alexametrics

Kualitas Produk Kalah Jadi Pemicu Ekspor Jatim Turun

loading...
Kualitas Produk Kalah Jadi Pemicu Ekspor Jatim Turun
Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur (Jatim) mencatat, pada Desember 2017, nilai ekspor Jatim turun 12,29% menjadi USD1,55 miliar. Foto/Ist
A+ A-
SURABAYA - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur (Jatim) mencatat, pada Desember 2017, nilai ekspor Jatim turun 12,29% menjadi USD1,55 miliar dari bulan sebelumnya sebesar USD1,77 miliar. Penurunan ini salah satunya akibat penurunan harga komoditi nonmigas.

Namun, Ketua Komite Tetap Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Multilateral dan Free Trade Agreement (FTA), Wahyuni Bahar mengatakan, ada banyak hal yang membuat ekspor Indonesia, terutama Jatim terus menurun beberapa tahun belakangan.

"Kualitas produk kita yang kalah jauh dibanding negara-negara pesaing. Utamanya soal kemasan (packaging), banyak pengusaha kita yang ekspor keluar negeri tapi barangnya ditolak. Ini karena packagingnya tidak penuhi standar internasional," katanya disela-sela sosialisasi perundingan perdagangan internasional (FTA) di Graha Kadin Jatim, Jumat (26/1/2018).

Kondisi ini diperburuk dengan lemahnya pemerintah dalam membuat perjanjian dagang dengan negara lain. Kalaupun ada perjanjian dagang, terkadang pengusaha dalam negeri tidak siap dengan perjanjian tersebut, sehingga kalah lagi bersaing dengan luar negeri.

"Soal ekspor, ada banyak sekali macam-macam perjanjian. Nah, kita kalah dalam soal perjanjian ini. Perjanjian ini penting agar tarif ekspor bisa murah. Sehingga, harga bisa bersaing, jika tidak ada perjanjian, harga barang menjadi mahal," tutur dia.

Ketua Gabungan Pengusaha Ekspor-Impor (GPEI) Jatim, Isdarmawan Asrikan menambahkan, penurunan ekspor Jatim disebabkan tiga hal. Pertama, kondisi pasar ekspor yang memang masih lesu.

Kedua, adanya hambatan untuk meningkatkan potensi ekspor yaitu biaya logistik dan peraturan yang kurang mendukung. Sehingga daya saing produk berkurang. Ketiga, kurangnya dukungan modal perbankan dalam pengembangan usaha berorientasi ekspor. "Bunga bank masih tinggi, double digit," ucapnya.

Dari persoalan tersebut, pengusaha harus mampu menciptakan pasar baru untuk menggairahkan pasar yang lesu ini. Kemudian, pemerintah harus membantu agar biaya logistik bisa serendah mungkin agar produk lokal bisa bersaing di pasar global.

Mayoritas produk ekspor di Jatim merupakan manufaktur atau perakitan. "Tahun ini kami optimistis ekspor akan naik hingga 10%. Ini karena peningkatan infrastruktur yang terus dilakukan pemerintah," ujarnya.

Ekspor nonmigas pada Desember 2017 turun menjadi menjadi 1,42 miliar dari bulan sebelumnya USD1,66 miliar. Ekspor non migas menyumbang 91,50% dari total ekspor di Desember 2017 dan ekspor migas naik 17,12% menjadi USD131,76 juta dibanding bulan sebelumnya USD112,50 juta. Kontribusi komoditi migas hanya 8,50% dari total ekspor Jatim pada Desember 2017.
(izz)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak