alexametrics

Rasio Kredit Macet BNI Turun Jadi 2,3% di 2017

loading...
Rasio Kredit Macet BNI Turun Jadi 2,3% di 2017
PT Bank Tabungan Negara Tbk (BNI) berhasil menurunkan rasio kredit macet (nonperforming loan/NPL) pada tahun 2017, dari sebelumnya 3,0% menjadi 2,3% di 2017. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BNI berhasil menurunkan rasio kredit macet (nonperforming loan/NPL) pada tahun 2017, dari sebelumnya 3,0% di 2016 menjadi 2,3% di 2017. Hal ini didukung oleh perbaikan yang dilakukan oleh perseroan dan beberapa nasabah yang dihapusbukukan (write off).

(Baca Juga: Naik 12%, Penyaluran Kredit BNI Capai Rp441,31 Triliun)

Direktur Utama BNI Ahmad Baiquni mengungkapkan, sejak 2015 pihaknya telah mencoba untuk melakukan restrukturisasi kredit yang bermasalah. Namun, banyak pula di antaranya yang gagal direstrukturisasi, sehingga perseroan memutuskan untuk menghapusbukukan nasabah tersebut.

"Hampir semua kredit yang kita write off itu kredit yang gagal restruct. Sejak 2015 itu kita melakukan pemurnian dari produktivitas, kan cukup banyak kredit yang kita downgrade jadi NPL. Terus kita coba restrukturisasi dan ada yang berhasil ada yang tidak," katanya dalam konferensi pers di Wisma BNI 46, Jakarta, Rabu (17/1/2018).

Menurutnya, hapus buku termasuk untuk Trikomsel yang juga mengalami kredit macet. Sejatinya, kata mantan petinggi BRI ini, pihaknya telah mencoba melakukan restrukturisasi terhadap Trikomsel. Namun ada keputusan dari Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) yang justru kurang menguntungkan bank, sehingga akhirnya perseroan memutuskan write off Trikomsel.

"Trikomsel sebenarnya merupakan debitur yang kita lakukan restruct secara internal. Tapi ada permohonan restruct dari PKPU. dan ada keputusannya. Hasil restruct PKPU dengan kita sepertinya kurang menguntungkan bank, sehingga kita lihat dengan kondisi seperti itu salah satu yang kita write off ya itu. Jadi write off 2017, kita restructnya 2016. kemudian keluar putusan dari PKPU," imbuh dia.

Direktur Keuangan dan Risiko Kredit BNI Rico Rizal Budidarmo menambahkan, penurunan NPL ini disebabkan karena sebagian besar nasabah tidak memiliki potensi untuk membayar utang. Sehingga, perseroan memutuskan untuk menghapusbukukan nasabah tersebut.

"Jadi itu (penurunan) terjadi karena sebagian besar nasabahnya itu tidak memiliki potensi tentu kita hapus bukukan. Kemudian berkaitan dengan nasabah yang memiliki prospek itu sekitar Rp30 triliun. Lalu persiapan yang direstrukturisasi itu sudah menunjukkan perbaikan dalam konteks yeild yang dilakukan. Hapus buku ada di angka Rp8 triliun," tandasnya.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak