alexametrics

Penggunaan Ponsel Marak, Inklusi Keuangan Terus Meningkat

loading...
Penggunaan Ponsel Marak, Inklusi Keuangan Terus Meningkat
Maraknya penggunaan ponsel mendorong tumbuhnya inklusi keuangan di Indonesia. FOTO/IST
A+ A-
JAKARTA - Maraknya penggunaan ponsel pintar (smartphone) menjadi modal untuk meningkatkan inklusi keuangan di masyarakat. Diharapkan, indeks inklusi keuangan bisa mencapai 70% tahun ini.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) indeks inklusi keuangan nasional pada tahun ke tahun terus meningkat signifikan. Sebagai perbandingan, pada 2017 lalu indeks inklusi keuangan mencapai 63% dan untuk tahun depan ditargetkan mencapai 75%. Data Bank Indonesia (BI) menyebutkan, pada awal program inklusi keuangan diluncurkan, indeksnya baru mencapai 20-30%, dan kini berada di atas 50%.



Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso optimistis target indeks keuangan inklusif 75% bisa tercapai pada 2019. Pengguna smartphone yang terus meningkat akan membuka akses untuk layanan keuangan perbankan. "Teknologi harus meng-cover. Yang seluler 4G sudah lebih banyak dan ini memungkinkan jangkauannya bisa lebih luas. Bagi daerah-daerah yang tidak mendapat sinyal, coverage-nya akan lebih luas lagi," ujarnya di Jakarta, Kamis (4/1/2018).

Wimboh menambahkan, untuk mencapai target indeks inklusi keuangan pada 2019, pemerintah telah menetapkan strategi percepatan. Harapannya, percepatan itu dapat menjangkau seluruh masyarakat dalam memperluas layanan keuangan, peningkatan infrastruktur, dan peningkatan kesadaran terhadap literasi keuangan.

Hal lain yang diharapkan mendukung inklusi keuangan adalah percepatan sertifikasi hak properti masyarakat yang dapat dijadikan agunan bank. "Informasi kependudukan dan pencatatan sipil (dukcapil) juga bisa mempercepat identifikasi masyarakat untuk sektor keuangan," katanya.

Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika, saat ini pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta. Dari jumlah tersebut, 31 juta pengguna menggunakan internet untuk mengakses informasi, 27,6 juta terkait dengan pekerjaan, dan 10,4 juta lainnya untuk berdagang dan pembelian online. Sisanya untuk aktivitas mengisi waktu luang, sosialisasi, pendidikan, dan hiburan.

Program akses sektor keuangan tidak hanya dilihat dari rekening tabungan, tetapi juga dari kreditnya, baik berupa kredit usaha rakyat (KUR) atau kredit kecil lain. Demikian juga identifikasi nasabah asuransi, hal itu bisa dimasukkan dalam komponen penghitungan inklusi finansial. "Sekarang ini (indeks inklusi keuangan) sekitar 63%. Jadi saya rasa bisa cepat dengan cakupan seluler lebih luas sehingga bisa mencapai 75% pada 2019," tuturnya.
halaman ke-1 dari 3
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak