alexa snippet

Wawancara CEO Lookman Djaja Group, Kyatmaja Lookman

Mendekatkan Diri dan Mendengar Keluhan Karyawan

Mendekatkan Diri dan Mendengar Keluhan Karyawan
Chief Executive Officer (CEO) Lookman Djaja Group, Kyatmaja Lookman. FOTO/KORAN SINDO
A+ A-
Munculnya berbagai alternatif moda transportasi tak menggoyahkan bisnis ekspedisi angkutan darat yang menggunakan truk sebagai sarana utama pengiriman. Potensinya masih besar, kendati dihadapkan pada sejumlah tantangan. Lookman Djaja Group merupakan salah satu perusahaan yang hingga kini eksis di industri logistik, khususnya layanan jasa pengiriman barang dengan armada truk (trucking).

Chief Executive Officer (CEO) Lookman Djaja Group Kyatmaja Lookman menilai ada potensi besar dari bisnis logistik di Tanah Air. Bahkan, di era digital sekalipun, sektor logistik angkutan darat yang digelutinya tidak terguncang. Perusahaan hanya perlu mengubah pola mengikuti perubahan konsumen pemilik barang. Bagaimana perkembangan sektor ini ke depan? Berikut petikan wawancara KORAN SINDO dengan Kyatmaja Lookman.

Sejak kapan anda menggeluti sektor logistik?
Pada awalnya, saya bergabung di perusahaan keluarga Lookman Djaja yang berdiri pada 1985. Jadi, sejak kecil saya mengakrabi dunia pengiriman barang karena rumah orang tua saya di Surabaya dijadikan tempat berbisnis pengiriman barang. Tapi, saya mulai aktif di perusahaan pada tahun 2006.

Anda menggeluti bisnis di sektor angkutan darat, padahal banyak sektor angkutan moda lain yang bisa menjadi alternatif. Tantangannya seperti apa?
Logistik ini sektor yang menarik. Kita ini negara maritim. Sebuah anugerah yang memiliki potensi besar terutama berkaitan dengan pergerakan barang. Transportasi maritim banyak, tapi kenyataannya justru transportasi darat yang banyak bergerak dan mendominasi.

Pengangkutan lewat truk (trucking) itu hampir 90% mendominasi pengiriman barang di Indonesia. Mengapa demikian?
Karena infrastrukturnya belum sangat mendukung. Kita akui pemerintah memang fokus membangun infrastruktur, tapi dampaknya terhadap dunia logistik belum memiliki dampak langsung. Sebab transportasi penumpang (orang) masih menjadi prioritas pemerintah. Padahal kalau bisa fokus memperhatikan logistik barang, banyak sekali efisiensi yang didapatkan.

Contohnya efisiensi seperti apa? Apakah dari sisi biaya?

Bukan hanya itu, efisiensi yang lain bisa mengurangi kepadatan kendaraan terutama kendaraan truk yang beroperasi. Hal yang lebih penting adalah pengaturan. Misalnya, kalau ada banyak barang yang mau dikirim ke kota A menggunakan 20 truk kecil, sedangkan 20 truk itu masih memiliki ruang atau space yang kosong.

Maka itu, sangat mungkin melakukan efisiensi dari 20 truk kecil digabung menjadi tiga truk besar ke kota A. Hal yang dibutuhkan hanya terminal pengumpul. Infrastruktur seperti ini yang kita butuhkan di sektor logistik barang. Manfaatnya, kendaraan bisa dikurangi. Truk-truk kecil baru bisa dimanfaatkan di terminal pengumpul barang tadi.

Selain itu, biaya logistik pastinya bisa ditekan. Sekarang ini on time arrival logistik sangat bergantung pada faktor biaya. Namanya cost harus turun. Sedangkan namanya penda patan atau profit itu harus naik. Jadi, kita dari tahun ke tahun selalu mengalami desakan efisiensi. Sementara masalah kemacetan selalu menjadi momok bagi usaha logistik.

Bagaimana pandangan Anda mengenai biaya logistik di Indonesia yang masih tinggi?
Banyak anggapan, misalnya, kita kirim barang ke China ongkosnya USD100, tapi kirim barang ke Padang malah sampai Rp10 juta. Hal-hal seperti ini sering dikemukakan. Padahal sebenarnya tidak bisa dibuat apple to apple seperti itu. Kapal ke China itu frekuensinya tiap hari, sedangkan kapal ke Padang frekuensinya hanya seminggu sekali, bahkan kadang sebulan sekali atau kalau ada muatan. Jadi, itu membuat harga jeruk lokal dan jeruk impor berbeda jauh. Kalau ada konsistensi suplai, otomatis harga barang akan lebih stabil.

Sekarang ini eranya e-commerce. Bagaimana pengaruhnya terhadap sektor logistik?
Sangat besar pengaruhnya, tapi itu tidak sampai menghantam, justru menambah kreativitas kami. Sebab kunci di sektor usaha logistik ini ada pada kepercayaan konsumer. Aplikasi online sudah merambah sektor logistik. Konsumen pemilik barang masih memiliki kekhawatiran mengenai jaminan atau kepastian barang bisa sampai ke tempat tujuan. Kalau aplikasi kan hanya mengandalkan pemilik truk yang sifatnya perorangan. Sementara pemilik barang juga masih khawatir, selain barangnya terlambat sampai ke tujuan, kecenderungan barang milik konsumen hilang itu juga merupakan kerugian besar.

Bagaimana cara pemain logistik memanfaatkan peluang di era e-commerce ini?
Tentu kami melihat peluang besar di e-commerce ini. Bahkan, kami di Lookman Djaja Group sedang menjajaki kemungkinan-kemungkinan kerja sama dengan perusahaan aplikasi online yang menawarkan jasa antar barang. Cuma memang, saat ini perusahaan aplikasi masih menggarap pasar logistik yang sifatnya kecil. Seperti memindahkan barang rumahan dari satu tempat ke tempat lain. Sedangkan kami masih bergerak pada angkutan besar. Misalnya, bagaimana mengantar produk minuman dari satu vendor ke vendor lain dengan jumlah besar. Jadi, peluang dengan e-commerce itu masih besar untuk kami garap ke depan.

Anda bilang sektor logistik ini sangat memerlukan kepercayaan konsumen pemilik barang. Bisa dijelaskan lebih lanjut?
Harus ada kolaborasi antara kami dengan konsumen. Hubungan dengan customer itu penting sekali. Karena isunya pasti berkaitan dengan frekuensi, bagaimana cara kita meningkatkan frekuensi? Bagaimana cara kita meningkatkan kapasitas muat? Untuk meningkatkan frekuensi itu, menurut saya suatu momok tersendiri. Namun, se-Indonesia atau se-Jabotabek juga mengalami masalah sama, yakni kemacetan. Saya kirim lewat jalur Jakarta-Cikampek butuh tiga jam. Orang lain juga mengirim dengan frekuensi waktu yang sama. Tapi, saya pada konsumen bongkar enam jam, yang lain bongkar pada konsumen satu jam, tentu akan sangat membantu sekali. Nah, proses bongkar muat pada konsumen itu sangat penting sekali dikomunikasikan.

Apa harapan di sektor logistik ini. Hal apa yang masih perlu didorong?
Peringkat logistik kita mundur dari peringkat 53 ke 63. Kedua, biaya logistik masih sangat besar, yakni 24%. Kita masih truck oriented. Pengiriman masih bersifat point to point, belum ada konsolidator, terutama pusat-pusat terminal barang. Truk itu sifatnya bergantung jarak.
Truk kecil misalnya, jangan dioperasikan untuk jarak jauh, maka terminal barang ini akan memandukan ke tempat tujuan. Truk sebagai feeder terhadap angkutan moda lain.

Belum ada pusat-pusat intermoda. Kalau kita jarak berapa pun. Pertanyaannya, moda lain ada nggak yang bisa? Petani mau mengirim jeruk, masa pakai motor? Truk di Indonesia itu jumlahnya sekitar enam juta. Surabaya-Jakarta itu ada ribuan. Padahal tujuannya sama dan mungkin ada moda yang sebenarnya bisa lebih efektif. Integrasinya belum ada. Kalau mau maju lagi, pemerintah mendorong hub and spoke-nya di mana. Tapi, menjalankannya tidak semudah itu. Banyak hal harus dilalui dan ini butuh dukungan banyak pihak.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top