alexa snippet

Petani Merapi dan Merbabu Minta Pemerintah Tak Impor Tembakau

Petani Merapi dan Merbabu Minta Pemerintah Tak Impor Tembakau
Festival Tungguk Tembakau yang digelar petani di Desa Senden, Boyolali menjelang masa panen tembakau di lereng Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Foto/SINDOnews/Ary Wahyu Wibowo
A+ A-
BOYOLALI - Petani tembakau di lereng Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, Jawa Tengah, meminta pemerintah tidak melakukan impor tembakau. Menjelang panen, mereka khawatir harga tembakau jatuh apabila tembakau dari luar negeri masuk.

Tembakau yang ditanam petani di lereng Merapi dan Merbabu saat ini sangat bagus karena cuaca yang sangat mendukung. Sehingga menjelang panen ini, petani berharap pemerintah menberikan perhatian dengan tidak melakukan impor tembakau. Dengan demikian, harga tembakau lokal semakin baik.

“Yang kami perangi adalah impor tembakau. Pajak dari sektor tembakau memberikan sumbangsih yang besar. Jangan sampai petani tembakau terbunuh perlahan,” kata Sigit Marlanto, pengurus Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Desa Senden, Kecamatan Selo, Boyolali, Jawa Tengah usai Festival Tungguk Tembakau, Kamis (3/8/2017).

Dalam cuaca seperti ini, lanjutnya, petani di lereng Merapi-Merbabu sangat menggantungkan hasil pertanian tembakau. Sebab untuk jenis tanaman lainnya dalam cuaca yang cukup panas, cenderung sulit untuk hidup. Harga tembakau sejak tahun lalu cukup stabil di kisaran Rp45-60 ribu/kg untuk tembakau kering.

Namun dengan cuaca yang mendukung, jumlah produksi mengalami kenaikan. “Kalau tahun lalu rendemennya 10 kg per kuintal, sekarang bisa 15 kg per kuintal,” terangnya. Untuk satu hektare lahan, mampu menghasilkan 4 ton tembakau basah menjadi 6 kuintal tembakau kering.

Para petani rata-rata sudah memiliki kemitraan dengan salah satu produsen rokok terkemuka di Indonesia. Melalui kemitraan itu, petani cukup diuntungkan karena biaya produksi lebih dapat ditekan. Selain itu, juga tidak berhadap dengan tengkulak yang biasanya membeli dengan harga lebih rendah.

Untuk satu desa, jumlah petani tembakau mencapai sekitar 500 orang. Dengan 10 desa di Kecamatan Selo, maka jumlahnya mencapai sekitar 5.000 petani. Satu orang petani rata rata memiliki lahan sekitar semperempat hektare, namun banyak pula yang lebih dari itu.

Keuntungan bersih yang diraih dengan lahan seperempat hektare saat panen sekitar Rp4 juta. Biaya produksi yang dikeluarkan untuk satu batang pohon tembakau berkisar Rp3.000. Dan ketika panen terjual, sekitar Rp6.000 per batang.

Kendala yang dialami petani adalah terjadi tanaman layu karena unsur kandungan tanahnya kurang. “Jika tidak didukung cuaca yang bagus, tanaman lalu mati,” bebernya.

Tembakau yang ditanam rata-rata adalah jenis Cetok karena bisa diselingi tanaman tumpangsari. Namun demikian, ada juga jenis tembakau Kemloko dan Kenongo. Namun untuk Klomoko dan Kenongo tidak bisa diselingi tumpangsari. Semua jenis tembakau laku di pabrikan karena yang menjadi pertimbangan adalah bau dan rasanya.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, para petani diharapkan bisa berkomunikasi dengan pabrikan mengenai pembelian tembakau hasil panen. Melalui komunikasi yang bagus, diharapkan harga jualnya juga lebih maksimal.

Mengenai tembakau impor, Ganjar menilai perlu dikontrol kapan bisa masuk setelah kebutuhan tembakau dan hasil panen petani lokal bisa diprediksi. “Habiskan dulu hasil panen tembakau lokal baru impor boleh masuk agar harga tetap bagus. Tetapi itu butuh komitmen dari pabrikan,” tandasnya.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top