnya 6% tapi syukur-syukur ya 7%. Karena di saat perekonomian kita 7% semua angkatan kerja baru terserap oleh kegiatan ekonomi," kata dia.

Menurutnya, jika angka pertumbuhan ekonomi kurang dari 7%, pilihannya hanya dua yaitu unemployement naik dan banyaknya tenaga kerja yang terserap, namun ke sektor informal.

"Paling banter ya banyak yang kerja jadi tukang bakso, tukang bubur, jualan kelontong, dan lainnya," tuturnya.
(izz)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top