alexa snippet

INDOTROPIC FISHERY

80% Ekspor ke AS, Satu Bulan Kirim 100-150 Ton

80% Ekspor ke AS, Satu Bulan Kirim 100-150 Ton
Eddy Handoko, pemilik Indotropic Fishery (dua dari kanan) bersama tim Koran SINDO saat mengunjungi pabrik Indotropic Fishery di Luwuk Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu. Foto/Istimewa
A+ A-
LUWUK - Bagi Eddy Handoko, lautan luas yang dimiliki Indonesia adalah berkah. Lautan luas Indonesia tentu menyimpan kekayaan yang tak akan habis yaitu ikan. Sejak bekerja di Surabaya, Jawa Timur, Eddy sudah sangat mengenal dunia perikanan.

Selama tujuh tahun laki-laki asal Semarang  Jawa Tengah ini berkerja di sebuah perusahaan yang mengelola udang. Tentu bukan hanya udang yang dia tekuni, jenis ikan lain dan bagaimana memasarkan ikan Indonesia dia pelajari.

Sehingga, ketika memutuskan untuk berdiri di kaki sendiri yaitu mendirikan perusahaan pembekuan ikan pada 2003, dia telah merasa mantap. Maka, Eddy memutuskan membangun perusahaan pembekuan ikan bernama Indotropic Fishery di Luwuk, Kabupaten Banggai Sulawesi Selatan. "Tapi dua tahun saya sempat frustasi karena buyer tentu pilih-pilih produk," kata Eddy.

Daerah Luwuk, Kabupaten Banggai memang akhirnya dipilih setelah mempertimbangkan daerah yang lain. Kekayaan laut dan pelabuhan untuk pengapalan produknya menjadi pertimbangan.

Selain itu, laut yang masih jauh dari polusi dengan ikan tropis melimpah serta jarak tempuh tangkapan yang singkat membuat ikan-ikan di Kabupaten Banggai masih sangat segar untuk dipasarkan. Dengan one day catch, konsumen akan mendapatkan jenis ikan yang masih segar.
Pada website Indotropic Fishery, Eddy menuliskan tentang kelebihan laut Sulawesi dengan tradisi nelayan-nelayan yang telah berabad-abad.

"Bentuk pulau yang unik dengan garis pantai yang panjang dan melengkung serta banyak jurang dengan pulau-pulau kecil di sekitarnya adalah sumber Gurita dan Ikan tropis yang melimpah. Laut airnya yang hangat bebas dari polusi," begitu kata pengantar di website Indotropic Fishery

Eddy tampak santai berbincang dengan Koran SINDO. Bahkan ketika sampai di pabrik di desa Biak, Luwuk, Kab Banggai, Eddy langsung meminta tim Koran SINDO mengenakan baju, topi dan sepatu booth untuk meninjau pabriknya. Tak terlalu besar tapi sangat bersih dan rapi.

Untuk masuk ke dalam pabrik, semuanya harus steril. Bahkan beberapa kali sepatu booth harus dicelupkan ke air dengan campuran tertentu dan tangan harus dicuci. "Ini kita menggunakan standard internasional karena produk kita ekspor," kata Eddy.

Bahkan, baju yang dikenakan semua pegawainya tidak boleh dibawa pulang agar pencucian sesuai standard.

Produk Indotropic Fishery terdiri dari octopus vulgaris dan octopus ball type. Sedangkan yang lain adalah ikan fillet jenis ikan karang atau dasar, bukan ikan permukaan. Indotropic juga menyediakan cumi-cumi dan kakap laut.

Cara pengepakannya setelah semua produk dibersihkan maka akan dibungkus dalam plastik. Untuk filet diiris sesuai ukuran kebutuhan pesanan. Setelah itu, semua produk akan dibekukan di ruang bersuhu minus 40 derajat.

Setelah itu, produk beku tersebut dikapalkan melalui container khusus untuk diekspor. "80% kita ekspor ke Amerika Serikat, selebih Eropa dan negara lainnya," ungkap Eddy.

Eddy tidak mau menjelaskan berapa nilai transaksi selama satu bulan. Namun, dia mengatakan setiap bulan Indotropic Fishery bisa mengirim 100-150 ton setiap bulan.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top