alexametrics

Konsumsi Bahan Bakar Khusus Non Subsidi Naik 73%

loading...
Konsumsi Bahan Bakar Khusus Non Subsidi Naik 73%
General Manager MOR V Herman M. Zaini melayani konsumen di SPBU Jemursari di Hari Pelanggan Nasional. Penjualan BBK non subsidi terus merangkak naik di Jatimbalinus. Foto/Aan Haryono
A+ A-
SURABAYA - Langkah pemerintah untuk melakukan penghematan subsidi di sektor bahan bakar minyak (BBM) mulai membuahkan hasil. Kondisi itu bisa dilihat dari konsumsi bahan bakar khusus (BBK) non subsidi yang naik sampai 73% di Jatim, Bali dan Nusa Tenggara (Balinus).

General Manager MOR V Herman M. Zaini menuturkan, selama semester I tahun 2017 banyak kejutan dari perubahan konsumsi BBK masyarakat. Pertamina MOR V mencatat konsumsi dan jumlah pengguna Pertamax di wilayah Jawa Timur, Bali, NTB dan NTT terus mengalami peningkatan.

“Hingga semester I tahun 2017, konsumsi Pertamax mencapai 688.150 Kiloliter (KL) atau naik sebesar 73% dibanding konsumsi pada semester I tahun 2016 lalu,” ujar Herman ketika ditemui di sela-sela perayaan Hari Pelanggan Nasional di SPBU COCO Jemursari, Senin (4/9/2017).



Ia menambahkan, tingginya konsumsi Pertamax ini menunjukkan bahwa konsumen sudah sangat memperhatikan kualitas dan performa bahan bakar untuk kendaraannya. Daya beli masyarakat juga meningkat. Kedua faktor itu yang membuat Pertamina optimis dalam penjualan BBK non subsidi.

“Pertamina berupaya untuk terus memenuhi permintaan pasar dengan semakin memperluas ketersediaan Pertamax series di SPBU agar konsumsi BBK non subsidi ini bisa terus mengalami peningkatan di masa-masa yang akan datang,” jelasnya.

Dengan penghematan subsidi, lanjutnya, pemerintah bisa mengalihkan alokasi ke kebutuhan masyarakat. Salah satunya berupa pembangunan jalan serta infrastruktur lainnya. Dampaknya juga bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.

"Yang terpenting juga berkurangnya polusi kendaraan. Bahan bakar yang dipakai lebih ramah lingkungan dengan angka oktan yang rendah," ungkapnya.

Ketua DPD V Hiswana Migas, Rachmad Muhammadiyah menuturkan, banyak pengusaha SPBU yang sudah tak menjual Premium. Langkah itu diambil karena minat konsumen pada Premium terus turun.

"Kalau pun ada yang masih menjual Premium, mereka rata-rata mengurangi nozle di tiap SPBU. Jadi kalau sebelumnya nozle Premium ada empat, maka kini menjadi dua," jelasnya.

Dengan menjual BBK non subsidi, katanya, para pengusaha SPBU memang meraup untung lebih banyak. Meskipun demikian, penjualan Premium tetap dilakukan. Penambahan SPBU sendiri juga tetap berjalan di sepanjang 2017 ini. Bahkan, rata-rata SPBU baru yang berdiri juga memiliki tambahan bisnis dengan adanya minimarket atau pun gerai makanan lainnya.

"Mereka juga bisa dapat keuntungan lainnya. Para konsumen juga bisa lebih leluasa dengan datang ke SPBU untuk belanja maupun mencari makanan," sambungnya.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak