alexa snippet

Facebook: Guru Menulis Terbaik di Dunia

Facebook: Guru Menulis Terbaik di Dunia
A+ A-
YUSWOHADY
Managing Partner, Inventure www.yuswohady.com


SAYA punya teman, ibu-ibu. Lima tahun yang lalu setiap kali ketemu saya selalu bilang, ”Ajarin saya nulis dong. Saya pengin banget bisa nulis kayak Mas Siwo".

Dia selalu mengeluh: ”Saya sulit menemukan ide untuk ditulis... Kalaupun ketemu ide, saya kesulitan menuangkannya ke dalam tulisan... Saya enggak bisa bikin kerangka tulisan yang sistematis... Kalau nulis, satu kalimat dengan kalimat berikutnya enggak nyambung... Setelah selesai nulis, saya baru sadar bahwa alurnya kacau-balau.” Dan segudang keluhan lain dia tumpahkan.

Semuanya berubah sejak tiga tahun lalu. Saat si ibu punya akun Facebook. Sejak saat itu dia tidak lagi ”mengganggu” saya dengan segudang keluhannya. Dan betul, ketika iseng-iseng saya tengok isi status update-nya di Facebook: ”Wow... ciamik sekali tulisannya!!!” Begitu rapi si ibu meng-compose sebuah tulisan, walaupun dalam bentuk status update.

Dari tulisannya yang panjang-sistematis; judulnya yang seksi-menggoda; pilihan katanya yang pas dan kasual; logikanya runut; alurnya mengalir deras; pokoknya ciamik abis. Siapa yang ngajarin si ibu menulis? Facebook.

Bagaimana Facebook Mengajari Kita Menulis? Ada tiga tips jitu bagaimana Facebook mengajari kita menulis. Ini berbeda dengan cara guru SD dan SMP kita dulu mengajari kita menulis. Cara mereka kuno, membosankan, sarat teori, penuh dengan ”juklak” ini-itu, dan begitu membebani karena kita dituntut harus mendapat nilai 10.

#1. Intrinsic Motivation: ”Eksis-Narsis”

Tips paling ampuh Facebook dalam mengajari kita menulis adalah bukan dengan cara memberi nilai rapor 10. Tapi dengan memberi ruang ekspresi, yaitu narsis. Kita begitu passionate menulis di Facebook (bahkan bisa puluhan status seharinya) karena kita mendapatkan social reward yang tak ternilai berupa likes, mention, share, komentar, pujian, salut, respect, dan apresiasi dari teman.

Dalam proses pembelajaran, inilah yang disebut intrinsic motivation, yaitu semangat belajar yang datang dari dalam diri kita (intrinsik), bukan dari luar (ekstrinsik), seperti dari guru atau orang tua kita. Intrinsic motivation adalah faktor paling krusial dalam proses pembelajaran dan Facebook menciptakannya dengan sangat cantik dan ciamik.

#2. Peer Learning

Kedua, Facebook mengajari kita menulis dengan cara yang sama sekali berbeda dengan cara guru mengarang kita di SD/SMP, yaitu menggunakan pendekatan peer to peer. Facebook tidak memberi kita teori menulis. Ia juga tidak memberikan tips-tips how to write effectively. Yang dilakukan Facebook adalah menyediakan collaborative platform di mana kita bisa saling belajar menulis satu sama lain.

Ketika saya tanya si ibu bagaimana dia bisa secepat ini piawai menulis, jawaban dia enteng: ”saya niru-niru aja postingan temen-temen, lama-lama juga bisa sendiri”. Inilah yang disebut John Dewey (Democracy and Education, 1916) sebagai peer learning. Melalui platform yang disediakan Facebook, para pembelajar seperti si ibu berinteraksi satu sama lain untuk mewujudkan tujuan pembelajaran bersama, yaitu bisa menulis.

#3. Gamifikasi
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top