alexametrics

Divestasi 51%, Strategi Freeport McMoRan Menutup Kerugian

loading...
Divestasi 51%, Strategi Freeport McMoRan Menutup Kerugian
Freeport McMoRan. Foto/The Street
A+ A-
JAKARTA - Pakar Hukum Ekonomi Universitas YARSI, Chandra Yusuf mempunyai penilaian lain terhadap pencapaian divestasi 51% atas saham Freeport Indonesia. Dia menyebut hal itu strategi Freeport McMoRan Inc untuk menutupi kerugian.

"Freeport Indonesia itu mengalami kerugian setiap tahunnya satu persen," ungkapnya saat diskusi di Universitas Pancasila, Jakarta, Kamis (14/9/2017).

Menurutnya, program divestasi ini membuat McMoRan untung karena akan mendapatkan uang dan dipakai untuk merestrukturisasi asetnya. Karena divestasi itu bagian strategi mereka untuk menutupi kerugian keuangan.

"Makanya dengan divestasi akan menerbitkan saham baru. Logikanya mereka menjual saham kepada Indonesia. Dan itu pernah dilakukan saat divestasi pada 1991 sebesar 9,36 persen," ujarnya.

Sebagai dosen yang konsen di masalah keuangan, Chandra menerangkan bahwa dari sisi keuangan, Freeport Indonesia itu merugi. Ada yang harus dikurangi bebannya karena besarnya dividen.

"Sebab kalau dipaksakan maka akan ambruk. Makanya asetnya harus ada yang dijual. Pasti aset yang dijual adalah aset yang menguntungkan," tukasnya.

Kerugian itu, lanjut Chandra, terjadi sejak pengeluaran 2015 yang cukup besar untuk proyek-proyek ekspansi yang kemudian mengalami kegagalan. Bahkan setiap tahun mengalami kerugian 1%.

"Kalaupun Freeport ini dianggap menguntungkan berarati itu untuk menutupi kerugian sebelumnya," beber dia.

Dijelaskan, dari awal memang Freeport McMoRan Inc selalu punya cara untuk menutupi kerugian. Buktinya mereka melakukan divestasi selalu sekecil-kecilnya. Awalnya 0% naik menjadi 3,75%, kemudian naik lagi sampai 9,36%.

"Jadi lucu pemerintah membeli hasil alamnya sendiri dengan cara divestasi. Sebab, divestasi akan menerbitkan saham baru," pungkas dia.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak